Dahlan Iskan: Produk INTI Bisa Saingi Samsung

“Jadi, orang impor handphone dengan bungkus dan kartonnya ternyata tanpa pajak. Sementara itu, kalau orang mau bikin handphone di dalam negeri, impor suku cadangnya dikenai pajak. Itu enggak hanya di sektor handphone, permesinan juga begitu. Semua mengalami seperti itu,” 

Dahlan Iskan - Handphone
JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, jika masalah pajak dibenahi maka produk dalam negeri bisa bersaing dengan industri dari luar. Bahkan, Dahlan yakin produk PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), bisa bersaing dengan produk raksasa elektronik seperti Samsung.

“Bisa, bisa. Kalau masalah perpajakannya bisa diatasi. Makanya kita harus benahi itu (masalah pajak, red),” ucap Dahlan usai menghadiri diskusi ‘How Much Is Your Brand Worth’ di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (17/9).Bahkan untuk mendorong produksi dalam negeri berkembang, Dahlan telah mendiskusikan hal itu pada Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

“Menurut Pak Gita, negara bisa dapat tambahan pemasukan Rp30 triliun satu tahun dan terlalu banyak handphone ilegal,” paparnya.

Mengenai adanya dua opsi soal dikenakannya Pajak Penjualan Barang Mewah (PPNBM) atau tidak, yang saat ini tengah diwacanakan pemerintah, Dahlan menyerahkan hal itu pada pemerintah. Yang penting, apapun nanti keputusannya, hal itu tidak menjadi beban bagi majunya produksi dalam negeri.

“Mana saja, saya enggak peduli caranya bagaimana, yang penting produksi Indonesia tetap jalan,” harap bekas Dirut PLN ini.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan agar wacana pemberlakuan PPnBM pada produk ponsel pintar (smartphone) dikaji ulang, mengingat banyaknya produk-produk ilegal yang selama ini masuk ke pasar dalam negeri.

“Saya mengusulkan wacana itu (pengenaan PPnBM) dikaji ulang. Karena PPnBM untuk produk smartphone justru akan memicu lonjakan produk ilegal atau selundupan di pasar dalam negeri,” kata Gita, usai mengikuti Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah 2013, di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta, beberapa hari lalu.

Menurut Gita, usulan mengkaji ulang PPnBM khusus bagi produk smartphone tersebut sudah disampaikan dalam Rapat Koordinasi dengan Menteri-Menteri Ekonomi, di Kantor Menko Perekonomian.(chi/jpnn)

pontianakpost.com

***

Kenapa Industri Ponsel Lokal Sulit Berkembang?

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengkritisi pengaturan pajak yang membuat industri dalam negeri sulit berkembang. Dia mencontohkan PT Inti (Persero) yang saat ini mengalami kendala dalam mengembangkan industri tablet dan smartphone.

“Jadi, orang impor handphone dengan bungkus dan kartonnya ternyata tanpa pajak. Sementara itu, kalau orang mau bikin handphone di dalam negeri, impor suku cadangnya dikenai pajak. Itu enggak hanya di sektor handphone, permesinan juga begitu. Semua mengalami seperti itu,” katanya.

Dahlan telah membahas masalah itu bersama Menteri Keuangan Chatib Basri. “Sudah saya sampaikan dan masih dibahas di sana. Tunggu pembahasannya,” kata Dahlan usai membuka seminar international bertajuk “How Much is Your Brand Worth?” di Jakarta, Selasa, 17 September 2013.

Saat ini Badan Kebijakan Fiskal sedang mengkaji pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk smartphone guna menekan impor handphone. Pemerintah belum satu suara. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, misalnya, keberatan dengan pungutan PPnBM untuk smartphone. Musababnya, kata dia, pajak akan membuat angka penyelundupan produk smartphone ilegal melonjak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor telepon seluler menempati rangking kelima dari total impor Indonesia. Sepanjang semester I 2013, nilai impor telepon seluler mencapai US$ 1,2 miliar. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2012 impor telepon genggam ini mencapai US$ 1,3 miliar.

Dahlan Iskan meyakini Indonesia bisa memproduksi telepon seluler sekelas Samsung asalkan pemerintah mampu membuat kebijakan perpajakan yang berpihak kepada industri dalam negeri.
“Sangat bisa bersaing. Kita punya PT Inti (Persero) yang sudah mampu memproduksi sendiri ponsel pintar, tapi selama ini sulit dikembangkan karena soal perpajakan,” kata Dahlan.

Menurut Dahlan, selama ini salah satu masalah yang dihadapi perusahaan dalam negeri adalah perpajakan. “Pengenaan pajak bagi industri seringkali malah mempersulit perusahaan untuk bertahan apalagi mengembangkan usaha. Kami prihatin bahwa beberapa bidang industri terkendala pajak,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan agar wacana pemberlakuan PPnBM kepada produk ponsel pintar (smartphone) dikaji ulang. PPnBM untuk produk smartphone dinilai justru akan memicu lonjakan produk ilegal atau selundupan di pasar dalam negeri. Untuk menahan laju importasi telepon seluler tersebut, Gita mengusulkan opsi lain, yaitu menggunakan pendekatan IMEI (International Mobile Equipment Identity).

Pendekatan IMEI butuh waktu karena tidak bisa serta-merta jaringan komunikasi ponsel ilegal tersebut langsung diputus seketika. Saat ini diperkirakan jumlah telepon seluler ilegal yang beredar di Tanah Air mencapai 70 juta unit.

ANANDA PUTRI | ANTARA

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/17/090514073/Kenapa-Industri-Ponsel-Lokal-Sulit-Berkembang

***

Dahlan prihatin PT INTI berhenti produksi ponsel lokal

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku prihatin berhentinya PT Inti memproduksi ponsel pintar. PT Inti terpaksa berhenti produksi lantaran terkena pajak yang cukup tinggi. Menurut Dahlan, pemberlakuan pajak membuat perusahaan di bawah naungan BUMN ini sulit bertahan.

“Ya, itu yang kita prihatin. Bahwa industri kita dalam negeri sulit di bidang-bidang tertentu. Sulit bertahan dan sulit maju karena perlakuan pajak yang seperti itu,” ujar Dahlan di Jakarta, Selasa (17/9).

Menurut Dahlan, pemerintah terkesan memberi perlakuan yang berbeda antara produk luar negeri dengan dalam negeri. Pemerintah bahkan rela menghilangkan pungutan impor untuk barang jadi dari luar negeri. “Jadi orang impor ponsel dengan bungkus dan kartonnya sekalian tanpa pajak. Sementara kalau mau bikin ponsel di dalam negeri, impor suku cadang pakai pajak. Pasti itu tidak bisa bersaing,” terang Dahlan.

Selanjutnya, Dahlan menerangkan, kondisi yang dialami oleh PT INTI ternyata juga terjadi pada BUMN yang bergerak di sektor lain. “Itu tidak hanya di ponsel, di permesinan juga begitu. Seperti Boma Bisma Indra, Barata. Semua mengalami itu,” ungkap dia.

Padahal, Dahlan merasa yakin jika produk ponsel pintar yang dihasilkan PT INTI sebenarnya dapat bersaing dengan produk dengan merek kenamaan seperti Samsung. Namun demikian, semua terhambat karena persoalan pajak. “Bisa (bersaing dengan Samsung). Kalau masalah perpajakannya bisa diatasi, kita harus bikin itu,” pungkas Dahlan.

[idr]

http://www.merdeka.com/uang/dahlan-prihatin-pt-inti-berhenti-produksi-ponsel-lokal.html

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: