Rekor dalam Hujan, Dahlan Ikut Angkat Pete

Semarak Puncak HUT ke-68 Tapteng

061707_717177_DAHLAN_joget_dlm

Ya, Sabtu (31/8), warga Tapteng memang berniat memacahkan rekor tari masal. Sedikitnya 20 ribu warga serentak martumba, tua muda kompak dalam ceria. “Dingin, tapi demi daerah kami ini ‘gak ada masalah,” ungkap seoang peserta Martumba yang berasal dari SMAN 1 Barus.

“Daripada panas, lebih enak dingin. Biar hujan yang penting senang,” timpal rekannya yang lain dengan wajah basah dan rambutnya yang kuyup.

Begitulah, sejak pukul 13.00 mereka memang telah berkumpul di lokasi yang ditetapkan. Tak tampak mimik tak puas, remaja-remaja itu bak mendapat hiburan tersendiri dari program Pemkab Tapteng tersebut.

Apalagi martumba semakin spesial dengan kehadiran Menteri BUMN Dahlan Iskan, Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, dan tentu saja sang Bupati Tapanuli Tengah Bonaran Situmeang. Ketiga pejabat beserta undangan lainnya pun berbaur martomba.

“Seperti ini hanya ada di Tapteng!” teriak Dahlan melalui pengeras suara darri Pantai Bosur yang suaranya terdengar hingga ke seluruh peserta. Teriakan itu pun langsung disambut gempita peserta martomba yang berada di Pantai Pandan dan sekitarnya.

Kalimat Dahlan setali tiga uang dengan wakil dari MURI. Sebelum memberikan sertifikat rekor yang berhasil dipecahkan, perwakilan MURI mengungkapkan kalau tari masal sepanjang 4 kilometer dengan 20 ribu peserta cukup fenomenal.

“Setahu saya, tidak ada di dunia ini tarian masal sebanyak ini. Dan luar biasanya, hal ini malah tercipta di Tapteng!” ungkapnya yang langsung disambut dengan aksi melompat ke air laut oleh ratusan remaja yang berada di Pantai Pandan.

Ya, martumba merupakan salah satu tarian khas dengan mengarahkan muda-mudi dan masyarakat. “Hal ini sebagai upaya untuk membudayakan salah satu tarian khas masyarakat kepada anak-anak Tapteng sejak usia dini,” jelas Kabag Humas Tapteng Iwan RM Sinaga.

Sebelum martumba, di Pantai Kalangan digelar acara puncak Kenduri Laut. Dahlan Iskan menjadi pusat perhatian. Apalagi ketika dia ikut membantu mengangkat hasil bumi yang dibawa warga. Saat itu defile alias iring-iringan warga dari salahsatu kecamatan yang ada di Tapteng membawa hasil bumi menaiki panggung. Hasil yang dibawa cukup banyak, terletak di sebuah wadah yang harus diangkat oleh empat orang.

Dahlan yang harusnya hanya menerima hasil bumi itu dengan menyalami warga langsung turun tangan. Dia memosisikan diri di sisi depan sebelah tangan dan ‘menyingkirkan’ warga yang memegang wadah. Sambil senyum ceria dia terlihat senang mengangkat wadah yang berisikan pete, padi, durian, hingga tandan buah sawit.

Tidak sampai di situ, di iringan yang lain, Dahlan pun tak segan-segan langsung memakan buah-buahan yang dibawa warga. Dengan terang-terangan, dalam lirikan Gatot dan Bonaran, Dahlan santai memakan pisang.

“Kalau yang itu kami sebut di sini terong penjajah, Pak,” ungkap pembawa acara ketika melihat Dahlan memperhatikan terong Belanda yang dibawa warga.

Dahlan pun langsung ngakak. Tanpa sungkan, dia pun langsung mengambil satu buah dan mengantunginya.

Setelah menerima iring-iringan warga, para undangan menikmati makan bersama sambil duduk lesehan. Sebelum makan bersama, Dahlan beserta Gatot, Bonaran, dan Wakil Bupati Tapteng Sukron Tanjung diupa-upa atau ditepungtawari pemuka adat yang ada di Tapteng.

Dalam tepungtawar ini, para pemuka adat berharap pada pejabat yang mereka berkati terus berupaya memperbaiki bangsa dan negara. Dan, tentu saja, meminta para pejabat agar jangan lupa dan terus memajukan Tapteng.

Kesuksesan acara puncak HUT ke-68 Tapteng membuat Bonaran, sang bupati tak bisa menutupi mimik puasnya. Bupati yang mencoba arah berbeda dari pendahulunya dalam memajukan Tapteng yakni melalui pariwisata itu begitu sumringah.

Jauh sebelum acara, dalam perbincangan dengan Sumut Pos (Grup JPNN), Bonaran secara terang-terangan mengungkapkan niatnya untuk menggelar acara sebanyak mungkin di Tapteng. Alasannya hanya satu yakni untuk memperkenalkan Tapteng secara nasional bahkan internasional. Itulah sebab, agenda demi agenda ia gagas.

“Sederhana saja, untuk menikmati sejuta pesona Tapteng dibutuhkan jalan yang bagus, maka fasilitas jalan harus dibenahi dan sekarang sudah terlihat pergerakannya. Selain itu, masyarakatnya harus pintar dan berwawasan luas. Artinya, masyarakat harus sekolah dan sekarang telah diberikan pendidikan gratis dan bermutu. Dengan kata lain, untuk menjadi negeri wisata, Tapteng harus berubah drastis dan siap serta harus didukung segala kemajuan di sektor lain,” jelas Bonaran saat itu.

Apa yang dilakukan Bonaran ternyata ditunggu masyarakat. Setidaknya, dalam dua tahun pemerintahaannya bersama Sukron, mereka telah memecahkan dua rekor MURI. Tahun sebelumnya, kabupaten yang memiliki hari jadi pada 24 Agustus 1945 itu berhasil mencatatkan nama sebagai daerah yang menggelar bakar ikan terpanjang di Indonesia yaitu sepanjang 7 kilometer. “Tahun depan apa lagi ya?” ujar pelajar dari Sorkam. (*)

***

Dahlan Iskan Menari Bareng 15 Ribu Orang

Ciptakan Rekor Dunia Martumba

TAPTENG – Hujan tidak menyurutkan semangat sekitar 15 ribu orang untuk bersama-sama memainkan tari martumba di Pantai Bosur-Lubuk Tukko, Tapanuli Tengah (Tapteng) kemarin sore (31/8). Dalam tempo 15 menit, rekor dunia martumba sepanjang 5 kilometer pun berhasil dicetak.

Menteri BUMN Dahlan Iskan didaulat menyerahkan piagam rekor dunia itu kepada Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang. Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho menyerahkan piagam serupa kepada Wakil Bupati Tapteng Sukran J. Tanjung.

Metro Siantar (JPNN Group) melaporkan, Dahlan dan Gatot ikut menari martumba di panggung utama. Sementara itu, Bupati Raja Bonaran Situmeang berbaur dengan ribuan penari di tepi pantai.

Deputi Manajer Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Damian Awan Rahargo menyebutkan, martumba masal yang dihelat untuk merayakan HUT Ke-68 Tapteng itu bukan hanya yang terbanyak dan terpanjang di Indonesia, tapi di dunia. “Kami tidak catatkan ini sebagai rekor Indonesia, tapi rekor dunia,” kata Damian.

Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang menyatakan sangat bangga dengan suksesnya perhelatan tersebut. “Momen ini sangat luar biasa. Ini kebanggaan tersendiri yang tak ternilai harganya bagi kami. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut serta dalam perhelatan akbar ini. Rekor dunia martumba ini untuk masyarakat Tapteng dan Sumut,” katanya.

Bonaran mengungkapkan, gagasan menggelar tari kreasi secara masal itu lahir dari kekhawatiran karena tarian khas dari Tapanuli itu hampir hilang. Tarian rakyat ini biasanya dibawakan para muda-mudi saat datang bulan purnama. “Budaya ini mulai tergerus zaman. Semoga melalui event ini martumba tetap lestari,” kata Bonaran. (mora/des/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2013/09/01/188741/Ciptakan-Rekor-Dunia-Martumba-

***

Semarak Puncak HUT ke-68 Tapteng

Rekor dalam Hujan, Dahlan Ikut Angkat Pete
REMAJA-remaja itu tampak tak terpengaruh pada hujan yang mengguyur. Gerakan enerjik dari martumba bak penghangat dari dingin air hujan dan hembusan angin di Pantai Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng).

Tidak di situ saja, warga Tapteng yang berkumpul di bibir pantai sepanjang 4 kilometer dari Lubuk Tukko hingga Pantai Bosur tak surut semangatnya. Semua demi rekor MURI.
———–
Ramadhan Batubara, Tapteng
———-
Ya, Sabtu (31/8), warga Tapteng memang berniat memacahkan rekor tari masal. Sedikitnya 20 ribu warga serentak martumba, tua muda kompak dalam ceria. “Dingin, tapi demi daerah kami ini ‘gak ada masalah,” ungkap seoang peserta Martumba yang berasal dari SMAN 1 Barus.

“Daripada panas, lebih enak dingin. Biar hujan yang penting senang,” timpal rekannya yang lain dengan wajah basah dan rambutnya yang kuyup.

Begitulah, sejak pukul 13.00 mereka memang telah berkumpul di lokasi yang ditetapkan. Tak tampak mimik tak puas, remaja-remaja itu bak mendapat hiburan tersendiri dari program Pemkab Tapteng tersebut.

Apalagi martumba semakin spesial dengan kehadiran Menteri BUMN Dahlan Iskan, Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, dan tentu saja sang Bupati Tapanuli Tengah Bonaran Situmeang. Ketiga pejabat beserta undangan lainnya pun berbaur martomba.

“Seperti ini hanya ada di Tapteng!” teriak Dahlan melalui pengeras suara darri Pantai Bosur yang suaranya terdengar hingga ke seluruh peserta. Teriakan itu pun langsung disambut gempita peserta martomba yang berada di Pantai Pandan dan sekitarnya.

Kalimat Dahlan setali tiga uang dengan wakil dari MURI. Sebelum memberikan sertifikat rekor yang berhasil dipecahkan, perwakilan MURI mengungkapkan kalau tari masal sepanjang 4 kilometer dengan 20 ribu peserta cukup fenomenal.

“Setahu saya, tidak ada di dunia ini tarian masal sebanyak ini. Dan luar biasanya, hal ini malah tercipta di Tapteng!” ungkapnya yang langsung disambut dengan aksi melompat ke air laut oleh ratusan remaja yang berada di Pantai Pandan.

Ya, martumba merupakan salah satu tarian khas dengan mengarahkan muda-mudi dan masyarakat. “Hal ini sebagai upaya untuk membudayakan salah satu tarian khas masyarakat kepada anak-anak Tapteng sejak usia dini,” jelas Kabag Humas Tapteng Iwan RM Sinaga.

Sebelum martumba, di Pantai Kalangan digelar acara puncak Kenduri Laut. Dahlan Iskan menjadi pusat perhatian. Apalagi ketika dia ikut membantu mengangkat hasil bumi yang dibawa warga. Saat itu defile alias iring-iringan warga dari salahsatu kecamatan yang ada di Tapteng membawa hasil bumi menaiki panggung. Hasil yang dibawa cukup banyak, terletak di sebuah wadah yang harus diangkat oleh empat orang.

Dahlan yang harusnya hanya menerima hasil bumi itu dengan menyalami warga langsung turun tangan. Dia memosisikan diri di sisi depan sebelah tangan dan ‘menyingkirkan’ warga yang memegang wadah. Sambil senyum ceria dia terlihat senang mengangkat wadah yang berisikan pete, padi, durian, hingga tandan buah sawit.

Tidak sampai di situ, di iringan yang lain, Dahlan pun tak segan-segan langsung memakan buah-buahan yang dibawa warga. Dengan terang-terangan, dalam lirikan Gatot dan Bonaran, Dahlan santai memakan pisang.

“Kalau yang itu kami sebut di sini terong penjajah, Pak,” ungkap pembawa acara ketika melihat Dahlan memperhatikan terong Belanda yang dibawa warga.

Dahlan pun langsung ngakak. Tanpa sungkan, dia pun langsung mengambil satu buah dan mengantunginya.

Setelah menerima iring-iringan warga, para undangan menikmati makan bersama sambil duduk lesehan. Sebelum makan bersama, Dahlan beserta Gatot, Bonaran, dan Wakil Bupati Tapteng Sukron Tanjung diupa-upa atau ditepungtawari pemuka adat yang ada di Tapteng.

Dalam tepungtawar ini, para pemuka adat berharap pada pejabat yang mereka berkati terus berupaya memperbaiki bangsa dan negara. Dan, tentu saja, meminta para pejabat agar jangan lupa dan terus memajukan Tapteng.

Kesuksesan acara puncak HUT ke-68 Tapteng membuat Bonaran, sang bupati tak bisa menutupi mimik puasnya. Bupati yang mencoba arah berbeda dari pendahulunya dalam memajukan Tapteng yakni melalui pariwisata itu begitu sumringah.

Jauh sebelum acara, dalam perbincangan dengan Sumut Pos (Grup JPNN), Bonaran secara terang-terangan mengungkapkan niatnya untuk menggelar acara sebanyak mungkin di Tapteng. Alasannya hanya satu yakni untuk memperkenalkan Tapteng secara nasional bahkan internasional. Itulah sebab, agenda demi agenda ia gagas.

“Sederhana saja, untuk menikmati sejuta pesona Tapteng dibutuhkan jalan yang bagus, maka fasilitas jalan harus dibenahi dan sekarang sudah terlihat pergerakannya. Selain itu, masyarakatnya harus pintar dan berwawasan luas. Artinya, masyarakat harus sekolah dan sekarang telah diberikan pendidikan gratis dan bermutu. Dengan kata lain, untuk menjadi negeri wisata, Tapteng harus berubah drastis dan siap serta harus didukung segala kemajuan di sektor lain,” jelas Bonaran saat itu.

Apa yang dilakukan Bonaran ternyata ditunggu masyarakat. Setidaknya, dalam dua tahun pemerintahaannya bersama Sukron, mereka telah memecahkan dua rekor MURI. Tahun sebelumnya, kabupaten yang memiliki hari jadi pada 24 Agustus 1945 itu berhasil mencatatkan nama sebagai daerah yang menggelar bakar ikan terpanjang di Indonesia yaitu sepanjang 7 kilometer. “Tahun depan apa lagi ya?” ujar pelajar dari Sorkam. (*)

DAHLAN CHICKEN- Meneg BUMN Dahlan Iskan menarikan tarian khas dan unik ‘Dahlan Chicken Style’ yang diikuti puluhan ribu massa yang membanjiri Pantai Bosur Pandan, Tapteng, Sumut, Sabtu (31/8). FOTO:MARIHOT SIMAMORA/JPNN

http://www.jpnn.com/read/2013/09/01/188729/Rekor-dalam-Hujan,-Dahlan-Ikut-Angkat-Pete-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: