Dikeluhi Petani Empon-Empon, Dahlan Iskan Beri Solusi

“Banyak yang menanam empon-empon, tapi sulit menjualnya. Jadi, kami biarkan begitu saya tidak dipanen,”  

Dahlan Iskan - Empon Empon

SEMARANG – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bertemu dengan petani empon-empon Kabupaten Semarang, Selasa (27/8) pagi. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk halal bihalal tersebut digelar di museum dan Taman Djamu Indonesia (TDI) Nyonya Meneer di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Saat dialog, Dahlan langsung memberi kesempatan kepada para petani untuk mengungkapkan masalah yang mereka hadapi.  Kontan, kesempatan itu dimanfaatkan oleh para petani.

Seperti yang diungkapkan Hasanudin, 38. Petani asal Dusun Getas Kumbang, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, itu mengaku selama ini sulit menjual empon-empon hasil panen mereka.

“Banyak yang menanam empon-empon, tapi sulit menjualnya. Jadi, kami biarkan begitu saya tidak dipanen,”  kata Hasanuddin. Dia juga mengungkapkan kesulitan air yang kadang membuat lahan produktif mereka tidak bisa menghasilkan panen maksimal.

Dahlan yang datang beserta anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI TB Silalahi dan didampingi Presiden Direktur Nyonya Meneer Charles Saerang, langsung tanggap. Dia  memberi sejumlah solusi dan saran-saran untuk memajukan pertanian di Kabupaten Semarang.

Dahlan iskan berjanji akan mengirim tim dari Kementerian BUMN untuk melakukan penelitian masalah yang dihadapi para petani tersebut.  (RaSe/medcen)

dahlaniskan.net

***

Pengembangan Empon-Empon di Semarang

SEMARANG — Menteri BUMN Dahlan Iskan menilai potensi empon-empon sebagai tanaman obat di tanah air sangat besar. Kondisi itu sangat mendukung industri jamu tradisional yang mampu eksis, bahkan di tengah terpaan krisis ekonomi global.

Karena itu, lanjut dia, sejak tahun lalu kementerian BUMN telah menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan empon-empon di berbagai wilayah. Salah satu wilayah yang dianggap cocok untuk pengembangan empon-empon adalah Semarang.

“Dari hasil penelitian, empon-empon bisa bermutu tinggi jika ditanam di wilayah (Kabupaten) Semarang bagian atas ini. Karenanya, kita akan mengembangkan tanaman ini di sini,” kata Dahlan Iskan saat bertemu dengan ratusan petani empon-empon di Taman Djamu Indonesia (TDI), Semarang, Selasa (27/8).

Pimpinan TDI, Charles Saerang, menambahkan, TDI dibangun sebagai tempat budidaya aneka tanaman obat tradisional. Ratusan jenis tanaman obat ditanam untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang.

Usai berdialog dengan petani, Dahlan menanam pohon Pronojiwo (Euchresta horsfieldii) di areal TDI. Tanaman tersebut merupakah salah satu tanaman obat langka berasal dari Pegunungan Tengger, Jatim. Sedangkan Plt Sekda Jateng Sri Puryono menanam tanaman obat langka lainnya, yakni jenis Jati Belanda. (medcen)

dahlaniskan.net

***

Dahlan ingin BUMN ikut kembangkan industri jamu

dahlan-ingin-anak-buahnya-ikut-kembangkan-industri-jamu

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berencana menugaskan BUMN untuk terlibat secara langsung dalam upaya pengembangan produksi dan industri jamu di Tanah Air. BUMN akan terlibat dalam kegiatan pengembangan bahan baku jamu di beberapa petani yang tersebar di pelosok desa.

“Saya akan tugaskan beberapa perusahaan BUMN untuk turun dan bisa mengetahui bahwa tanaman empon-empon sangat bermanfaat untuk kesehatan. Perusahaan BUMN itu terutama terkait mencari kandungan serta manfaat jamu yang akan dikembangkan sebagai obat modern,” ungkap Dahlan saat dialog dengan 300 petani di acara halal bi halal Dahlan Iskan bersama petani empon-empon di Bergas, Ungaran, Semarang, Jateng, Selasa (27/8).

BUMN ini nantinya akan memantau secara langsung, kegiatan para petani yang dilakukan di masing-masing kebun maupun halaman sekitar rumahnya dengan cara menanam pohon obat. Penanaman tanaman obat ini disesuaikan dengan kondisi kesehatan keluarga masing-masing.

“Jadi lebih baik jika tukang membuat jamu meminum jamunya sendiri,”ungkap Dahlan.

Dahlan mengatakan memang selama ini program penanaman tanaman obat seperti apotek hidup, yang biasa disebut toga, masih berjalan. Namun, sepenuhnya program toga itu belum terarah dengan baik.

“Sehingga diarahkan ‘toga spesialis’. Sehingga bisa terarah. Cuman satu minggu untuk lakukan penelitian. Jangan sakit diabetes tapi tanaman yang ditanam untuk darah tinggi. Saya dapat inspirasi dari pertemuan ini. Sehingga bila itu terealisasi orang yang jatuh sakit di desa itu dapat dikurangi,” pungkasnya.

[bmo]

merdeka.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: