Dahlan: Ekonomi RI Terganjal Minimnya Pelabuhan

“Ekspor komitmen yang tinggi sangat perlu. Ini bisnis bagus kalau didengarkan, masalahnya infrastruktur, pelabuhan kita terlalu kecil. Trend sekarang kapal semakin besar karena efisien,”

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, ekspor menjadi ladang bisnis yang bagus. Namun saat ini, kendala yang dihadapi Indonesia yaitu terdapat pada infrastruktur. Di mana, infrastruktur pelabuhan Indonesia masih kecil yang tidak mampu mengimbangi trend kapal yang semakin besar.

“Ekspor komitmen yang tinggi sangat perlu. Ini bisnis bagus kalau didengarkan, masalahnya infrastruktur, pelabuhan kita terlalu kecil. Trend sekarang kapal semakin besar karena efisien,” kata Dahlan di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (19/8/2013).

Dahlan menjelaskan, seperti contoh pengeksporan CPO Indonesia yang harus memalui Singapura. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya armada yang besar. “CPO kirim Singapura dulu. Karena tidak ada pesawat besar. Kuala Tanjung langsung khusus untuk CPO,” tambahnya.

Selain itu, kata Dahlan, tidak adanya kapal yang berkapasitas diatas 8.000 masuk ke Jakarta. Pasalnya, ekspor yang terjadi antarbenua berada pada kapasitas 18.000 dengan rata-rata 3.000 kapasitas.

Dengan begitu, Dahlan mengungkapkan pelabuhan Indonesia seperti di Medan, Batan, Dumai, Jakarta, Makasar, dan Sorong memiliki peranan sangat besar dalam kurun waktu dua tahun.

“Medan, Batam, Dumai, Jakarta, Makasar, dan Sorong. Peranan sangat besar kejadian dalam waktu dua tahun, dan Jalur mulai dari Belawan, beberapa lalu sudah mulai,” tutupnya. (wan) (wdi)

okezone.com

***

Ketidaksiapan Infrastruktur Pelabuhan, Memperlambat Perekonomian

Jakarta, GATRAnews – Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengatakan bahwa ketidaksiapan infrastruktur pelabuhan di Indonesia, yang masih tertinggal jauh, berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Singapura dan Cina itu sudah banyak infrastruktur pendukungnya. Sedangkan infrastruktur pelabuhan di Indonesia masih kecil, dan tidak mampu mengimbangi trend kapal yang semakin besar. Semakin besar kapal, maka semakin efisien,” ujar Dahlan Iskan, di Jakarta, seperti dilaporkan Antara, Selasa (20/8).

Menurut mantan Direktur PLN itu, dalam waktu dekat akan ada perubahan besar di pelabuhan Indonesia untuk menunjang ekspor ke luar negeri. “Misalnya, untuk untuk mengirim CPO ke China atau Eropa saja, Indonesia harus melalui Singapura terlebih dahulu, karena pelabuhannya mampu menampung kapal besar yang kemudian baru di angkut ke Eropa,” ujarnya.

Karena itu, lanjut dia, pemerintah membuat pelabuhan besar di Indonesia yaitu Kuala Tanjung. Nantinya bisa langsung khusus untuk CPO. “Tidak apa-apa pemegang saham beberapa ada Malaysia, ini nanti biar mereka ikut ekspor dari situ,” katanya.

Untuk menunjang barang ekspor lainnya, kata dia, pihaknya juga segera akan mengoperasikan beberapa pelabuhan besar yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Pelabuhan tersebut juga tersebar dari Indonesia bagian barat hingga ke bagian timur.

“Hal tersebut akan meningkatkan ekspor secara nyata. Sekarang tidak ada pelabuhan kita bisa menampung kapal kapasitas di atas 8.000. Sedangkan ekspor antar benua saja sudah 18.000. Nanti kita kembangkan dari Medan, Batam, Dumai, Jakarta, Makassar, dan Sorong. Peranan sangat besar kejadian dalam waktu dua tahun. Dan Jalur mulai dari Belawan, beberapa lalu sudah mulai,” jelas Dahlan Iskan.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan bahwa pertumbuhan enam persen stabil hanya akan tercapai jika masalah kepelabuhan dapat teratasi. “Jika infrastruktur ekspor dan impor masih buruk susah kita mau capai enam persen,” ujar dia beberapa waktu lalu.

Masalah kepelabuhanan, menurut dia, terkait masalah pengurusan dokumen dan percepatan perizinan ekspor. Ditambah dengan kemudahan dan percepatan masa tunggu serta pengelolaan kontainer agar tidak terpusat di satu tempat.

“Masalah dokumen dan pengelolaan kontainer agar tidak hanya di Tanjung Priok tetapi juga bisa dialihkan ke pelabuhan lainnya, yang masih jadi perhatian adalah penumpukan dokumen di pelabuhan,” tuturnya.

Setelah itu, pengurusan pelabuhan bisa diperbaiki lagi. Ia menambahkan dalam beberapa tahun mendatang, pemerintah harus membangun pelabuhan berikut fasilitasnya.

“Minimal satu pelabuhan dalam tiga-lima tahun sekali, jadi pelabuhan kita juga semakin banyak, namun perbaikan fasilitas pelabuhan ditingkatnya dahulu, kalau marketnya sudah ada kita bisa tambah pelabuhan lagi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga semester I-2013 hanya 5,8%. Nilai ini lebih rendah dari prediksi pemerintah semula sebesar 6,1%. (*/DKu)

gatra.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: