Dahlan Iskan Ziarah ke Makam Syekh Burhanuddin

Sutan Zaili
Oleh : H. Sutan Zaili Asril, Wartawan Senior

Ketika berkunjung ke Ranah Minang, 24 Juli 2013 lalu, menghadiri undangan Refrizal, anggota DPR-RI dari Partai Keadilan Se­jah­tera (PKS) daerah pe­milihan provinsi Su­matera Barat, acara bedah 20 lepau di Pa­ria­man, Cucu Magek Dirih stand by (ikut menjemput ke BIM, ada di dekatnya—sewaktu-waktu ia membutuhkan, dan memberikan informasi sejauh ada perlunya).

Dan, tak sesuai rencana, dari BIM, mempersingkat waktu, kami (Refrizal bersama Cucu Magek Dirih) membawa rombongan melalui Kataping, Ulakan, dan Sunur. Jalan memintas ke Pariaman—semula lewat Lubukalung-Pauhkambar-Kuraitaji. Cucu Magek Dirih memberitahu Pak DIS—begitu Cucu Magek Dirih menyebut akronim singkatan nama Dahlan Iskan dengan tembusan kepada Sesprinya Abdul Aziz, bahwa jalan memintas menyusur pantai barat itu melalui Ulakan, di mana terdapat kuburan ulama besar Syekh Burhanuddin dan pusat Syattariyah Minangkabau, tempat yang sejak lama ingin dikunjungi Pak DIS.

Cucu Magek Dirih menelepon Refrizal (semobil/duduk di sisi Pak DIS) menyampaikan hal sama. Rupanya, ia semaksud. Rombongan berhenti di kompleks makam Syekh Burhanuddin. Turun dari mobil Dahlan berjalan bergegas menuju makam masuk makan, duduk di bagian sudut sisi sebelah kanan makam (dari arah pintu masuk). Seperti seorang tuangku, ia memulai berdoa, lalu ratik (berzikir/berzanzi) membaca la ilaha ila Allah dengan fokus/konsentrasi dengan kedua matanya terkatup rapat. Ia asyik/tenggelam membaca kalimat dzikir la ilaha ila Allah 1.000 kali. Dahlan ratik agak cepat, dan terkadang suaranya meninggi. Cucu Magek Dirih merasa bulu romanya berdiri, menyaksikan Dahlan Iskan ratik layaknya seorang tuangku di surau-surau/masjid-masjd Syattariyah. Usai ratik 1.000 la ilaha ila Allah, ia komat-kamit menutup doa/zikir­nya. Lalu, Dahlan meminta, Abdul Aziz, mendoa. Keluar makam, Dah­lan tak segan mengatakan ke war­tawan, ayah-ibunya Syat­tariyah—pendidikan Islam Dahlan sampai perguruan tinggi. Tak lupa me­ngi­ngatkan wartawan, Syattariyah bukan ormas, tapi, aliran tariqah.

Ketika berbicara di hadapan kha­layak di Islamic Centre Paria­man, Dahlan tak sungkan menceritakan, betapa ia sangat berbahagia karena salah satu keinginannya, berziarah ke makan Syekh Burhanuddin/mendoa di makamnya, sudah ter­kabul/dapat dilakukannya. Dahlan menyebut, ia sudah tahu/menyebut nama ulama Syekh Burhanuddin, berbarengan nama Sykeh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Abul Rauf. Dahlan sudah berziarah ke makam Abdul Qadir Jailani dan Syekh Abdul Rauf. Berziarah ke makam Syekh Burhanuddin baru dapat dila­ku­kannya. Kepada Cucu Magek Dirih, sebelumnya, sekitar tiga tahun lalu, Dahlan menyampaikan salah satu keinginannya datang berkunjung ke pusat Syattariyah di Minangkabau. Waktu itu ia baru jadi direktur utamaT PLN. Lalu, karena kesi­bukan dan tidak mudah mengatur jadwal berkunjung ke Sumatera Barat/ke Ulakan—apalagi Dahlah sudah jadi Meneg BUMN, keinginan itu belum dapat terlaksana. Al­hamudlillah, niat Dahlan berziarah ke makam Syekh Burhanuddin kini sudah terlaksana.

BAGI Cucu Magek Dirih, nama H Dahlan Iskan—selengkapnya Dr. HC. H. Dahlan Iskan, sudah dike­ta­huinya sejak masih mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama islam Negeri (PBA-FT-IAIN) Imam Bonjol Padang (tahun 1974). Saat itu, Dahlan Iskan masih jadi war­tawan/kemudian kepala Biro Ban­dung Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo. Lalu, ia dipindahkan ke Surabaya, dan memimpin Harian Umum Jawa Pos Surabaya. Dahlan Iskan tidak saja mampu mem­besarkan Harian Umum Jawa Pos—bahkan sampai dengan tiras beredar yang lebih besar dari Harian Pagi Kompas Jakarta—Jawa Pos juga menggarap lebih intensif pasar surat kabar untuk Surabaya sekitarnya dibandingkan Harian Pagi Kompas untuk Jakarta sekitarnya, juga membangun Jawa Pos menjadi Jawa Pos Group dengan 140-an surat kabar harian/tabloid/majalah, dengan puluhan jaringan percetakan pers, dan kemudian juga puluan stasiun TV lokal swasta. Semua terserak di ibukota provinsi dan kota/kabupaten di nusantara.

Personally, Dahlan Iskan bagi Cucu Magek Dirih secara gede rumongso/over confident, adalah ”sesama orang surau”. Cucu Magek Dirih selalu menyebut dirinya seba­gai orang surau, pernah mengenyam pendidikan surau di surau Kiam­bang, kenagarian Pakanbaru, Ke­ca­matan 2 x 11 VI Lingkung Kabupaten Padangpariaman, dan selepas se­kolah rakyat (sekolah dasar), masuk ke pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun Padang/PGAN 6 Tahun Padang, jurusan PBA FT IAIN Imam Bonjol Padang. Dahlan Iskan adalah seorang santri sejati sejak ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, dan masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Sa­ma­rinda—hanya 2,5 tahun/tidak tamat. Di belakang hari, Dahlan Iskan memperoleh Anugerah Gelar Ke­hormatan Doctor Honoris Causa (DR HC) IAIN Walisongo Semarang atas ”kerja keras dan ketekunannya berdakwah di jalur yang sulit melalui tulisan-tulisannya”. Dahlan mem­bawakan pidato ilmiah ber­judul ”Dakwah Bil Hal: Korporatisasi Usaha Individual Umat Menuju Indonesia Modern”. Jadi, Cucu Mage Dirih dan Pak DIS sama-sama ”orang surau” yang jadi wartawan.

Juga karena sikap Dahlan Iskan sendiri yang memesona Cucu Magek Dirih. Tidak pernah menunjukkan diri sebagai seorang bos/atasan dan menunjukkan rasa sungkan dila­yani—walaupun sebagai stafnya wa­jar ia dilayani. Kehidupannya di mata Cucu Magek Dirih sangat sufistik. Hidupnya bersahaja dan apa adanya/sangat sederhana—walaupun ia layak saja menikmati hasil jerih-payahnya. Ia tidak ber­basa-basi/tidak suka dengan basa basi, sangat realistis, dan juga sangat rasional. Kalau ada staf yang salah harus mengakui diri salah, dan setelah itu lupakan, berkonsentrasi untuk perbaikan. Dahlan orang yang opened mind, sangat menghargai pandangan, ide/gagasan, dan so­lusi—walau kecil/simple. Ia tidak pernah memaksakan pandangan/pendapat/kehendaknya—walau hal itu mungkin/pantas saja dila­ku­kannya. Dahlan bahkan ber­sedia melayani stafnya berdebat dalam forum rapat terbuka sampai stafnya menerima kenyataan. Last but not least, Dahlan seorang yang sangat rendah hati, menghargai orang lain, tidak segan meminta maaf—tentu saja ia sangat pemaaf. Dalam pan­dangan Cucu Magek Dirih, Dah­lan pula, adalah seorang muslim yang sangat bersyukur.

SECARA umum/manusiawi, se­bagian besar kita—rakyat Indonesia—mengenal seorang tokoh bernama Dahlan Iskan. Tokoh yang lahir di Magetan Jawa Timur 17 Agustus 1951 itu adalah seorang wartawan. Ia memulai karir jadi calon reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda (1975), tahun 1976 menjadi wartawan MBM Tempo, dan tahun 1982 Dahlan Iskan memimpin Jawa Pos sampai jadi chief executive officer (CEO) Jawa Pos Group (JPG), kantor pusat di Surabaya. Karir Dahlan Iskan di pemerintahan, jadi Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Sejak tanggal 19 Oktober 2011, reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat jadi Men­teri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN). Sebelum menjadi direktur utama PT PLN, sejak awal 2009, Dahlan Iskan menjadi Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC), perusahaan yang membangun Sambungan Ko­munikasi Kabel Laut (SKKL). SKKL menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong dengan panjang serat optik 4.300 kilometer.

Dahlan dibesarkan di lingkungan pedesaan dalam kondisi serba keku­rangan. Orangtua Dahlan Iskan tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya me­milih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena ber­tepatan dengan peringatan ke­mer­dekaan Republik Indonesia. Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul ”Ganti Hati” pada tahun 2008. Buku ini berisikan tentang pengalaman Dahlan dalam melakukan operasi cangkok hati di Tianjin Cina. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya. Ia masih menjabat Meneg BUMN—insya Allah sampai masa kabinet Indonesia Bersatu II berakhir November 2014 nanti. Terakhir, sebagian rakyat Indonesia memandang Dahlan Iskan pantas menjadi presiden RI periode 2014-2019.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang saat itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu lima tahun jadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, 40 jaringan percetakan di Indonesia. Tahun 1997, ia mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan gedung serupa di Jakarta. Tahun 2002, mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang diikuti Riau TV di Pekanbaru, Batam TV di Batam, dan Padang TV di Padang. Satu subgrup JPG ada di Padang: Padang Ekspres (Padek) Group. Terdiri atas tiga surat kabar harian: Harian Umum Padang Ekspres (PT Padang Inter­media Pers), Koran Posmetro Pa­dang (PT Posmetro Padang Pers), Harian Rakyat Sumbar di Bukit­tinggi (PT Rakyat Sumbar Pers); stasiun TV lokal swasta: Padang TV (PT Padang Media Televisi), Triarga TV (PT Triarga Media Televisi), Dharmasraya TV (PT Dharmasraya Media Televisi); portal Padang Today (PT Padang Ruangmedia Infor­matika), percetakan pers (PT Pa­dang Graindo Mediatama), Ma­jalah Semi Analisis Bulanan SAGA, tabloid Offline, dan tabloid Rantau (PT Minang Alam­media Nusantara), dan be­be­rapa anak perusahaan lain. Secara ope­rasional, Padang Ekspres Gro­up, di mana Cucu Magek Dirih ber­khid­mat, berada di bawah ko­or­dinasi Riau Pos Group (RPG) se­bagai subgrup langsung di bawah RPG berkedudukan di Pekanbaru.

BAGI keluarga besar JPG de­ngan semua subgrup dan anak-anak perusahaan media di seantero nu­san­tara, tidak terbayang jika satu saat Dahlan Iskan masuk ke lingkungan pemerintahah. Sejak akhir tahun 2009, Dahlan Iskan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar, yang dikritik karena selama kepemimpinannya sering terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Sejak memimpin PLN, Dahlan Iskan membuat beberapa gebrakan, di antaranya, bebas byarpet se-Indonesia dalam waktu enam bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun pembangkit lisrik tenaga surya (PLTS) di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di lima pulau di Indonesia bagian Timur, yaitu Pulau Banda Maluku, Bunaken Manado Sulawesi Utara, Derawan Kalimantan Timur, Wa­katobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan Lombok Nusa Teng­gara Barat.

Menjelang dua tahun jadi direk­tur utama PT PLN, tanggal 17 Ok­tober 2011, Dahlan pun ditunjuk menggantikan Menteri BUMN Mus­tafa Abubakar yang sakit. Ia terisak/terharu dirinya dipanggil menjadi Meneg BUMN karena berat mening­galkan PLN yang menurutnya se­dang di puncak semangat me­la­kukan reformasi. Dahlan me­lak­sanakan beberapa program dalam pengelolaan BUMN. Program utama adalah restrukturisasi aset dan downsizing (penyusutan jumlah) sejumlah badan usaha. Res­truk­turisasi menunggu setuju Men­teri Keuangan. Beberapa kinerjanya disorot. Ia dianggap gagal membawa lima perusahaan BUMN melepas saham perdana (initial public offering/IPO) di lantai bursa. Berkat kepemimpinannya, BUMN dinilai bersih dari korupsi merupakan kinerja/keberhasilannya mem­ba­ngun BUMN. Dahlan giat men­dukung program mobil nasional berpenggerak listrik. Tanggal 5 Januari 2013, ia mengalami kece­lakaan saat mengendarai mobil list­rik Tucuxi di kawasan Ta­wang­mangu, Jawa Timur. Alham­dulillah Dahlan Iskan selamat, walauun mobil listriknya remuk. (*)

***
http://padangekspres.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: