Kupasan MH86 – Anomali Cuaca, Petani Garam Gigit Jari

”Karena hujan masih banyak, otomatis penggarapan lahan garam belum bisa dilakukan,”
Dahlan Iskan - Garam Hujan

Anomali cuaca yang melanda berbagai daerah di Indonesia telah berdampak pada nasib petani garam. Akibat hujan yang kerap turun di musim kemarau ini, para petani garam hanya bisa gigit jari.

”Karena hujan masih banyak, otomatis penggarapan lahan garam belum bisa dilakukan,” ujar seorang petani garam dari kelompok tani garam Kecamatn Losarang, H Juendi, kemarin. Juendi mengatakan, dalam kondisi normal, penggarapan lahan garam seharusnya sudah dimulai sejak awal Juni lalu. Namun hingga kini, lahan garam masih belum bisa diolah.

Untuk bertahan hidup, lanjut Juendi, para petani garam mengandalkan garam simpanan saat musim panen tahun lalu. Garam tersebut dijual secara bertahap sesuai kebutuhan. ”Tapi karena dijual terus menerus, garam simpanan petani kini sudah mulai habis,” tutur Juendi.

Meskipun begitu, Juendi mengaku bersyukur karena garam simpanan petani dihargai sebesar Rp 550 per kg. Padahal, saat musim panen raya, harga garam petani biasanya hanya berkisar Rp 300 per kg. ”Harga garam simpanan ini memang dihargai cukup tinggi,” tutur Juendi.

Juendi menambahkan, penjualan garam simpanan memang hanya bisa dilakukan para petani garam bermodal besar. Sedangkan buruh tani garam, tidak memiliki simpanan garam karena langsung dijual saat panen. ”Mereka jadi alih profesi menjadi buruh tani padi,” kata Juendi.

Juendi menyebutkan, di Kabupaten Indramayu terdapat tiga titik sentra garam yang saat ini kondisinya sama. Selain di Kecamatan Losarang, sentra garam lainnya terdapat di Kecamatan Kandanghaur dan Krangkeng.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Pujiono, menyatakan, anomali (penyimpangan) cuaca diprediksi akan terjadi sepanjang tahun ini. Karenanya, musim kemarau sekarang diikuti dengan curah hujan yang cukup tinggi.

http://www.republika.co.id

***

Petani Garam Indramayu Keluhkan Hujan Lebat

Indramayu, Seruu.com – Anomali cuaca yang melanda berbagai daerah di Indonesia telah berdampak pada nasib petani garam. Akibat hujan yang kerap turun di musim kemarau ini, para petani garam hanya bisa gigit jari.
”Karena hujan masih banyak, otomatis penggarapan lahan garam belum bisa dilakukan,” ujar seorang petani garam dari kelompok tani garam Kecamatan Losarang, H Juendi, kepada Wartawan, Jumat (19/7/2103).

Juendi mengatakan, dalam kondisi normal, penggarapan lahan garam seharusnya sudah dimulai sejak awal Juni lalu. Namun, hingga kini lahan garam masih belum bisa diolah.

Untuk bertahan hidup, lanjut Juendi, para petani garam mengandalkan garam simpanan saat musim panen tahun lalu. Garam tersebut dijual secara bertahap sesuai kebutuhan. ”Tapi, karena dijual terus menerus, garam simpanan petani kini sudah mulai habis,” tutur Juendi.

Juendi mengaku bersyukur karena garam simpanan petani dihargai sebesar Rp 550 per kg. Padahal, saat musim panen raya, harga garam petani biasanya hanya berkisar Rp 300 per kg. ”Harga garam simpanan ini memang dihargai cukup tinggi,” tutur Juendi.

Juendi menambahkan, penjualan garam simpanan memang hanya bisa dilakukan para petani garam bermodal besar. Sedangkan, buruh tani garam tidak memiliki simpanan garam karena langsung dijual saat panen. ”Mereka jadi alih profesi menjadi buruh tani padi,” kata Juendi.

Juendi menyebutkan, di Kabupaten Indramayu terdapat tiga titik sentra garam yang saat ini kondisinya sama. Selain di Kecamatan Losarang, sentra garam lainnya terdapat di Kecamatan Kandanghaur dan Krangkeng.

Kesulitan akibat cuaca juga dialami para buruh tani garam di Kabupaten Cirebon. Akibat tingginya intensitas hujan, mereka pun jadi kehilangan pekerjaan. Untuk memperoleh penghasilan, rata-rata mereka pun beralih profesi menjadi buruh tani padi.

”Untung sekarang di sawah ada pekerjaan, jadi tidak nganggur,” tutur seorang petani garam di Kecamatan Pangenan, Ridwan. Namun, tambah Ridwan, ada pula rekan-rekannya yang pergi ke Jakarta. Mereka menjadi buruh bangunan.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Pujiono, menyatakan anomali (penyimpangan) cuaca diprediksi akan terjadi sepanjang tahun ini. Karenanya, musim kemarau sekarang akan diikuti dengan curah hujan yang cukup tinggi.[ast]

seruu.com

***

Hujan Berkepanjangan, Garam Rakyat Turun 30 Persen

Sumenep (beritajatim.com) – Produksi garam rakyat di Sumenep tahun ini diprediksi turun 30-40 persen dibanding tahun lalu. Penurunan produksi tersebut akibat musim hujan berkepanjangan.

Ketua Paguyuban Petani Garam Rakyat Sumenep (Peras), Hasan Basri, Senin (15/07/13) menjelaskan, tahun ini ada indikasi terjadi musim kemarau basah, sehingga para petani garam belum berani memulai produksi garam.

“Sebenarnya ada petani yang sudah mencoba persiapan produksi dengan membuang air atau pengeringan lahan. Ternyata tiba-tiba turun hujan lagi. Akhirnya ya gagal,” katanya.

Karena itu, lanjut Hasan, para petani memilih untuk menunda upaya produksi garam, menunggu hingga cuaca benar-benar stabil. “Karena kalau dipaksakan produksi, percuma juga. Daripada membuang-buang biaya untuk produksi tetapi gagal, kan lebih baik menunggu saja dulu,” ujarnya.

Lebih lanjut Hasan menuturkan, melihat musim yang tidak stabil seperti sekarang ini, diperkirakan akan terjadi penurunan produksi garam. Biasanya memasuki bulan 7, sebagian petani sudah mulai panen garam.

“Sekarang ini sudah pertengahan bulan 6, belum ada yang berani produksi garam. Jadi musim tanam garam jelas mundur jauh dibanding tahun lalu,” terangnya.

Ia memaparkan, luas lahan garam di Sumenep sekitar 1.850 hektar, yang tersebar di Kecamatan Kalianget, Saronggi, Pragaan, Gili genting, dan Dungkek. “Kalau tahun lalu, total produksi garam rakyat Sumenep sekitar 180 ribu ton. Tahun ini diperkirakan akan turun 30- 40 persen,” ungkapnya.

Menurut Hasan, penurunan produksi garam tersebut akan mampu tertutupi, apabila ada bantuan geomembran pada para petani garam rakyat. Penggunaan geomembran ini kan mampu mendongkrak produksi garam.

“Kami mendengar, tahun ini akan ada bantuan geomembran dari Pemerintah pusat. Mudah-mudahan saja segera terealisasi, sehinnga penurunan produksi garam tahun ini bisa tertutupi,” paparnya.

Ia menambahkan, sampai saat ini stok garam rakyat di petani yang belum terbeli, sekitar 40 – 50 ribu ton. Hal itu disebabkan perusahaan-perusahaan garam di Madura, seperti PT garam, Budiono, dan Garindo, tidak lagi melakukan pembelian garam.

“Sudah sekitar 4 bulan ini tidak ada pembelian garam. Akibatnya ya garam rakyat belum maksimal terserap. Sisa di petani masih menumpuk,” ujarnya. (tem)

rri.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: