BUMN Tunggu Penunjukkan Pemerintah Kerjakan Proyek JSS

“Jadi ini memang terserah pemerintah, mau menunjuk BUMN atau tidak untuk FS-nya,”
jembatan-selat-sunda
JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan masih menunggu keputusan pemerintah terkait penunjukan BUMN karya dalam studi kelayakan (feasibility study/FS) proyek Jembatan Selat Sunda (JSS).

“Jadi ini memang terserah pemerintah, mau menunjuk BUMN atau tidak untuk FS-nya,” ucap Dahlan di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta, Kamis (18/7).

Sejauh ini, pemerintah masih mempertimbangkan studi kelayakan JSS, apakah akan dilakukan oleh kedua institusi, yakni perusahaan BUMN dan inisiator. Namun Dahlan menilai, bila ada kedua belah pihak yang ikut dalam studi kelayakan itu, maka justru akan menimbulkan masalah baru.

“Kalau kerjasama (dengan inisiator-red), nanti siapa yang minoritas dan mayoritas. Lalu kerjasamanya seperti apa? Tapi itu belum diputuskan, kami masih menunggu,” tutur bekas Dirut PLN ini.

Sementara terkait penunjukkan lima BUMN karya untuk mengarap proyek itu, Dahlan mengaku hal itu dilakukan sembari menunggu proses penunjukan konsorsium studi kelayakan selesai. “Kalau seandainya kami ditunjuk, BUMN sudah siap menerima tugas proyek itu” tambahnya.

Sementara terkait dana untuk studi kelayakan, Dahlan mengaku akan menyerahkan mekanismenya ke pemerintah. Saat ini, pemerintah memang masih menyerahkan dana untuk studi kelayakan berasal dari inisiator. Sebab, kata Dahlan, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini tidak ada anggaran untuk JSS.

“Jadi kita akan lihat apakah dana itu dianggarkan di APBN 2014, Agustus nanti kan ada RAPBN 2014,” pungkasnya.

Lima BUMN karya yang telah ditunjuk yakni PT Adhi Karya Tbk, PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya dan PT Pembangunan Perumahan. (chi/jpnn)

jpnn.com

***

Dahlan Akui BUMN Tak Mampu Biayai Proyek Jembatan Selat Sunda

Liputan6.com, Jakarta : Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku tidak ada perusahaan BUMN yang mampu membiayai sendiri proyek Jembatan Selat Sinda (JSS). Untuk itu dirinya menyampaikan perlu ada keterlibatan pihak asing dalam pengerjaan mega proyek itu.

“Saya kira jangankan BUMN, negara saja proyek sebesar itu tidak akan semua dipertaruhkan untuk itu. Kalau untuk proyek terus terang BUMN nggak bisa lah, harus ada investor, harus ada uang dari orang luar,” ungkapnya saat ditemui di Gedung Kementrian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Hingga saat ini Dahlan masih menunggu keputusan pemerintah terkait penunjukan pihak yang akan ditugaskan melakukan studi kelayakan (Fasibility Study/FS) proyek pengembangan kawasan di ujung Jawa dan Sumatera tersebut.

Mengingat proyek ini senilai Rp 200 triliun, Dahlan ingin agar studi kelayakan tersebut bisa dilakukan secara sempurna. Hal ini dimaksudkan agar pemilik dana mau mendanai proyek studi kelayakan tersebut sekaligus proyek pembangunannya nanti.

“Pemilik dana mana mau investasi kalau pembuat studi kelayakan bukan dari lembaga internasional. Makanya kita juga menggandeng lembaga internasional untuk studi kelayakan tersebut,” tambahnya.

Sambil menunggu proses penunjukan konsorsium studi kelayakan ini, Dahlan pun sudah menunjuk lima BUMN karya untuk siap-siap menerima tugas proyek dalam studi kelayakan JSS. “Tapi itu seandainya kalau kami ditunjuk,” tambahnya.

Seperti yang diketahui, BUMN yang dipersiapkan untuk pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatera itu adalah PT Waskita Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT PP Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Hutama Karya. (Yas/Shd)

liputan6.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: