Kupasan MH85 – Peneliti Puslit Fisika LIPI berhasil membuat baterai lithium yang supertipis

Lithium Tipis

PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan cara pembuatan baterai elektronik dari bahan lithium. Penemuan teknologi ini adalah sebuah tero­bosan baru yang memungkinkan bangsa ini mampu menyuplai kebutuhan baterai lithium yang saat ini banyak tergantung dari produksi lokal. Hasil dari pengujian dikatakan, penemuan ini cukup stabil dan sudah sesuai dengan standar internasional.

Bambang Prihandoko, Peneliti Utama Pusat Penelitian Fisika LIPI menyampaikan bahwa temuan yang berhasil diracik di laborato­riumnya tersebut sebenarnya sudab sejak lama ditemukan. Na­mun karena lamanya proses paten, baru pada tahun ini publikasi penemuan tersebut dilakukan.

Menurutnya bahan baterai lithium yang ditemukan kini su­dah mencapai tahap penyempurnaan. Saat ini lembaran-lembar­an dasar baterai yang terdiri dari katoda, anoda, dan elektrolit su­dah siap untuk dibuat menjadi satu sel baterai. Energi yang di­ciptakannya cukup untuk me­ngaliri sebuab ponsel atau ba­rang elektronik lain seperti mp3, UPS, atau bahkan laptop.

Perangkat baterai ini se­muanya berbahan dasar padat, kata Bambang. Berbeda dengan perangkat baterai lithium yang beredar di pasaran saat ini, ba­han elektrolit yang digunakan adalah bahan cair. Senyawa yang digunakan biasanya jenis perklo­rat (LiF atau LiClO4).

Elekrolit berbahan cair ke­lemahannya lebih tidak stabil di­bandingkan materi padat. Untuk itu, beberapa jenis bateral lithium saat ini termasuk yang dite­mukannya sudah menggunakan bahan materi padat. Materi yang ia gunakan sebagai elektrolit ter­sebut adalah LiTAIP (Lithium Titanium Aluminium Fosfat). Ia menyebutkan bahan yang digu­nakannya tersebut lebih stabil dan memiliki nilai hambatan hanya 400 ohm.

Pada model bateral lithium, produksi luaran nilai hambatan baterai, biasanya berada di kisar­an 1.000 ohm. Keuntungan untuk jenis baterai buatan Bambang adalah dengan semakin kecilnya nilai hambatan yang diperoleh, maka aliran arus atau yang Ia sebut konduktivitas lebih besar dibandingkan baterai-baterai lain.

Baterai lithium yang dipro­duksi oleh tim LIPI di Puslit Fisi­ka, hingga berhasil dipatenkan pada Juni lalu, total energi yang mampu disuplai mencapai 3,6 volt untuk satu sel. Rencananya dalam waktu dekat, beberapa percobaan akan dibuat untuk membuat energi suplal ini mampu memenuhi kebutuhan sebuah perangkat elektronik dengan total daya hingga 50 watt.

Kami sangat bangga dengan penemuan ini, dan rencananya ke depan, tim LIPI akan menja­ring beberapa perusahaan dan investor untuk memproduksi secara massal, katanya.

Keunggulan lain bateral lithi­um ini, jumlah lithium yang menghantarkan arus di dalam setiap sel angkanya lebih besar 0,3 kali dibandingkan jenis lithi­um pada umumnya. Hasil perhi­tungan yang diperoleh diketahui bahwa perpaduan materi tersebut mampu menambahkan jum­lah lithium pada angka 1,33-1,37.

Peran lithium pada angka yang lebih besar dari satu ini, kata Bambang, mengindikasikan bahwa jumlah arus yang mampu disuplai lebih banyak 0,3 diban­dingkan biasanya yang hanya bernilai satu. Tentu saja hal ini akan meningkatkan kemampuan baterai sebagai media penyim­pan energi listrik.

Kelebihan lain baterai produksi LIPI ini adalah cukup ri­ngan dan elastis seperti kertas. Untuk membuat lithium dan un­sur lainnya bisa lengket menjadi satu dan bisa digunakan sebagai baterai tim menggunakan eva (etilen venil asetat). Eva ini ber­fungsi seperti lem perekat setiap unsur. Dalam bahasa komposit­nya disebut sebagai bahan ber­basis polimer.

Dari segi ukuran, baterai yang berhasil dibuat cukup tipis. Ukurannya menyentuh bilangan mikron. Saat ini kisaran persatu lembarnya berada antara 6 sampai 100 mikron. Bambang belum dapat memberikan standar kete­balan tersebut karena belum melakukan penentuan kekental­an larutan yang dibuat.

Ukuran ketebalan lembaran tersebut, ujar Bambang, terkait dengan kebebasan pertukaran elektron. Semakin tipis maka lembaran akan cepat rusak se­dangkan semakin tebal, pergera­kan elektron tidak bebas. Se­hingga akan mengurangi jumlah energinya.
Baterai Drop karena Overcharge

BATERAI lithium adalah ba­terai yang paling baik dari segi ketahanannya sebagai media penyimpan energi. Karena ke­unggulannya tersebut, Bambang Prihandoko, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI ter­tarik untuk membuat sendiri jenis baterai lithium. Hasilnya pada 2001, sebuah prototipe lembaran-lembaran lithium berwarna hitam dan putih se­tipis kertas berhasil dibuat dan dapat dliproduksi secara lokal untuk membuat bateral lithi­um dalam negeri.

Setelah sertifikat patennya keluar pada Juni 2007 ini, ren­cana saya akan membuat pro­totipe yang lebih sempurna untuk selanjutnya dicarikan investor, kata Bambang. Dia meyakini, temuannya tersebut akan menjadi prospek masa depan yang cukup baik guna memenuhi kebutuhan pe­rangkat baterai alat elektronik yang cukup tinggi.

Lithium adalah unsur pencetus elektron yang cukup potensial dan sangat baik. Listrik ini timbul karena adanya aliran elektron karena perpindahan lithium. Secara teori dari para ahli fisika, bahwa lithium akan berpindah ke grafit dan posisi­nya digantikan oleh energi lis­trik (elektron). Kondisi ini akan tercipta (di mana elektron me­ngisi tempat lithium) saat ba­terai diisi ulang.

Lain posisi saat baterai digunakan, lithium yang bera­da di grafit, posisinya akan kembali ke ke tempat asalnya dan elektron bergerak menjadi lis­trik. Sehingga suatu saat, bate­rai akan kosong, penuh kosong
dan penuh lagi. Untuk itu aliran listrik tercipta dan siklus tersebut dapat terus terulang.

Ada yang perlu diperhatikan saat pengisian ini, kata Bambang. Lithium juga meru­pakan bahan peledak. Dalam kapasitas terlalu tinggi karena overcharge bateral bisa meledak. Pemicunya elektrolit yang
berupa lithium perklorat (juga merupakan bahan peledak) dan lithium sendiri. Meski tidak berbahaya, namun pengisian ulang memerhatikan waktu.

Lithium akan tergantikan posisinya oleh elektron. Batas standarnya pada beberapa ba­terai biasanya mencapai 4,2 volt. Dalam contoh yang ia misalkan jika pengisian setelah rentang waktu dua jam pengi­sian telah penuh, maka arus harus diputus. Jika tidak akan terjadi pemanasan. Biasanya suhu toleransi hingga 60 dera­jat, selebihnya baterai akan rusak dan mungkin meledak.

Untuk itu, kata Bambang, pada baterai dipasang sirkuit stabilisator dan sensor pemu­tus aliran pada alat pengisian ulang. Namun pada suatu keti­ka, dua komponen tersebut ada yang tidak beres. Jika hal tersebut terjadi, maka jangan membiarkan baterai tetap pada posisi pengisian ulang. (JURNAL NASIONAL, 31 Agustus 2007/ humasristek)

http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=2146

Iklan

One Comment to “Kupasan MH85 – Peneliti Puslit Fisika LIPI berhasil membuat baterai lithium yang supertipis”

  1. Wah ternyata sudah dari 2007 dipatenkan, baru setelah mendapat dukungan Pak Dahlan ada investor yg bersedia memproduksinya. Mantabs.
    Mengenai pemutus aliran arus pengisian semoga bisa disempurnakan lagi seperti charger2 HP yg paling top yg gak ada riwayat meledak waktu dicharge, kalau beli lisensinya kemahalan bisa nyontek desainnya dan dikembangkan. Semua demi kenyamanan pembeli mobil listrik indonesia, kalau HP 1 jt meledak masih gak terasa tapi kalau moblist 300jt meledak waktu dicharge..waduh bisal lemes pemiliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: