MH84 – Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru

Manufacturing Hope 84
MH084 - Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru
Membangun infrastruktur secara keroyokan kembali dilakukan. Kali ini di Medan. Tepatnya di Pelabuhan Belawan milik PT Pelindo I (Persero).Selasa pagi (2/7) lalu, di langit terbuka yang cerah di dermaga yang sudah sangat rapi, Direktur Utama Pelindo I Alfred Natsir bersama Dirut PT Hutama Karya (Persero) Tri Widjajanto Joedosastro dan Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Bintang Perbowo, menandatangani perjanjian kerjasama pembangunan dermaga baru senilai Rp 1,9 triliun.Tiga ribu orang yang baru saja senam bersama saya di dermaga itu ikut bertepuk tangan menyaksikannya.Itulah dermaga baru yang akan jadi unggulan Pelabuhan Belawan. Itulah dermaga baru yang kedalamannya mencapai 14 meter.

Itulah dermaga baru yang dibangun setelah 27 tahun lamanya tidak pernah ada pembangunan di Belawan.Tahun ini juga keroyokan itu dimulai. Tidak banyak prosedur dan lika-liku. Semuanya BUMN: dananya, desainnya, kontraktornya, dan operatornya. Saya memang terus mendorong sistem keroyokan seperti ini agar berbagai infrastruktur segera terwujud.

Bagi BUMN Karya pekerjaan ini juga penting agar banyak proyek bisa dikerjakan tanpa, misalnya, harus nyogok sana nyogok sini. Bertriliun-triliun nilai proyek bisa dikerjakan dengan cara yang tidak kotor seperti di masa lalu. Sekaligus cara ini bisa menjadi jalan pertaubatan bagi BUMN Karya yang selama ini dikenal suka main-main proyek pemerintah.

Pelindo I sendiri belakangan memang mengalami kemajuan yang nyata. Laba tahun lalu naik tiga kali lipat menjadi hampir Rp 300 miliar. Sengketa-sengketa dengan pihak ketiga banyak yang selesai dengan pendekatan yang bijaksana. Gudang-gudang lama yang kumuh dan tidak maksimal penggunaannya sudah dibersihkan.

Dermaga kapal penumpangnya dibangun baru di lokasi yang lebih dekat ke stasiun KA ,dan lebih dekat dengan akses ke masyarakat lainnya. Dermaga penumpang yang lama bisa untuk perluasan pelabuhan barang dengan posisi yang utuh dan menyatu.

Dan yang selalu saya puji adalah ini: kejelian direksinya untuk melihat peluang baru. “Kami sudah berhasil mendapat hak memandu kapal di Tanjung Ucang,” ujar Alfred Natsir. Selama ini kapal-kapal yang melintas di sekitar Tanjung Ucang, tidak jauh dari Batam, dipandu dari Singapura atau Malaysia. Padahal itu wilayah perairan Indonesia.

Alfred sudah mengajukan lagi dua izin untuk pemanduan yang sama di dua kawasan lain di sekitar Karimun dan Senipah. Di dua perairan Indonesia dekat Selat Malaka ini, sampai hari ini, juga masih dipandu dari Singapura dan Malaysia.

“Cita-cita kami selanjutnya lebih besar,” ujar Alfred. “Bisa ikut memandu kapal-kapal di Selat Malaka,” katanya lagi. Kalau izin itu sudah dia peroleh, Alfred akan mengajak Pelindo-Pelindo lain untuk mengerjakan pekerjasan besar itu. Agar hak pemanduan di Selat Malaka bisa dilakukan oleh pihak Indonesia dalam posisi agak seimbang dengan Singapura dan Malaysia.

“Tidak usah seimbanglah. Bisa ambil 10 persennya saja sudah luar biasa,” kata Alfred.

Izin itu mestinya tidak sulit. Yang mengeluarkannya adalah Kementerian Perhubungan kita. Alfred terus melakukan usaha untuk mendapatkannya. Termasuk meningkatkan kemampuan diri agar tidak ada alasan untuk tidak bisa mendapat kepercayaan itu.

Alfred masih punya pekerjaan besar lain: membangun pelabuhan khusus minyak sawit (CPO) di Kuala Tanjung, sekitar 200 km dari Medan. Inilah pelabuhan CPO terbesar yang dibangun BUMN. Juga dengan sistem keroyokan bersama sejumlah BUMN. Dengan pelabuhan khusus di Kuala Tanjung ini maka CPO dari Sumatera bisa langsung diekspor ke Eropa.

Selama ini CPO Sumatera hanya bisa keluar melalui kapal-kapal kecil di pelabuhan-pelabuhan dangkal untuk di-pool di Singapura atau Malaysia. Dengan Kuala Tanjung maka pool CPO dilakukan di dalam negeri. Tahun ini juga pelabuhan khusus ini mulai dibangun. Semua persiapan sudah selesai dilakukan sejak ide ini lahir tahun lalu.

Pelindo I juga bikin babak baru di Aceh: pelabuhan kontainer. Minggu ini untuk pertama kalinya Pelindo I mencoba mengirim barang dengan menggunakan kontainer langsung ke pelabuhan dekat kota Banda Aceh: Pelabuhan Malahayati.

Selama ini orang hanya bisa kirim kontainer dari Jakarta menggunakan truk melalui jalan darat yang melelahkan. Biaya per teus Rp 17 juta. Jalan lain: kontainer itu dikirim dulu ke Belawan, Medan, lalu diangkut dengan truk ke Banda Aceh. Biayanya Rp 13 juta per teus.

Kini dari Jakarta bisa langsung ke Malahayati dengan biaya Rp 11 juta per teus. Kalau percobaan jalur baru kontainer ini lancar dan arus barang meningkat, biaya itu masih bisa turun lagi.

Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Zaini Abdullah, ngotot benar agar Pelindo I berhasil membuka jalur baru yang akan sangat berarti bagi Aceh itu. Pelabuhannya sendiri memang sudah ada, yakni bantuan Belanda setelah Aceh dilanda tsunami. Tapi tidak ada peralatan crane-nya. Pelindo I yang kemudian diserahi mengelola Malahayati melengkapinya dengan peralatan bongkar-muat kontainer itu.

Aceh, Padang, Bengkulu, Belawan dan Kuala Tanjung sudah bergerak. Demikian juga Lampung. Sumatera sudah dikepung pelabuhan yang akan terus berkembang. Tinggal giliran Jambi dan Palembang yang segera menyusul. Gubernur dua wilayah ini sudah habis-habisan berjuang. BUMN akan cari jalan mewujudkannya.

Bukan baru di Pelindo I Alfred Natsir berprestasi. Sebelumnya, waktu jadi Dirut Pelindo IV pun dia sangat berprestasi. Karena itu dia diminta membenahi Pelindo I yang jeblok. Di Pelindo I ternyata juga berprestasi.

Orang berprestasi itu biasanya tetap berprestasi: di mana pun ditempatkan.***
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

 

MH84 - Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru

Tag:

3 Komentar to “MH84 – Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru”

  1. Pelabuhan sungai BOOM Baru Palembang, sudah sangat tidak memadai, tepat sekali kalau Pelabuhan laut Tanjung Api Api mulai di lirik BUMN, cita-cita pelabuhan ini sudah dimulai dari 3 atau 4 gubernur terakhir, bahkan sudah memakan korban mantan gubernur Syahrial Oesman, mencicipi dinginnya sel penjara untuk mewujudkan pelabuhan ini. Sumatera Selatan yang kaya akan SDA seperti minyak, Gas dan Batubara maupun perkebunan Sawit, Karet dan Kopi, sangat memerlukan Pelabuhan besar untuk menyalurkan hasil sumber daya alamnya yang kaya tersebut.

  2. Tak kuduga, ternyata indonesia tidak berdaulat di laut, apalagi d udara. Pada siapa d serahkan pimpinan bangsa ini supaya berdaulat pada kedaulatannya?.

  3. Hmmmmmm…… Setelah Tol bali dengan sukses digarap, BUMN mulai lagi dengan di Pelindo I. Kalo yang makro-makro ini ya searahkan pada Dahlan Iskan, walaupu memang kadang tersandung oleh birokrasi yang selalu menghancurkan kemajuan bangsa.
    Pembangunan ini sangat penting agar kapal-kapal terutama komoditas penting tidak harus lagi melalui Singapura atau malaysia, sudah terlalu banyak mereka mendapatkan keuntungan dari minimnya infrastruktur Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: