Wawancara Khusus Dahlan Iskan : Blak-blakan Dapur BUMN

Saya tidak pernah sedih, senang selalu. Saya sedih waktu paling ketika pembentukan holding terhambat. Sedih saja karena ada program tidak jalan, kehilangan waktu, begini aja kok sulit ya. Kalau yang gembira sekali tidak ada.


Mengurus 142 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukanlah hal yang mudah. Tujuh hari dalam sepekan dihabiskan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk memantau perkembangan dan menyelesaikan masalah masalah di perusahaan milik pemerintah tersebut.

Semua BUMN, menurut Dahlan, harus untung. Pasalnya, jika merugi perusahaan pelat merah tidak bisa memberikan manfaat ke masyarakat. Segala kemudahan diberikan mulai dari memangkas birokrasi, serta memberikan kewenangan dan kepercayaan penuh kepada direksi BUMN untuk maju dengan cara mereka masing-masing.

Bahkan dia membiarkan seluruh direktur utama untuk menunjuk sendiri orang-orang yang bakal masuk dalam jajaran direksi guna membentuk dream team. Dia menilai sebuah tim yang hebat bukanlah diisi orang-orang hebat, tapi yang terpenting tim itu bisa kompak.

Namun, Dahlan mengaku paling anti memberikan suntikan dana buat perusahaan yang rugi. Dahlan berpendapat, hal itu tidak mendidik dan lebih baik membiarkan perusahaan itu gulung tikar dari pada harus terus menggelontorkan uang.

Mantan Bos PT PLN (Persero) juga memiliki bentuk BUMN Ideal yang menjadi impiannya. Dengan sisa waktu jabatan, Dahlan terus berupaya untuk mencapainya. Meski dirinya menyadari waktu yang dimilikinya tidaklah cukup untuk membenahi semua BUMN menjadi perusahaan yang sempurna.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan menceritakan soal rekam jejak dan impiannya soal BUMN ke depan. Berikut petikan hasil wawancaranya seperti ditulis Senin (8/7/2013):

Kalau Anda lihat secara garis besar, sebenarnya masalah BUMN itu apa dan bagaimana menyelesaikannya-

Fokusnya memetakan ulang. Saya punya prinsip negara itu sebaiknya jangan melakukan bisnis. Yang bisnis itu masyarakat.

Pemetaan ulang itu pertama dilakukan dengan mengelompokkan BUMN itu untuk apa tujuannya. Ada tiga kelompok. Pertama, kelompok untuk ketahanan nasional seperti persenjataan.

Yang masuk dalam ketahanan yaitu pangan dan ternak di dalamnya karena itu menyangkut ketahanan pangan. Bangsa yang pangannya tidak teratasi dengan baik, maka ketahanan bangsa itu kurang baik.

Kedua, engine of growth atau kelompok yang akan dipakai sebagai alat untuk pertumbuhan ekonomi misalnya jalan tol. Mungkin secara bisnis, tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) rendah, tapi tanpa ada jalan tol, pelabuhan ekonomi tidak akan tumbuh.

Ketiga, ada untuk jadi jagoan Indonesia di dunia internasional. Itu harus dibesarkan seperti misalkan perbankan, pupuk, dan semen. Engine of growth bisa juga international champions.

Ada berapa BUMN yang bisa jadi international champions-

Sebetulnya kalau programnya berjalan mulus, itu 10 sebetulnya bisa. Tapi kan ada program yang tidak mulus yang itu di luar kewenangan BUMN misalnya holding Perkebunan dan Kehutanan. Izinnya lebih rumit karena di luar Kementerian BUMN.

Lalu untuk mencapai tujuan itu, langkah apa saja yang dilakukan?

Saya beri kebebasan lebih banyak. Menurut saya, penyederhanaan birokrasi dan kecepatan pengambilan keputusan, kemudian meminimalisir opportunity lost. Di bisnis itu, speed itu penting. Bisnis yang tak perhitungkan speed itu sudah ketinggalan.

Untuk itu birokrasi harus dipangkas, kewenangan dan kepercayaan harus diberikan. Paling mendasar yang saya lakukan selama ini adalah memberikan kewenangan, kepercayaan dan kesempatan.

Nah, tetap memberi kesempatan akan bahaya jika yang diberi kewenangan itu tidak amanah. Untuk itu, yang saya prioritaskan adalah BOD (Board of Director/dewan direksi) di setiap BUMN itu BOD yang dream team sehingga kita nilai, misalnya kita para direktur utama (dirut) yang kita nilai.

Setelah direktur utamanya dinilai amanah dan punya kapabilitas, lalu ditanya tim ada sudah dream team atau belum, kalau belum dream team, maka dirutnya bisa usulkan nama.

Seperti Garuda itu kan ada permintaan dari dirut utamanya untuk menyusun dream team yang mereka inginkan karena kita memberi target kepada korporasi sangat tinggi. Di satu pihak kita pasang target tinggi, tapi tidak memberikan tim yang bagus. Itu namanya lepas kepala, megang buntutnya.

Karena itu dengan segala risiko dan asal target tercapai bisa terpenuhi ya dipersilakan.

Kenapa Anda ambil keputusan itu?

Memang saya yang minta karena mereka yang lebih tahu kapasitas calon dan dalam pengertian saya tidak mutlak bahwa satu BOD harus hebat semua di bidang masing-masing. Katakalah dirut hebat, direktur marketing hebat, direktur sumber daya manusia hebat, direktur produksi hebat, kalau semua itu disatukan belum tentu hebat.

Seperti yang sering saya sampaikan, bisa saja soto enak dicampur rawon enak belum tentu jadi makanan yang enak.

Yang penting tim itu kompak, dan saya memang saya lebih berorientasi kepada dirutnya. Karena ujung-ujungnya itu sebuah tim harus ada leader-nya. Omong kosong kalau sebuah perusahaan bisa dipimpin oleh kolegial (kebersamaan). Omong kosong itu.

Apa parameter BUMN sehat? Apakah dia harus untung, atau yang penting bisa bermanfaat ke masyarakat?

Nomor satu untunglah. Kalau rugi terus bagaimana mungkin bisa memberikan manfaatkan kepada masyarakat. Kita tidak murni berorientasi ke laba. Tapi laba itu penting untuk bisa mengabdi ke masyarakat.

Kalau rugi, jangankan mengabdi mungkin internal sendiri bisa bergejolak. Tidak pernah bisa naikkan gaji, gaji tidak lancar, peralatan kuno. Kemudian internal tidak puas.

Kalau tidak puas, bagaimana harus mengabdi ke masyarakat karena persyaratan untuk mengabdi ke masyarakat itu dirinya sendiri harus diperhatikan dan disebut dalam marketing itu internal consumer.

Bagaimana bisa melayani orang kalau yang melayani sendiri tidak dilayani dengan baik oleh perusahaan.

Selain itu, apa ada parameter lain?

Pertama laba, kemudian manfaat bagi masyarakat, dan yang ketiga itu solid. Solid in tidak cuma di tingkat direksi, tapi juga sampai ke bawah.

Kemudian bisa menciptakan culture kerja yang bagus. Kemudian sebetulnya yang kita dan saya persyaratkan di situ adalah peningkatan kapasitas orang sampai ke level dalam, karena kita percaya generasi itu harus terus berganti.

Kalau kita tidak siapkan generasi berikutnya dengan baik, maka tidak akan ada penerus yang bagus sehingga harus disiapkan sistem rekruitmen yang baik. Harus ada jenjang karier yang baik sehingga BUMN yang baik, memiliki jenjang karier yg baik.

Kalau BUMN itu terus merugi, selain disuntik modal penyelesaian yang terbaik itu apa?

Untuk BUMN yang rugi, saya agak agak anti menyuntikkn modal karena BUMN yang rugi kita lihat dulu, dia rugi karena struktural atau manajemen. Kalau disuntik terus nanti belum tentu bikin perusahaan itu bangkit. Misalnya banyak kasus di BUMN, saya tidak mau kasih uang, biar saja mati-mati saja. Tapi saya terlalu kasar ngomong gitu, itu maksudnya untuk melecut mereka supaya tidak boleh lagi gampang seperti itu dan BUMN harus merasa sakit juga.

Kok memang enak terus minta uang terus ke negara, mereka harus berjuang, kalau tidak bisa ya tutup saja.

Karena itu saya sangat apresiasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) karena akhirnya mau melepas Telkom Vision karena Telkom Vision itu anak usaha, jadi saya tidak bisa ikut campur. Saya tidak akan melakukan apapun dan tidak tahu bahwa proses itu dilakukan.

Saya tahunya belakangan, dalam hati saya apresiasi itu karena Telkom Vision ini umurnya sudah 16 tahun, tapi belum pernah satu tahunpun tidak rugi, 16 tahun rugi terus. Direksi sudah diganti 6 kali, tapi itu bukan zaman saya saja. Ini karena internalnya, kita cari dari luar, ternyata gagal juga.

Kesimpulan saya, memang Telkom tidak punya ruh di bidang konten TV berbayar. TV itu apapun jenisnya, konten itu penting karena Telkom cuma ahli di bidang networknya. Kalau bicara konten, dia bukan ahli karena itu dilepas cara yang bagus secara korporasi.

BUMN apa yang bakal menjadi fokus Anda tahun ini?

Merpati karena Merpati kan tidak pernah untung. Kemudian kita sudah sering ganti manajemen belum juga untung dan lagi utang lamanya sudah terlanjur terlalu besar sehingga otak saya mengatakan ditutup saja. Tapi hati saya memberi toleransi kalau ada manajemen bisa hidupkan merpati ya coba saja, asal jangan minta uang.

Ada ide untuk Merpati supaya bisa bangkit lagi?

Pasti ide sehebat apapun tidak akan berjalan kalau utangnya tidak direstrukturisasi. Nomor 1 itu utang untuk beli pesawat MA-60 itu mutlak harus diselesaikan karena kebutuhan barang yang dibeli lewat utang itu tidak bisa hasilkan tanggungan yang timbul akibat utang itu.

Kenapa tidak bisa hasilkan uang lebih besar dari utang, ya itu karena biaya per kilonya tidak bisa bersaing dengan pesawat sejenis yang dimiliki maskapai lain.

Misalnya, pesawat MA-60 bersaing dengan pesawat ATR, MA-60 itu biaya per kilo bs US$ 9 sen – US$ 12 sen, sementara ATR US$ 5 sen-US$ 6 sen.

Anda akan memberikan kasih kesempatan berapa lama ke Merpati?

Kita lihat 1-2 bulan ini. Merpati sepanjang masih terbang silakan, selama tidak minta duit. Karena begini pesawat tidak mungkin dipaksakan, begitu tidak bisa bayar gaji, bahan bakar, saya tidak mau PT Pertamina (Persero) diutangi bahan bakar Merpati.

Kemudian, bandara kalau tidak bisa bayar kan tidak bisa terbang. Mungkin bisa terbang tapi tidak bisa mendarat. Tidak bisa bayar asuransi juga tidak bisa terbang.

Kalau Merpati sampai sekarang bisa terbang itu berarti direksinya hebat skali.

Manajemen itu paling penting punya kesungguhan, tidak main-main, hemat, tahu mementingkan yang penting. Jangan mementingkan yang tidak penting. Prinsip-prinsip seperti ini yang saya terapkan di BUMN.

Suatu saat saya meninjau pabrik gula, pas awal-awal jadi menteri, kok di pabrik ada tukang, lalu saya tanya ini bangunan apa? Dia jawab, ya pak gedung pertemuan, nanti bisa disewakan ada pengantin, pertemuan.

Saya bilang tidak boleh. Ini uang buat perbaiki pabrik supaya lebih baik, ini namanya mementingkan yang tidak penting. Lari dari problem, orang tidak boleh lari dari persoalan. Persoalan harus dihadapi. Pabrik rugi, dia mau penghasilan cari dari yang lain.

Saya sih tidak harapkan bangunan itu dihentikan, tapi yang penting harus diperbaiki pabriknya. Pas saya kembali, bangunan pabrik itu sudah dibongkar. Pabrik malah ada taman, mesin pembersih, dan pabrik itu untung.

Anda sering meluncurkan gagasan baru untuk kembangkan BUMN, dari mana ide itu muncul-

Itu hanya bisa dilakukan orang yang rajin turun ke lapangan, ketemu anak muda yang ngobrol punya ide, Tapi posisinya tidak memungkinkan untuk menyampaikan aspirasinya.

Saya bisa temukan ide-ide itu karena saya cair dengan mereka, bergaul langsung dengan mereka tanpa batas, meski mereka merasa ada batas.

Kalau Anda menilai BUMN itu idealnya seperti apa?

Go public karena prinsip yang mendasarkan adalah negara sebaiknya jangan punya BUMN. Tapi kita terlanjur punya karena peninggalan Belanda, maka sebaiknya itu jadi perusahaan publik.

Seperti Antam dan PTBA yang melantai di Bursa Efek Indonesia?

Saya lebih ekstrem, menurut saya negara hanya pegang minoritas supaya kontrol masyarakat lebih besar dari negara. Tapi ada aturannya di Indonesia, bahwa pemerintah tidak boleh minoritas.

Padahal sudah terbukti BUMN yang go public itu pertumbuhan lebih bagus, lebih disiplin, lebih terbuka.

Sekarang ini banyak BUMN yang belum go public karena prosesnya yang panjang, kaya PT Semen Baturaja itu, kan prosesnya lama atau tunggu waktu yang pas.

Kriteria BUMN yang go public itu seperti apa?

Siapa yang siap, ya silakan saja.

Kalau perusahaan yang mengurusi hajat hidup orang banyak seperti PT PLN (Persero)?

PLN itu tidak go public karena ada subsidi di dalamnya. Kalau yang ada subsidi itu tidak bisa karena tidak bisa melakukan pembentukan harga. Mungkin anak usahanya bisa.

(Ndw/*)

—-

Bagian 2

Siapa Dirut Favorit BUMN?

Liputan6.com, Jakarta : Memilih bos yang akan memimpin sebuah perusahaan dibutuhkan suatu insting yang kuat. Tak bisa asal-asalan karena kelangsungan perusahaan berkaitan dengan nasib ratusan hingga puluhan ribu karyawan. Seperti apa dirut favorit BUMN itu?

Sejak dilantik menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 19 Oktober 2011, Dahlan Iskan telah mengganti sejumlah Direktur Utama BUMN. Alasan pergantian bervariasi mulai dari adanya direksi yang masa tugasnya berakhir, ada yang mengundurkan diri, direksi tidak kompak atau untuk membentuk tim baru yang disebut Dahlan sebagai dream team.

Demi membentuk dream team, pria yang gemar memakai sepatu kets ini memberikan kebebasan kepada bos BUMN untuk memilih anggota dewan direksi.

Menurut dia, hal itu dilakukan karena diharapkan tim yang dibentuk bisa solid. Namun khusus untuk orang nomor satu di sebuah BUMN, Dahlan sendiri yang akan memilihnya.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan membeberkan kriteria direktur utama yang menjadi pilihannya. Berikut petikan hasil wawancara seperti ditulis, Selasa (9/7/2013):

Selain punya kapabilitas dan track record yang baik, biasanya penunjukkan dirut BUMN itu karena faktor apa?

Nomor satu itu integritas, karena percuma orang sepandai apapun kalau tidak punya integritas percuma karena dia akan gunakan kepandaiannya untuk menipu. Itu lebih bahaya dibanding orang bodoh yang menipu.

Kedua, antusias untuk maju. Kalau antusias itu ada passion-nya, kesungguhan dan keinginan untuk maju. Kalau dia tidak antusias dan pinter sekali, dia akan cepat merasa puas. Kreativitas juga perlu.

Anda lebih suka dirut BUMN dengan usia berapa? Apa benar yang paling ideal itu usia 40 tahun?

Semakin muda, semakin baik karena memang hanya anak muda yang bisa buat kemajuan. Karena anak muda itu lebih terbuka, energinya masih luar biasa dan masih mau belajar.

Idealnya dirut itu berusia 40 tahun-45 tahun. Itu bagus.

Sekarang ini yang berusia di kisaran itu dirut apa saja?

Telkom, Kimia Farma, kemudian Jamsostek sekitar segitulah.

Kalau yang perempuan?

Direktur Utama Indonesia Natour, Intan Abdams Katoppo.

Apakah kalau direksi BUMN tidak bisa mencapai target bisa langsung diberhentikan? Biasanya bapak kasih jeda berapa lama untuk menentukan dia layak atau tidak layak?

Saya tidak buang-buang waktu. Tapi kita lihat dulu tidak dicapai karena apa. Seperti perkebunan kelapa sawit, itu kan karena harga minyak jatuh, itu yang berpengaruh ke perusahaan, perkebunan karet juga.

Tapi kalau tidak ada masalah eksternal, ya langsung diganti. Satu-dua hari lagi, kita akan ganti dirut yang tidak capai target.

Siapa Dirut itu?

Adalah, nanti Anda juga tahu.

Pernahkah Anda punya pengalaman tersulit memilih direksi BUMN, selain memilih direksi Antam dengan dua kandidat kuatnya?

Itu paling sulit dalam pengertian dua-duanya bagus, bukan karena sulit cari orang.

Siapa direksi BUMN yang paling membikin bapak angkat jempol? Kenapa?

Ada beberapa yang satu level, yaitu Pupuk Indonesia, Semen Indonesia, BRI, Pos Indonesia, PT Kereta Api, Pelindo I dan Pelindo II, itu satu level. Telkom dan Pegadaian juga bagus.

Tidak hanya ide-idenya, tapi mereka bisa teguh dan tidak gampang menyerah dan tidak gampang dipengaruhi orang.

Menjelang pemilu, biasanya BUMN selalu diidentikkan dengan sapi perahan partai politik. Bagaimana Anda menjaga BUMN dari cobaan itu?

Saya berusaha keras tapi penilaian dari masyarakat. Sekarang rasanya tidak ada yang bermain-main gitu. Siapapun yang politicking di BUMN tidak jadi. Yang suka minta backing politik, main politik itu tidak bakal jadi.

Memang ada kejadian seperti itu, orang ini minta dukungan dari partai apa untuk jadi apa. Toh akhirnya orang itu tidak jadi apa-apa. Sejauh ini saya merasa berhasil bentengin BUMN.

Selama jadi Menteri apa yang bikin Anda sedih dan senang?

Saya tidak pernah sedih, senang selalu. Saya sedih waktu paling ketika pembentukan holding terhambat. Sedih saja karena ada program tidak jalan, kehilangan waktu, begini aja kok sulit ya. Kalau yang gembira sekali tidak ada.

(Ndw/*)

Bagian 3

Outsourcing yang Bikin Pusing

Akhir-akhir ini, kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beberapa kali didemo buruh. Salah satu tuntutan buruh adalah segera menghapus tenaga alihdaya (outsourcing) di BUMN dan mengangkatnya menjadi karyawan tetap.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku dirinya terus memutar otak untuk mencari solusi demi memperbaiki sistem outsourcing di BUMN.

Dia mengaku beruntung pernah menjadi Dirut PLN, sebuah BUMN yang juga banyak menggunakan outsourcing sehingga dirinya tidak perlu lagi mempelajari apa yang sebenarnya terjadi.

Dari hasil pengamatannya, pemilik Grup Jawa Pos ini menilai persoalan utama outsourcing yaitu perasaan gelisah dari karyawan akan ketidakpastian apakah tahun depan masih dipakai lagi atau tidak. Tentu soal besar-kecilnya gaji juga masalah, namun yang utama adalah ketidakpastian itu.

Persoalan lainnya adalah status. Mereka menginginkan status kekaryawanan yang jelas. Bukan sekadar menjadi tenaga cabutan.

Lalu langkah apa saja yang akan dan telah diambil Dahlan dalam menyelesaikan masalah outsourcing di BUMN?

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan mencurahkan pemikirannya soal nasib tenaga outsourcing di BUMN. Berikut petikan hasil wawancaranya seperti ditulis Rabu (10/7/2013):

Apa benar BUMN di Indonesia tidak efisien dari sisi karyawan alias terlalu banyak karyawannya?

Memang ada beberapa kasus begitu. Gaji BUMN besar-besar, dan sayangnya gaji besar dan militansi kerja tidak ada hubungannya. Waktu saya di swasta mau naikin gaji mau fasilitas mobil ke karyawan saya tidak pernah bilang gaji kamu naik, kerja lebih baik ya. Karena itu tidak ada hubungan. Karena dia memang baik, dia dapat mobil karena dapat mobil.

Jumlah karyawan BUMN perlu dikurangi atau bagaimana?

Banyak yang harus dikurangi tapi kita tidak bisa begitu saja karena itu kan kehidupan orang. Nanti kalau gejolak kan kita juga yang rugi sehingga yang penting begini, kaya PT Pos Indonesia dari segi ilmiah pasti kelebihan tenaga kerja, tapi kelebihan dan tidak kelebihan tergantung dilihatnya dari mana.

Misalnya, dia kelebihan tenaga kerja karena omzetnya Rp 50 triliun. Tapi kalau omzetnya bisa Rp 100 triliun, itu tidak kelebihan karyawan sehingga upaya yang dilakukan tambah omzet dan kegiatan lebih besar.

Sampai saat ini masalah tenaga outsourcing BUMN belum terpecahkan, bahkan ada demo segala, apakah benar nantinya BUMN tidak lagi pakai tenaga outsourcing?

Saya sepenuhnya serahkan kepada masing-masing korporasi karena itu peristiwa korporasi tidak harus menteri turun tangan. Saya sampaikan bahwa ada yang outsourcing itu harus diperbaiki. Outsourcing itu ada dua, pertama masalah eksistensi outsourcing, mengapa ada outsourcing, kedua outsourcing itu tidak ada jaminan.

Saya lebih cenderung tidak bicara soal eksistensi, tapi perlakuan terhadap outsourcing. Saya pengalaman ini di PLN, inti dari outsourcing itu satu gaji kecil. Tapi ada yang lebih inti persoalan lagi yaitu perasaan tidak adil.

Yang nomor tiga yaitu keamanan kelangsungan pekerjaan. Kalau gaji itu relatif karena outsourcing Bank BRI, dibanding outsourcing di perusahaan swasta di pabrik sepatu itu lebih besar yang di BRI, bukan bandinganlah. Jadi soal gaji itu relatif.

Lalu apa yang paling mendasar?

Sekarang itu perasaan ketidakadilan. Banyak kasus, mereka ini kan bekerja dengan karyawan tetap di kantor sama, mereka juga lihat, si A itu karyawan tetap, gajinya sekian, saya outsourcing gaji saya sekian, tapi kok kerjanya gitu-gitu saja. Kok kita kerja lebih keras bahkan kita disuruh-suruh, mereka tahu, mereka merasakan sehingga perasaan itu yang harus diselesaikan.

Solusinya apa?

Diselesaikannya ada dua, pertama yang bersangkutan harus dapat perlakuan lebih baik, kedua orang yang karyawan tetap ini itu juga harus menyadari dia harus kerja lebih keras.

Jangan karena karyawan tetap terus ngerasa kelasnya lebih tinggi, terus berhak menyuruh-menyuruh yang outsourcing karena merasa ini kelas biru, ini kelas merah. Kalau yang satu lagi masalah jaminan keamanan kelangsungan pekerjaan.

Saya sudah putuskan supaya masing-masing BUMN memperbaiki secara mendasar. Misalnya kontrak outsourcing itu biasanya satu tahun. Tiap tahun tender perusahaan outsourcing. Saya minta minimal 5 tahun, yang bisa otomatis diperpanjang beberapa kali, lima tahun, lima tahun sehingga praktis 15 tahun sehingga ada kepastian mereka bisa bekerja dalam jangka yang cukup panjang.

Itu dampaknya ke perusahaan baik. Misalnya dulu waktu saya di PLN, outsourcing untuk pemangkasan pohon yang ganggu mati lampu yang ganggu jaringan, itu satu tahun, sehingga tahun depan harus tender lagi, perusahaan mana yang akan dipilih.

Karena seperti itu, akhirnya perusahaan outsourcing-pun tidak mau beli peralatan yang baik karena belum tentu menang tender lagi. Saya kira dengan ide dari saya itu lumayan. Mereka sepakat untuk jalankan

BUMN apa yang terbanyak dan paling sedikit tenaga outsourcingnya?

Mungkin PLN 50 ribu orang, di BRI 40 ribu orang, Bank Mandiri kurang lebih sama. PT Pos Indonesia juga.

Ke depan mungkin diangkat?

Saya usulkan dibentuk saja anak perusahan yang khusus tangani bergerak di bidang outsourcing, sehingga misalnya kontraknya antara BRI dan anak usaha BRI. Mereka yang kerja di anak usaha BRI ini statusnya harus karyawan.

Mereka berkarier di situ. Anak usaha juga bisa investasi seperti apa. Tapi ada beberapa yang tidak bisa penyadap karet, pemetik daun teh karena sifatnya borongan.

Apakah di luar negeri juga terjadi praktik penggunaan tenaga outsourcing di perusahaan milik negara?

Tidak tahu saya. Masing-masing punya model sendiri, ada yang model Prancis, Malaysia dan Singapura. Tapi tidak semua negara punya BUMN.

(Ndw/*)

Bagian 4

Petral Memang Tak Bubar

Liputan6.com, Jakarta : Pada tahun lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan sempat melemparkan isu pembubaran anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang perdagangan minyak dan bahan bakar minyak (BBM) yaitu Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Ide itu muncul karena selama ini Petral kerap diisukan sebagai tempat korupsi para pejabat Pertamina. Lokasi Petral yang terletak di Singapura, jadi sebab munculnya isu tersebut. Petral pun diisukan sengaja dikantorkan di Singapura agar lebih sulit dikontrol dan lebih mudah menyembunyikan segala sesuatu.

Namun, Dahlan kemudian membatalkan rencananya itu dan lebih meminta Pertamina membenahi anak usahanya itu. Tapi menurut Dahlan meski perusahaan tidak bubar tujuannya membubarkan fungsi Petral sudah tercapai.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan mengaku telah membubarkan fungsi Petral sebagai calo Pertamina. Berikut petikan hasil wawancaranya seperti ditulis Kamis (11/7/2013):

Dulu Anda pernah ingin membubarkan Petral karena impor BBM lewat Petral dianggap tidak efisien, kenapa sekarang Anda tidak pernah menyuarakan lagi pembubaran Petral?

Waktu itu saya bilang sudah Petral dibubarkan saja, ngapain beli minyak harus lewat Petral, kalau bisa langsung. Sekarang sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, bahwa Pertamina tidak lagi beli BBM dan minyak mentah melalui Petral.

Pokoknya jangan ada hubungan dengan Pertamina cukup, kalau dia sebagai anak usaha kemudian melakukan trading kalau dulu dari A ke B, sekarang dari A ke C, atau A ke D, tanpa melibatkan B, dalam hal ini Pertamina, kenapa harus dibubarkan juga.

Tapi dibubarkan sebagai fungsi calo Pertamina, maka perantara Pertamina itu yang dbubarkan. Itu sudah bubar.

Lalu langkah apa yang selanjutnya dilakukan?

Langkah saya selanjutnya itu yang baru, saya minta pembukuannya pun dipisah total, sehingga saya akan bisa pantau lebih dalam karena tidak ada misalnya garansi Pertamina, jaminan Pertamina, yang jelas tidak nebeng Pertamina.

Kenapa Anda fokus sekali sama Petral? Apa karena diduga mafia minyak?

Saya ingin bahwa BUMN ini dapat kepercayaan dari masyarakat. Dan hal-hal yang disebabkan lahirnya ketidakpercayaan haris diperhatikan. Sudah dibubarkan, tapi dengan bubarkan fungsinya saja.

BUMN yang paling menjadi sorotan adalah Pertamina. Bisa dijelaskan 10 tahun lagi bentuk Pertamina itu seperti apa?

Pertamina ini sulitnya karena harus menjadi perusahaan PSO (public service obligation/kewajiban layani publik). Di hilirnya memberatkan dia, PSO itu ada BBM, ada elpiji. Dari elpiji saja ruginya bisa Rp 6 triliun.

PSO BBM banyak diutangi, tapi apa boleh buat. Sekarang lebih baik tingkatkan produksi minyak, dan geothermal (panas bumi).

Selama ini Pertamina selalu dibandingkan Petronas, bagaimana tanggapan Anda?

Sebetulnya itu perbandingan yang tidak fair. Petronas kan tidak urusin PSO, kemudian asetnya itu kaya BP Migas (sekarang SKK Migas-red). Kalau BP Migas plus Pertamina, itu baru bisa dibandingkan dengan Petronas.

Pertamina sekarangkan berfungsi seperti seberapanya Petronas.

(Ndw/*)

Bagian 5

Tak Apalah Dibilang Pencitraan

Tindak tanduk Pria Kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini, seolah menjadi perhatian. Pernyataan-pernyataannya, penampilannya, hingga tindakannya yang sangat spontan dan tak terduga dalam mengurusi 142 BUMN cukup menyita perhatian publik.

Dahlan mengaku semua tindakan yang dilakukannya adalah apa adanya dan tanpa pencitraan.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan blak-blakan cerita soal bagaimana dirinya sebenarnya. Penasaran?

Berikut petikan hasil wawancaranya seperti ditulis Jumat (12/7/2013):

Anda itu sebenarnya kepribadiannya seperti apa?

Seperti Dahlan, saya sejak dulu ya begini. Misalnya, saya hampir tidak pernah di kantor, jalan terus orang nilai itu karena mau pencitraan. Kenapa dulu saya waktu di PT PLN (Persero), saya juga jarang di kantor keliling Indonesia, tidak habis-habis kenapa tidak disebut dari dulu pencitraan. Tapi tidak apa-apalah.

Soal ada yang menilai Anda terlalu sering pencitraan, bagaimana tanggapan Anda?

Tidak apa-apa. Yang penting niatnya kerja.

Selain istri, adakah sahabat yang paling mengerti sifat dan sikap bapak? Siapakah dia?

Istri saya juga belum tentu paling mengerti. Hehehe.. bercanda-bercanda. Istri saya paling ngertilah. Anak saya ngerti sekali. Ya direktur-direktur saya mengerti sekali karena puluhan tahun bersama. Kalau direktur BUMN kan baru sebentar.

Direktur Keuangan di perusahaan pribadi saya sangat mengerti. Dia tahu saya tidak pernah mau perhatikan uang.

Siapa orang yang paling Anda kenang sampai saat ini?

Dalam hal jurnalistik, filsafat hidup itu itu Pak Goenawan Mohamad, karena termasuk saya tidak mau hidup mewah, itu antara lain karena saya malu dengan Pak Goenawan Mohamad.

Dari sisi perusahaan yaitu Almarhum Eric Samola. Saya belajar bisnis, leadership dari dia, manajemen dari dia. Dia yang belajar dari Ciputra. Jadi saya secara tidak langsung cucu Ciputra.

Kalau sosok yang Anda kenang dan bisa bikin Anda menangis?

Ibu. Ibu saya karena meninggal pas saya kelas 6 Sekolah Dasar. Yang hidupnya sangat menderita, kok tidak sempat ya menikmati sukses yang saya alami, yang itu juga berkat beliau.

Kedua, penyakit yang beliau meninggal itu luar biasa sederhananya kalau dilihat dari kacamata saya sekarang, baik dari sisi pengetahuan dan biaya. Ibu saya meninggal karena sakit kista, perutnya besar isinya air, airnya dikeluarkan, besar lagi.

Kita kan tinggal di desa dibawa ke dukun. Saya pernah ikut, nginap di rumah dukun sampai 5 hari. Kalau ingat itu saya nangis, dan dukunnya itu di desa yang kalau pergi ke rumah dukunnya, jalan kaki selama 5 jam. Ibu digendong bapak. Kalau capai, kami duduk di pinggir sungai dan jalannya becek sekali. Sekarang mudahnya sekali, tidak perlu opname malah.

Apakah saat ini adalah masa terbaik hidup Anda, atau Anda ingin mengulang masa lalu yang belum sempat dilakukan dulu, atau ingin melakukan sesuatu di masa depan?

Masa terbaik saya dalam artian happy ya, itu waktu saya jadi pimpinan redaksi Jawa Pos ya. Karena saya punya otoritas yang sangat mutlak, tak punya atasan. Karena waktu itu saya merangkap direktur utama, pimpinan redaksi dan pemegang sahamnya ikut apa kata saya dan keinginan saya. Rapat pemegang saham paling cuma 5 menit-10 menit, karena apapun yang saya usulkan, saya putuskan mereka langsung setuju.

Kemudian mengembangkan apa saja, mau nutup perusahaan, mau buka perusahaan itu bisa kapan aja, tidak perlu pakai Surat Keputusan, tidak perlu pakai prosedur tanpa beban. Nanti kalau rugi, ah kita balas dendam bikin perusahaan lagi.

Kalau sekarang apa-apanya begitu banyak, prosedurnya begitu sulit. (Ndw/*)

***

Bagian 6

Nyapres Itu Antara Mau & Tidak

Dengan malu-malu, Dahlan mengakui dirinya sebenarnya ada keinginan menjadi salah satu calon Presiden. Namun, dia merasa masih harus mengukur diri dan melihat siapa calon lain yang bakal maju.

Ditemui Nurseffi Dwi Wahyuni dari Liputan6.com, Dahlan buka-bukaan soal pencalonan dirinya sebagai calon presiden. Berikut petikan hasil wawancara yang ditulis Minggu (14/7/2013):

Menjelang Pemilu 2014, apakah Anda berniat maju menjadi salah satu calon Presiden? Hasil survei menunjukkan Anda salah satu calon terpopuler sebagai calon presiden.

Mula-mula niat tidak ada, karena ada suara-suara begitu lalu muncul keinginan. Kalu bilang tidak ada itu pasti bohong. Anda juga ada keinginan kan kalau banyak yang mendukung. Ingin iya, tapi kalau pengen sekali tidak. Skala 7 lah.. Kalau masyarakat mendukung dan dukungannya luas mungkin nyalon. Tapi kalau ada beberapa dan tidak luas, memaksa calonkan diri ya namanya tidak tahu diri.

Sudah ada partai politik yang melakukan pendekatan?

Hasil survei rating saya katanya naik terus, tapi masih sempat naik sampai skala tertentu atau tidak. Saya tidak tahu.

Kedua, sekarang ada fenomena baru Jokowi. Harus mempertimbangkan diri apakah bisa menang lawan Jokowi. Kalau sulit untuk apa?

Jadi Jokowi itu saingan terberat?

Saingan berat siapa saja. Bahkan (Jokowi) bukan saingan, sudah hampir pasti jadi. Hasil surveri kan gitu. Untuk saya berpesan teman-teman yang hasil surveinya masih begitu kecil, sudahlah. Untuk apa buang-buang uang, untuk apa juga buat heboh-heboh, tapi terserah mereka kalau mereka punya uang dan mau dibuang-buang silakan.

Jika seandainya Anda terpilih menjadi Presiden berikutnya, apa yang paling Anda benahi di Indonesia?

Ada problem besar, lembaga-lembaga internasional prediksi Indonesia bisa jadi negara besar. Prediksi itu akan tercapai kalau beberapa persyaratan terpenuhi. Saya akan fokus memenuhi syarat itu seperti infrastruktur, yang lebih penting dari itu yaitu 1 birokasi, 2 birokrasi, 3 birokrasi, 4 birokrasi, 5 juga birokrasi.

Sebegitu parahkah birokrasi di Indonesia?

Parah dalam artian birokasi bukan hanya soal mempermudah izin. Kalau ini tidak diubah, dia bisa menjadi penghambat bagi Indonesia untuk maju. Jadi calon musuh Indonesia terbesar itu adalah birokrasi. Karena infrasktruktur pun terhambat karena birokrasi.

(Ndw/*)

liputan6.com

Iklan

2 Komentar to “Wawancara Khusus Dahlan Iskan : Blak-blakan Dapur BUMN”

  1. MANTAPPPPPP…. TULISAN YNG OBJEKTIF MENYUARAKAN PESAN-PESAN ABAH… MAJU TERUS!! DEMI INDONESIA

  2. Pemikiran rasional dari orang yang berpengalaman mengelola berbagai perusahaan. Mendukung Abah Dahlan Iskan menjadi presiden RI 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: