5 Gagasan warga pecahkan kemacetan akut tol dalam kota

Warga Jakarta sangat akrab dengan kemacetan, di hampir setiap ruas jalan utama. Bahkan jalan tol yang sesuai maknanya seharusnya bebas hambatan, nyatanya malah menyita waktu pengguna jalan berjam-jam.Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan termasuk yang gerah dengan kemacetan di tol. Apalagi, anak buahnya, PT Jasa Marga (Persero) mengelola salah satu jalur neraka legendaris bagi pengguna kendaraan roda empat Ibu Kota, yaitu ruas tol Cawang-Semanggi-Tomang.

Pelbagai cara sudah dicoba perusahaan pelat merah itu. Menjalankan contra flow, menutup sebagian jalur rawan macet, sampai pengalihan jalur memanfaatkan rubber cone. Hasilnya nihil, kemacetan masih menggila, tak hanya di jam sibuk.

Puncaknya pada Februari tahun ini, melalui rubrik “Manufacturing Hope” yang biasa ditulis saban pekan, Dahlan meminta maaf secara terbuka pada masyarakat. Dia dan direksi Jasa Marga mengaku butuh bantuan warga untuk menuntaskan persoalan kemacetan yang justru tercipta akibat keberadaan jalan tol.

Hadiah Rp 100 juta ditawarkan pada siapapun yang bisa membantu pemerintah dan BUMN mengurai kemacetan kronis. Dahlan percaya solusi mengurai problem lalu lintas ini bisa melibatkan semua orang.

“Siapapun yang bisa menyumbangkan ide brilian untuk penyelesaian kemacetan ini akan diberi hadiah besar. Tiap satu ide yang bisa diterapkan akan mendapat hadiah Rp 100 juta,” tulisnya.

Ide Dahlan disambut direksi Jasa Marga. Mereka tidak main-main, sampai membentuk tim juri. Para pakar itu dipimpin Riki Destawan dari BUMN tersebut, dan beranggotakan ahli rekayasa lalu lintas kawakan misalnya Pengurus Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Agus Sidharta serta Komisaris Polisi Risto Samodera dari unsur kepolisian.

Pada 11 Maret lalu, sayembara itu diumumkan oleh Jasa Marga kepada publik. Pengelola jalan tol itu segera memasang spanduk, berpromosi di sosial media, serta memasang keterangan cara berpartisipasi di situs jasamarga.com.

Tak tanggung-tanggung, dalam waktu singkat, proposal buat memecahkan persoalan kemacetan tol membanjiri Jasa Marga, baik lewat pos maupun surat elektronik.

Hingga penutupan sayembara dua bulan lalu, 1.016 usulan masuk. Masyarakat yang terlibat beraneka ragam, seperti harapan Dahlan. Mulai dari akademisi yang sehari-hari berurusan dengan teori perencanaan kota, PNS, dokter, mahasiswa, sampai guru sekolah.

Setelah 3 tahapan seleksi, termasuk presentasi di hadapan juri, terpilih 10 pemenang yang diumumkan di Kementerian BUMN kemarin, Kamis (4/7). Pada akhirnya, juri memutuskan tidak ada pemenang tunggal, lantaran setiap ide punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tak seperti harapan Dahlan agar uang Rp 100 juta jatuh kepada satu pemenang saja yang idenya betul-betul cemerlang.

Mantan Dirut PLN ini menegaskan usulan para pemenang tak bakal diabaikan. Terbukti, sebagian ide mereka dipakai Jasa Marga buat melakukan rekayasa jalur Cawang-Semanggi-Tomang diperkirakan menelan dana Rp 400 miliar, dan mulai dijalankan tahun ini.

“Tanpa sepuluh orang ini tidak mungkin ada inspirasi kepada Jasa Marga,” kata Dahlan di kantornya kemarin.

Beberapa solusi dari warga ini ada yang rumit namun brilian. Sebagian lagi sebetulnya sangat sederhana tapi sangat logis dan patut dicoba.

Berikut lima pemenang sayembara Jasa Marga beserta usulan mereka dalam mengurai kemacetan di tol dalam kota Jakarta, yang berhasil dihimpun merdeka.com:

 

1. Menurunkan kecepatan dan memangkas marka

Gagasan ini dicetuskan Ariffin Aziz, PNS yang sehari-hari bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum. Pria 54 tahun kelahiran Jakarta ini mengusulkan agar kecepatan berkendara di tol rawan macet diturunkan menjadi 40 kilometer per jam saja.

Saat ini, karena kecepatan setiap kendaraan diizinkan mencapai 80 km/jam di tol dalam kota, hanya tersedia tiga jalur. Jika usulannya diterima, maka jalur menjadi empat buah.

Tak cuma itu, dia pun memberi ide agar marka jalan tol dipangkas dari 3,5 meter, menjadi 3 meter. Hasilnya, jalur mobil dapat bertambah.

Jasa Marga langsung menerima usulan Aziz. Dalam skema pembenahan tol untuk tahun ini, rekayasa marka termasuk skema yang dipakai untuk mengurai kemacetan di pintu keluar tol Cawang arah Rawamangun.


2. Tarif mahal penumpang tunggal

Ide ini dinamai car sharing. Pencetusnya adalah mahasiswa Universitas Diponegoro Zulfika Satria. Dia mengaku tidak sendirian memikirkan gagasan ini, melainkan dibantu rekan satu almamater Ikfi Maryama Ulfa dan Aninda Sarah.

Prinsip car sharing adalah tarif tol lebih mahal untuk mobil yang penumpangnya cuma seorang. Mereka mengusulkan agar tarif untuk kendaraan seperti itu sebesar Rp 14.000.

Sebaliknya, jika mobil berisi 2 orang, tarif bisa turun menjadi Rp 7.000. Bila berisi 4 orang, maka menjadi Rp 3.500 saja, alias tarif normal saat ini. Harapannya, orang tidak lagi sesukanya menggunakan mobil, bahkan kalau perlu “berbagi” ruang. Bisa dengan menumpang pengendara lain atau naik kendaraan umum jika ingin melewati tol.


3. Memindahkan pintu keluar tol

Ide ini dicetuskan oleh seorang dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) bernama Mokhtar Jusuf. Walaupun rekayasa lalu lintas bukan bidangnya, tapi pengalaman empat dekade menyetir mobil di Jakarta memberinya intuisi mengenai akar masalah kemacetan di tol.

Dari pengamatan Mokhtar, jalur masuk atau keluar tol di beberapa titik strategis keliru sejak perencanaan, lantaran langsung bertemu persimpangan di jalan raya dekatnya.

Karenanya, pria 67 tahun ini mengusulkan agar pintu masuk tol Cawang dimundurkan ke posisi sebelum perempatan, serta pintu keluar tol Sudirman digeser menjauhi simpang Semanggi.

Dia yakin biaya melakukan kebijakan ini sangat mudah karena praktis hanya mengubah administrasi dan sedikit pergantian papan keterangan. Serta, benturan arus yang jadi biang macet bisa dihindari.

 

4. Separasi Lajur keluar tol

Lukman Talibo juga bukan seorang pakar perencanaan kota. Dia sehari-hari berkutat sebagai programmer komputer di Ibu Kota.

Namun di sela kesibukan memikirkan bahasa program, dia turut mencari jalan keluar buat mengurai kemacetan jalan tol dalam kota.

Lajang kelahiran Kota Boroko, Sulawesi Utara pada 1982 ini percaya pemisahan jalur harus dilakukan sejak 3 kilometer sebelum pintu keluar. Harapannya mobil yang ingin lurus tidak terhalangi kendaraan lain yang berbelok untuk keluar.

Dari perhitungannya, kemacetan bisa berkurang 30 persen di pintu keluar strategis. Ide ini perlu ditunjang polisi yang berjaga di sebelah road cone pemisah jalur. Tilang juga harus tegas diberikan pada pengemudi nakal agar rencana tersebut sukses.


5. Airport Way

Gagasan ini merupakan salah satu yang paling radikal, dibanding 9 usulan lain dalam sayembara Jasa Marga.

Bermula dari fakta bahwa ruas Cawang-Tomang-Slipi, bermuara ke Cengkareng. Jalur utama bagi setiap orang yang ingin ke Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Karena jumlah kendaraan ke Cengkareng tak sedikit, konsultan keuangan bernama Agus Alamsyah Yahya mengusulkan supaya dibuat jalur khusus di lajur tol dalam kota, dengan sebutan “airport way”.

Dalam bayangan pria kelahiran 1964 ini, jalur dengan separator permanen mirip jalan khusus Transjakarta tersebut dimulai dari Cawang, atau ruas tol manapun yang mengarah ke bandara. Pengemudi yang masuk ke “airport way” didesain tidak bisa keluar lagi. Konsentrasi arus pun lebih bisa diprediksi.





Iklan

One Comment to “5 Gagasan warga pecahkan kemacetan akut tol dalam kota”

  1. Mendukung Abah Dahlan Iskan dan Kelima Para Pemerhati Tol tersebut, atas Idenya yang luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: