Penumpang KRL Menumpuk, Dahlan: Masyarakat Masih Kagok

“Dalam waktu satu minggu pasti ada yang masih kagok. Modernisasi perilaku masyarakat dimulai hari ini. Masyarakat tradisional harus berperilaku modern. Keluar-masuk stasiun menggunakan kartu dan inilah yang dilakukan di negara maju,” 

KRL_tiket411639@

Penumpang menumpuk terjadi di sejumlah stasiun menyusul pemberlakuan tarif progresif dan e-ticketing kereta rangkaian listrik (KRL) commuterline mulai 1 Juli 2013. Diantaranya terlihat di Stasiun Citayam, Depok Baru, dan Bogor.

Terkait hal ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan memaklumi jika ada hambatan dalam penerapan sistem baru tarif progresif ini. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan mesin pembaca tiket, tetapi hanya penumpang yang belum terbiasa.

“Dalam waktu satu minggu pasti ada yang masih kagok. Modernisasi perilaku masyarakat dimulai hari ini. Masyarakat tradisional harus berperilaku modern. Keluar-masuk stasiun menggunakan kartu dan inilah yang dilakukan di negara maju,” ujar Dahlan pada peresmian e-ticketing dan tarif progresif di Stasiun Manggarai, Senin (1/7).

Dengan tarif progresif, mulai hari ini penumpang akan dikenai biaya berdasarkan jarak. Penumpang membayar Rp 2,000 per lima stasiun dan Rp 500 per tiga stasiun berikutnya.

“Saya males antre sudah setengah jam, lagi cari teman sekantor di dalam antrean yang bisa dititipin,” kata Yunus warga Citayam yang bekerja di kawasan Jakarta Kota.

Secara terpisah, salah satu penumpang KRL di Stasiun Citayam, Yunus mengatakan, pada hari pertama pemberlakukan tarif progresif, memang masih terkendala loket. Seharusnya PT KAI menyediakan hingga 10 loket.

“Berantakan sekali, loket harus diperbanyak. Yang biasanya ada loket dimana-mana, dan gampang saja enggak pakai mesin, ini penumpang jadi susah, lama dan menumpuk, tarif murah iya, tapi begini jadinya,” tukasnya.

Hal senada diungkapkan Ardi warga Citayam yang bekerja di kawasan Thamrin, Jakarta. Ia sangat kesal ketika mengantri di depan loket tambahan untuk ekonomi.

“Ini sangat-sangat berantakan, jadi telat kerja kalau begini, mendingan tarif yang biasa sajalah asal rapi,” cetusnya. (ags)

http://berita8.com/berita/2013/07/penumpang-krl-menumpuk-dahlan-masyarakat-masih-kagok

Iklan

One Comment to “Penumpang KRL Menumpuk, Dahlan: Masyarakat Masih Kagok”

  1. Lambat tapi pasti, Menteri BUMN Dahlan Iskan mulai mengajak masyarakat tradisional memasuki masyarakat modern dengan tidak lagi menggunakan uang untuk pembayaran kereta rangkaian listrik komuter secara langsung, melainkan dengan menggunakan E-Ticketing.
    Mestinya, kartu-kartu tiket electronik tersebut, tidak hanya dijual di stasiun-stasiun kereta api, melainkan di berbagai outlet, seperti Indomart atau Alfamart atau di Kantor Pos atau lainnya. Sehingga, konsumen KA tidak lagi berjubel di depan loket-loket stasiun KA yang ada untuk membeli tiket elektronik tersebut.
    Penyebaran penjualan E-Ticketing tersebut harus segera dilakukan oleh PT. KAI dan pihak-pihak terkait, sehingga konsumen KA bisa merasakan semakin enak menggunakan jasa angkutan yang tidak mengenal macet tersebut.
    Semoga pimpinan PT. KAI akan segera melakukan-langkah nyata agar konsumen KA tidak terus menggerutu akibat lambannya pelayanan PT KAI. …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: