MH83 – “Cumlaude” melalui “clearing house” model Ketut

Manufacturing Hope 83

MH083 - Cumlaude melalui clearing house model Ketut

Inilah salah satu BUMN yang membuat saya selalu was-was: PT Pos Indonesia. Sebuah perusahaan yang praktis kehilangan seluruh basis bisnisnya: pengiriman surat dan pengiriman uang.

Surat sudah digantikan email atau hand phone. Kartu lebaran sudah digantikan SMS. Pengiriman uang sudah tidak lagi dengan wesel. Sudah digantikan dengan hanya satu klik di jasa perbankan, atau satu sentuhan di hand phone.

Bisakah Pos Indonesia mentransformasikan dirinya dari ancaman kematian? Berhasilkah Direktur Utamanya, I Ketut Mardjana, mengomandani perubahan arah yang begitu drastis?

Bisakah karyawan yang sudah terlanjur mencapai 25.000 orang itu memahami kenyataan baru? Ataukah kapal induk Pos Indonesia itu harus kehilangan arah di lautan luas untuk kemudian tenggelam ke dasarnya?

Sungguh misi yang beratnya tak terpermanaikan.

Dan hasilnya adalah: Ketut Mardjana lulus dengan predikat summa cumlaude!

Mungkin saya berlebihan, tapi saya memang suka terharu melihat orang yang berhasil keluar dari kesulitan. Apalagi dalam suasana lingkungan birokrasi yang tidak bisa fleksibel seperti BUMN.

Di swasta sering terjadi perusahaan berhasil keluar dari krisis dengan melakukan perubahan yang drastis. Perubahan itu bisa dilakukan dengan lebih mudah karena fleksibilitas swasta yang hampir tak terbatas.

Di BUMN kungkungan peraturannya sering menakutkan. Sungguh tidak mudah melakukan transformasi besar di sebuah BUMN.

Kini masa-masa kritis transformasi itu sudah lewat. Badai yang menerpa Pos Indonesia sudah berlalu. Gelombang laut sudah reda. Hujan pun tinggal rintik-rintik. Sesekali saya masih menerima SMS dari lingkungan dalam Pos Indonesia. Tapi isinya sudah lebih memberi harapan.

Tentu saya kagum dengan anak buah yang tabah, teguh, dan ngotot seperti Ketut Mardjana itu. Saya melihat kian lama kian banyak Dirut BUMN yang memiliki keteguhan, ketabahan, dan kengototan seperti itu. Praktis kini saya hanya lebih banyak memuji secara terang-terangan daripada memaki di dalam hati.

Kunci utamanya, saat mulai menakhodai kapal bocor Pos Indonesia yang lagi oleng itu, Ketut Mardjana tidak ikut mabuk. Dia tetap bisa berpikir jernih bagian mana yang harus ditangani dulu. “Modernisasi sistem komunikasi,” ujar Ketut Marjana yang aslinya orang dengan darah keuangan itu.

“Semua kantor pos serentak saya hubungkan dengan satelit. Yang tidak bisa ditangani oleh sistem telekomunikasi biasa saya pasangi visat,” tambahnya.

Memang “awak kapal” Pos Indonesia sempat “berontak”. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Jakarta yang meraih doktor ekonomi dari Monash University, Melbourne, ini dianggap melakukan pemborosan besar-besaran. Langkahnya dinilai bisa menguras keuangan perusahaan yang sudah mulai mengering. Tapi Ketut Mardjana tidak mundur. Dia sudah terlanjur basah.

Ketut sudah terlanjur memutuskan untuk pensiun dini dari statusnya sebagai pegawai negeri dengan jabatan yang sudah sempat mencapai setingkat direktur di Kemenkeu.

“Saya harus berhasil,” katanya.

“Bayangkan,” kisah Ketut kepada saya. “Dulunya untuk membayar gaji saja harus jualan asset,” katanya. “Orang mau menguangkan wesel tidak ada uangnya,” tambahnya.

Tentu saya bisa membayangkannya. Untung hal itu tidak terjadi di zaman awal-awal saya menjadi wartawan. Ketika saya masih menggantungkan hidup dari penghasilan saya menulis berita di koran-koran. Waktu itu, setiap minggu, saya menerima wesel dari Jakarta. Kadang dari Tempo, kadang dari Kompas. Atau dari media lain.

Setiap kali menerima wesel pos saya langsung naik bemo ke kantor pos di Kebon Rojo Surabaya untuk menguangkannya. Kadang berboncengan dengan istri karena uangnya akan langsung dipakai membeli beras.

Waktu itu Kantor Pos masih jaya. Selalu ada uang untuk membayar kiriman wesel untuk saya.

Alhamdulillah Pos Indonesia kembali jaya. Bukan saja sudah menemukan jalan yang benar, tapi sudah menemukan jalan tol yang lebar.

Yang membuat Ketut Marjana mendapat summa cumlaude adalah ini: berhasil mengidentifikasi kekuatan Pos Indonesia yang paling kuat. Apakah itu? “Trust!” katanya. Kepercayaan. Saya menyetujuinya seratus persen.

Bukan saja menemukan, Ketut juga akan menggunakan kekuatan utamanya itu untuk landasan bisnisnya di masa depan. Memang Pos Indonesia juga memiliki kekuatan utama lainnya: network yang luas. Tapi network saja tidak cukup. Gabungan network dan trust itulah yang akan digunakan Ketut untuk masa depan cerah Pos Indonesia.

Bagi saya kombinasi network dan trust itu sekaligus merupakan sumbangan besar untuk Indonesia sebagai negara. Itu akan bisa menutupi salah satu kelemahan republik ini di bidang ekonomi: tidak adanya lembaga yang berfungsi sebagai clearing house. Akibatnya bisnis e-commerce tidak begitu berjalan di Indonesia.

Orang masih takut membeli barang melalui internet. Takut nomor kartu kreditnya disalahgunakan orang lain. Takut penjualnya tidak benar-benar mengirim barang yang dibelinya. Takut uangnya hilang begitu saja.

Ketut akan mengatasi tiga ketakutan itu sekaligus. Pos Indonesia akan membangun mall secara besar-besaran: Plaza Pos Indonesia. Lokasinya di langit internet.

Orang bisa membeli barang di Plaza Pos Indonesia. Melakukan pembayaran secara online. Uangnya ditahan di Pos Indonesia sampai penjualnya benar-benar kirim barangnya. Kalau barang tidak dikirim pembeli bisa mengambil kembali uangnya di Kantor Pos atau via rekening bank.

Sebaliknya penjual juga merasa aman karena dijamin Pos Indonesia. Inilah bisnis kepercayaan. Pembeli percaya ke Kantor Pos, penjual percaya ke Kantor Pos.

Ketut tidak akan mengambil jasa di transaksi keuangannya. Pos Indonesia hanya mengharapkan dari jasa pengiriman barangnya.

Kalau program Ketut ini berjalan, inilah momentum besar bagi pengusaha kecil yang serius. Yang mampu membuat produk yang bermutu dengan harga bersaing. Tidak perlu sewa mall dan tidak perlu takut tertipu pembayarannya!

Bangkitlah Plaza Pos Indonesia! Bangkitlah UKM kita!

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

 

12 Komentar to “MH83 – “Cumlaude” melalui “clearing house” model Ketut”

  1. pencitraan dini
    bukan citranya yang terlarang
    hanya waktu saja belum tepat
    merasakan semua

    pencitraan dini
    sebaiknya janganlah terjadi
    nanti putih citra membuktikan
    dua insan tak dapat dipisahkan

    • na na.. na na.. nanaaa….

    • secara hakikat dan prinsip ide ini sangat luar biasa kedepanx buat kantor pos kedepan dlm pelayanan via online,,krn kita tahu sendiri jaman nya sudah mengarah ke IT jd sgl sesuatu harus di seimbangkan dg IT shg dg akan membantu pekerjaan kita,,klo perlu IT membantu ibadah kita kepada tuhan,,sukk sll untuk pos indonesia,,saya tunggu kabar kapan rencana ini akan berjalan cepat dan sangat cepat,,pak DIS cayooo pak..

  2. Aneh bin ajaib. Menteri BUMN Dahlan Iskan menulis berhasilan PT. Pos Indonesia melakukan inovasi demi menghadapi persaingan bisnis yang sangat ketat, kok dibilang pencitraan. Logikanya dari mana ya???? Apa yang kasih komen ini manusia atau bukan? Tetapi karena yang menulis bukan mahluk manusia yang bertanggungjawab, ya susah juga menanggapinya. Saya tidak tahu, apa Gedubrak ini setan atau iblis. Kalau manusia, saya yakin tidak ada yang pakai nama seperti itu. Namanya setan atau dedemit…. ya baguslah bisa kasih tanggapan….

  3. Terobosan yg luar biasa dr Pos Indonesia.. meski belum pernah mengalami penipuan dr transaksi online (nauudzubillah), selama ini ingin beli barang secara online memang selalu sj muncul kekawatiran barang tidak dikirim setelah uang ditransfer seperti yg disampaikan Pak Dahlan Iskan, dg adanya Pos Indonesia yg menjamin, sungguh merasa lebih aman..

  4. Ini baru terobasan..terobosan inilah yang saya tunggu-tunggu sejak 2 tahun yang lalu, dengan adanya jasa dari PT. Pos Indonesia semoga belanja on line akan semakai bergairah

  5. Reblogged this on belajar sampai gila! and commented:
    MANTAP!!

  6. pak dahlan, apa bisa kantor pos dijadikan alat perpanjang tangan dari kantor pemerintahan? contohnya di negara yang saya tinggal ini, klo misal mau ngurus dokumen dan membutuhkan waktu lebih dari 1 hari, maka dokumennya akan di antar ke rumah oleh pos.semoga bisa jadi inovasi selanjutnya..

  7. satu yg saya kagum dan salut dari DI: selalu dengan jujur menyebutkan peran anak buah yg bepretasi. Tidak pernah mengklaim prestasi anak buahnya sebagai prestasinya sendiri. Padahal dirut BUMN juga tidak akan bisa berprreatasi kalau kalau atasannya (menteri BUMN) tidak mengispirasi, mengfasilitasi, memberikan prakondisi yang memungkikan dirut2 BUMN bersama staf mencetak prestasi

  8. Berita nya sangat inspiring. Bangga sekali PT Pos masih bisa bangkit, walaupun dua bidang pekerjaannya telah tereliminasi oleh kemajuan jaman. Terima kasih Pak Dahlan, terima kasih Pak Ketut, Anda telah menginspirasi dan memberi pelajaran berharga. Anda telah meyakinkan kami bahwa kami masih punya pemimpin yg kreatif mengolah masalah menjadi jalan keluar yang berkah!!! jangan pedulikan ocehN sinis orang-orang yang sirik. Sirik tanda kekalahan

  9. mestinya tarifnya bisa bersaing dengan perusahaan

  10. saran: tarifnya harus bisa bersaing dengan perusahaan penyedia jasa layanan serupa,saya baru tau kalo ada plaza pos…sangat informatif, kick harder ya pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: