Kilasan MH81 – Sorgum di Atambua NTT

Menteri BUMN Dahlan Iskan menyambangi Desa Dualaus, Belu di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mengajak masyarakat setempat menanami sorgum (pengganti gandum) di lahan-lahan kosong milik masyarakat setempat.

“Jadi agar tanah-tanah yang selama ini tidak maksimal agar digunakan ditanami Sorgum. Sehingga lahan dapat dimaksimalkan dan akhirnya meningkatkan taraf kehidupan masyarakat,” jelas Dahlan di NTT seperti disampaikan Humas Kementerian BUMN Faisal Halimi kepada detikFinance, Jumat (18/1/2013).

Dahlan meminta lahan yang digunakan bisa mencapai 200 hektar. Agar nantinya, sambung Dahlan bisa dibangun pabrik pengolahan tepung sorgum.

“Sehingga menjadi ekonomis. Yang dari sorgum dapat diolah untuk tepung, bioethanol dan juga bisa untuk pakan ternak,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Bupati Belu Provinsi NTT menyambut baik arahan Dahlan Iskan yang mengajak masyarakat setempat untuk bertani.

“Kedatangan Pak Menteri dengan membawa program BUMN peduli yang salah satunya mengembangkan sorgum di Belu, benar-benar menambah rasa percaya diri. Kami sebagai bagian NKRI tak terpisahkan yang posisinya berada di garis terdepan,” jelasnya.

http://finance.detik.com/read/2013/01/18/134106/2146263/4/sambangi-ntt-dahlan-iskan-ajak-masyarakat-tanam-gandum?f9911033

.

Tanaman Sorgun Dikembangkan di Perbatasan RI-Timor Leste

Metrotvnews.com, Kupang: Kementerian BUMN mengembangkan 200 hektare tanaman sorgum di berbagai desa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT),  mulai tahun ini.

Pengembangan sorgum di daerah itu adalah bagian dari program ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan di daerah perbatasan dan tertinggal yang diprakarsai Kementerian BUMN.

Seremoni penanaman sorgum dilakukan Menteri BUMN Dahlan Iskan di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, wilayah yang terletak di perbatasan RI-Timor Leste. Dahlan berada  di Belu setelah menempuh perjalanan darat dari Dili, Timor Leste, untuk meresmikan jaringan Telkomsel di negara tersebut.

Dahlan tiba bersama sejumlah pejabat BUMN dan Duta Besar RI untuk Timor Leste Primanto Hendrasmono dan disambut dengan upacara adat di pintu perbatasan sebelum bertolak ke Desa Dualaus untuk menanam sorgum. Dalam sambutannya ia mengatakan kegiatan itu masih dalam tahap uji coba bekerja sama dengan PT (Persero) Bintan Teknologi yang akan menyalurkan bantuan mesin pengolah sorgum kepada masyarakat.

“Hasil riset menyebut setiap 150 hektare sorgum menghasilkan 1.000 liter bioetanol per hari,” kata Dahlan. Karena itu, selain diberi bantuan mesin untuk mengolah sorgum menjadi tepung, masyarakat yang mengembangkan sorgum juga akan diberikan mesin untuk mengolah batang sorgum menjadi minyak. Minyak yang dihasilkan sorgum bisa mengantikan bahan bakar minyak tanah.

Acara yang berlangsung Jumat (18/1) tersebut dihadiri ratusan warga bersama pejabat daerah setempat. Dahlan minta tanaman yang dikembangkan jangan sampai gagal sehingga pemerintah Kabupaten Belu juga diminta turut  mengawasi. “Apabila pemerintah daerah dan rakyat benar-benar punya perhatian, kita akan perluas lahan penanaman sorgum,” ujarnya. (PO/OL-01)

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/01/19/6/124022/Tanaman-Sorgun-Dikembangkan-di-Perbatasan-RI-Timor-Leste

.

BUMN akan Kucurkan Rp 20 Miliar ke Atambua

Kiat Dahlan Iskan Entas Kemiskinan

JAKARTA – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan membuat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dengan membuat perkebunan sorgum di Atambua, NTT. Itu adalah salah satu ide Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk mengentaskan kemiskinan di daerah pelosok Indonesia.

Pihak BUMN akan mengucurkan dana PKBL sebesar Rp 10-20 miliar sebagai modal membantu masyarakat dalam menanam sorgum. “Kita akan serius sekali mengentaskan kemiskinan disini. Nanti akan ada 1.500 hektar lahan milik petani ditanami sorgum. Untuk membangun ini kita akan bantu dana Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar,” ucap Dahlan di Kementerian BUMN, Jalan Merdeka Selatan, Kamis (3/1).

Selain menanam sorgum, Dahlan menyebut juga akan membangun satu pabrik pengolahan sorgum menjadi tepung di NTT. Dan dana pembangunan pabrik ini akan digunakan dari dana Rp 20 miliar yang telah disiapkan BUMN.

“Dananya oleh BUMN, termasuk dalam Rp 20 miliar tadi. Agar masyarakat miskin di Atambua mendapat jalan keluar. Nanti pabriknya di Atambua juga,” cetus Dahlan.

Mantan Dirut PLN ini berharap setidaknya program ini akan menjadi jalan keluar bagi masyarakat miskin di NTT, dan nantinya batang sorgum tersebut bisa juga dijadikan makanan ternak, sehingga harganya bisa lebih terjangkau di NTT.

“Batang sorgum nantinya bisa jadi makanan ternak di sana. Di NTT Lebih baik makanan ternak disubsidi biar harganya tidak mahal,” cetus Dahlan. (chi/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2013/01/03/152865/BUMN-akan-Kucurkan-Rp-20-Miliar-ke-Atambua-

.

Dahlan Tanam Sorgum di Belu

Tak cuma itu, Dahlan juga akan memanfaatkan kunjungan besok, Jumat(18/1), untuk melihat prospek pembangunan PLTU Aufuik di Belu. Sesuai agenda Meneg BUMN akan tiba di Atambua, Belu melalui pintu perbatasan Mota’ain dari kunjungannya ke Dili, Timor Leste.”Bapak Dahlan Iskan akan mengunjungi Belu hari Jumat (18/1).

Beliau nantinya akan melakukan penanaman benih sorgum serta meninjau pembangunan PLTU Aufik,” ungkap koordinator atau project manajemen budi daya sorgum di NTT, Kusmanandar kepada koran ini, Rabu(16/1). Kusmanandar menjelaskan, pengembangan tanaman sorgum di Kabupaten Belu ini merupakan tindak lanjut dari ide Meneg BUMN, dimana menurut Dahlan Iskan, sorgum merupakan tanaman pangan yang hingga kini hampir punah karena tidak ada pengembangan lagi.

Karena itu dipililah tiga kabupaten di NTT, yakni Belu, TTS dan Kabupaten Kupang untuk penanaman sorgum ini. Tujuannya, kata Kusmanandar, untuk menjaga ketahanan pangan bagi masyarakat di NTT. “Aksi tanam sorgum ini merupakan bagian dari program “BUMN Peduli” yang disposnsori oleh PT. Askes dan PT. Pertamina Tbk,” beber Kusmanandar. Dikatakan, pengembangan sorgum di NTT untuk musim tanam ini seluas 1.500 hektare, masing-masing berada di Kabupaten Belu, meliputi Kecamatan Kota Atambua, Wewiku dan Weliman.

Selain itu, ada di Soe, Kabupaten TTS dan Camplong Kabupaten Kupang. Untuk penanaman sorgum di Atambua, kata Kusmanandar, yang akan dilakukan bersama Menteri BUMN, seluas 50 hektare. Kusmanandar yang saat itu didampingi koordinator lapangan, Jajat Darojat dan koordinator teknis, Nurcholis mengemukakan, sorgum merupakan salah satu tanaman pangan yang ditanam oleh masyarakat NTT sejak dahulu kala.

Hanya saja tanaman pangan ini mulai tidak dibudidayakan lagi dan hampir punah. Dengan pengembangan ini, diharapkan dapat menjadi tanaman andalan kedepan selain jagung dan padi. Sorgum, tambah kusmanandar, selain sebagai makanan juga memiliki manfaat lain, yakni daunnya sebagai pakan ternak, batang sorgum dijadikan gula maupun bioetanol atau lebih dikenal food, feed and energy.

Dikemukakan, pengembangan tanaman sorgum tidak saja untuk penanaman saja, namun juga dilakukan pendampingan dengan sistem pertanian modern, mulai dari cocok tanam, perawatan hingga panenan. Pendampingan ujarnya, akan terus dilakukan pihaknya hingga masyarakat mandiri dan amampu melakukan pengembangan atau pembudidayaaan sorgum itu sendiri.

Pada bagian akhir dia mengatakan, pihaknya sudah melaporkan hal tersebut pada Bupati Belu, Joachim Lopez dan pemerintah menyambut baik pengembangan sorgum di Belu, yang dilakukan Kementerian BUMN. “Kami sudah laporkan kunjungan menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada Pak Bupati Belu. Pak Bupati menyambut baik dan mendukung program ini,” ungkap Kusmunandar.

http://nttprov.go.id/2012/index.php/en/89-berita-aktual/311-22

.

Dahlan Minta Penanaman Sorgum Diawasi Bersama

ATAMBUA-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan akhirnya memenuhi janji mengunjungi Kabupaten Belu, Jumat, (18/1) kemarin, setelah beberapa waktu lalu tertunda untuk mengunjungi daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu. Berdasarkan pantauan koran ini, orang nomor satu di jajaran Kementerian BUMN dan rombongan, rencananya menggunakan pesawat dari Dili, Timor Leste dan mendarat di Bandara Atambua, pukul 07.00 Wita, setelah meresmikan Telkomsel di Dili.

Namun akibat cuaca yang buruk, Dahlan Iskan batal menggunakan pesawat dan melakukan perjalanan darat dari Dili menuju Belu. Menteri BUMN bersama rombongan tiba di perbatasan pintu Mota”ain, Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu sekira pukul 10:30 Wita, untuk mengikuti acara ground breaking PKBL BUMN dengan program Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemisikinan di daerah perbatasan.

Dahlan yang saat itu didampingi Duta Besar RI untuk Timor Leste, Primanto Hendrasmoro, diterima secara adat Belu, yakni Hase Hawaka dan pengalungan kain tenun. Usai melakukan acara penerimaan tersebut, Dahlan diterima Bupati Belu, Joachim Lopez, didampingi Kajari Atambua, Ketua Pengadilan, Danyon Yonif 744, Dansatgas Pamtas Yonif 312 RI-RDTL, Dandim 1605 Belu dan utusan Kapolres Belu.

Rombongan Menteri BUMN, Bupati Belu langsung menuju ke lokasi untuk melakukan penaman bibit Sorgum di Kabupaten Belu. Setibanya di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Dahlan langsung melakukan penanaman sorgum secara simbolis ditemani Bupati Belu. Setelah selesai melakukan tanam secara simbolis, bersama rombongan Menteri BUMN bersama bupati Belu meninjau posko pelayanan kesehatan gratis atau pengobatan gratis dari PT. Askes, kepada masyarakat di desa itu.

Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam guyuran hujan yang begitu deras mengemukakan, penanaman bibit Sorgum merupakan upaya pihaknya dalam meningkatkan ketahanan pangan untuk masyarakat NTT, salah satunya Kabupaten Belu. Karena itu masyarakat diminta untuk mengawasi, bergerak dan membantu program sorgum di NTT.

“Saya minta masyarakat tolong awasi, bergerak dan membantu pengembangan sorgum, agar sesuai dengan cita-cita. Kalau tidak sesuai dengan cita-cita bapak ibu, silakan melaporkan kepada bupati ataupun saya,” sebutnya.

Mantan Dirut PLN itu mengatakan, pengembangan sorgum sangat penting untuk masa yang akan datang. Pasalnya, sorgum memiliki beberapa keunggulan. Adapun keunggulan itu antara lain, dapat dijadikan tepung, dan batangnya dapat dijadikan bioetanol, serta sisa ampas batangnya dapat dijadikan pakan ternak yang menyerupai permen.

Melihat keunggulan itu, maka pihaknya meminta agar pengembangan sorgum secara kontiniyu dan berhasil baik. Ke depan, pihaknya akan memberikan bantuan mesin pembuat tepung, pembuat minyak biaetanol dan komfor berbahan bakar biaetanol.

“Bantuan itu akan kami berikan kalau target 200 ha Sorgum berhasil. Semua mesin akan disiapkan oleh PT Batan Teknologi dan kompor dibiayai oleh Pertamina ” papar mantan wartawan itu.

Lebih jauh dia menjelaskan, program ini tidak boleh gagal, seperti program-program lainnya. Penanaman hari ini ujarnya, tidak penting dan lebih penting adalah panenannya. “Program ini berhasil dan tidak boleh gagal,” tegas mantan CEO Jawa Pos itu.

Dia berharap, kepala desa, camat, kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, dan bupati Belu, bekerja keras agar Sorgum di Belu bisa berhasil. Dahlan berjanji akan datang kembali ke Belu tiga bulan ke depan, untuk melihat pengembangan sorgum. “Kepala desa, camat, kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan serta bupati Belu, harus kerja sungguh-sungguh hingga program ini berhasil,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Joachim Lopez, dalam sekapur sirihnya menyambut baik program pengembangan sorgum di Kabupaten Belu, dari Kementrian BUMN. “Saya atas nama masyarakat Belu, mengucapkan terima kasih kepada Kementrian BUMN karena terobosan yang telah dibuat ini telah menyentuh langsung pada akar rumput,” kata Joachim.

Dia menjelaskan, program ini sangat baik dan memberikan nilai tambah yang besar bagi masyarakat.  Pemerintah dan masyarakat kabupaten Belu mendukung program ini dan mendorong agar program Sorgum dapat dilakukan di seluruh wilayah Belu, pada musim tanam ini maupun musim tanam yang akan datang. (lok/rsy)

http://www.jpnn.com/read/2013/01/19/154991/Dahlan-Minta-Penanaman-Sorgum-Diawasi-Bersama-

.

Budidaya Sorgum Cocok di NTT

KUPANG, KOMPAS.com — Niat pemerintah membudidayakan sorgum (Sorghum spp) dinilai sangat cocok untuk kawasan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasan kuatnya karena rata-rata pulaunya merupakan daerah kering hingga gersang, karakter kawasan yang sangat ideal untuk tanaman tersebut.

“Sorgum tidak cocok untuk lahan basah. NTT nyaris tidak menyisakan lahan basah sehingga sorgum sangat cocok dibudayakan di daerah ini,” kata guru besar pertanian lahan kering dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nyoman Mahayana, Rabu (7/11/2012).

Mahayana diminta komentarnya terkait pernyataan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ketika berkunjung di Desa Prambon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (4/11/2012). Saat itu Dahlan mengungkapkan jajarannya berniat pengembangan sorgum secara nasional tahun 2013. Dengan target areal tanam awalnya 15.000 hektar, sorgum akan dibudidayakan di sejumlah daerah, termasuk di Sumba, NTT.

Menurut Mahayana, selain cocok dibudidayakan di NTT, sorgum bukan tanaman baru bagi warga setempat. Petani setempat sudah mengenal tanaman itu sejak nenek moyang mereka, meski belakangan terkesan langka setelah kalah bersaing dengan beras.

“Sorgum adalah bahan pangan bermutu tinggi. Saya sangat setuju jika sorgum menjadi tanaman pangan utama di NTT,” ujarnya.

Sorgum adalah tanaman semusim yang serbaguna. Selain merupakan sumber pangan, sorgum dapat digunakan untuk pakan ternak dan bahan baku undustri. Khusus sebagai sumber pangan, sorgum menempati urutan kelima dunia setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sementara di Asia Selatan dan Afrika, sorgum merupakan bahan pangan pokok.

http://sains.kompas.com/read/2012/11/07/1248116/Budidaya.Sorgum.Cocok.di.NTT

.

Dahlan Iskan Akan Tanam Sorgum di Atambua

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan akan membuat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) di Atambua, Nusa Tenggra Timur. Program utamanya adalah menanam tanaman sorgum di atas tanah seluas 1.500 hektare milik petani.

“Untuk membangun ini, kita akan bantu dana Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar,” kata Dahlan di Kementerian BUMN, Kamis 3 Januari 2013. Sebelumnya, Dahlan pernah berencana menanam 15 ribu hektar sorgum. Berdasarkan riset, sorgum bisa mensubstitusi impor gandum.

Dana itu menurut dia akan berasal dari kementerian yang bersumber dari dana PKBL. “Nanti juga akan dibuat pabrik pengolah sorgumnya,” katanya.

Langkah ini menurut dia merupakan salah satu program untuk mengentaskan kemiskinan di NTT. “Selain pengolahan tepung, nantinya pabrik itu juga bisa memproduksi makanan ternak dari batang sorgum. Makanan ternak ini bisa menggemukkan sapi dalam waktu cepat,” katanya.

Diwawancarai terpisah, Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Primer Muhammad Zamkhani mengatakan program ini masih digodok di Kementerian. Ia belum bisa memastikan berapa ton sorgum yang dapat dihasilkan dari program tersebut. “Karena tanahnya milik masyarakat jadi mesti sosialisasi lebih lanjut. Target memang 1.500 hektare, tapi nanti dilihat realisasinya berapa yang bersedia,” ujarnya.

Ia mengatakan masih mempertimbangkan PTPN XII atau PT BUMN Hijau Lestari yang akan menggarap proyek itu. Sorgum merupakan tanaman biji-bijian yang cocok ditanam di daerah beriklim panas dan kering. Di Indonesia sorgum dikenal dengan nama Cantel. Sorgum bisa jadi pengganti gandum untuk bahan pokok.

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/03/090451904/Dahlan-Iskan-Akan-Tanam-Sorgum-di-Atambua

.

Sorgum di Belu Harus Berhasil

ATAMBUA, TIMEX – Pengembangan tanaman sorgum di Kabupaten Belu, diwanti-wanti harus berhasil. Penegasan itu disampaikan langsung Menteri BUMN, Dahlan Iskan, saat melakukan penanaman sorgum secara simbolis di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, kemarin (18/1).

Kepada kepala desa, camat, kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, serta Bupati Belu, Joachim Lopez, Dahlan meminta untuk bekerja keras agar sorgum di Belu bisa berhasil. Bahkan, untuk menyakinkan masyarakat setempat, Dahlan berjanji akan datang kembali ke Belu, tiga bulan mendatang.

“Saya akan datang lagi ke Belu untuk memantau langsung perkembangan sorgum. Karena itu, saya minta kepala desa, camat, kepala Dinas Pertanian dan bupati Belu, harus kerja sungguh-sungguh hingga program ini berhasil,” tegas Dahlan.

Dahlan bersama rombongan Kementerian BUMN yang sedianya menggunakan pesawat dari Dili, Timor Leste, dan mendarat di Bandara Atambua, setelah meresmikan Telkomsel di Dili, mengubah rencana. Hal ini dikarenakan cuaca buruk.

Dahlan Iskan batal menggunakan pesawat, dan melakukan perjalanan darat dari Dili menuju Belu. Pantauan koran ini kemarin, menteri BUMN itu bersama rombongan tiba di perbatasan pintu Mota’ain, Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, sekira pukul 10:30 Wita.

Dahlan Iskan dan rombongan mengikuti acara ground breaking PKBL BUMN dengan program Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemisikinan, di daerah perbatasan. Dahlan didampingi Duta Besar RI untuk Timor Leste, Primanto Hendrasmoro, dan diterima secara adat Belu, yakni Hase Hawaka dan pengalungan kain tenu.

Selain bupati Belu, terlihat pula kejari Atambua, ketua Pengadilan, Danyon Yonif 744, Dansatgas Pamtas Yonif 312 RI-RDTL, Dandim 1605 Belu dan utusan Kapolres Belu, ikut dalam penyambutan Menteri BUMN itu.

Seperti disaksikan koran ini, rombongan Menteri BUMN, Bupati Belu langsung menuju ke lokasi melakukan penaman bibit sorgum. Setibanya di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Dahlan Iskan langsung menaman secara simbolis ditemani Bupati Joachim Lopez.

Selesai melakukan penanaman simbolis, rombongan Menteri BUMN bersama bupati Belu meninjau posko pelayanan kesehatan gratis atau pengobatan gratis dari PT. Askes, kepada masyarakat di desa itu.

Dalam guyuran hujan deras, Dahlan Iskan mengemukakan, penanaman bibit sorgum merupakan Kementerian BUMN meningkatkan ketahanan pangan masyarakat NTT, khususnya di Kabupaten Belu. Karena itu, dia meminta masyarakat Belu mengawasi, bergerak dan membantu program sorgum di daerah itu.

“Saya minta masyarakat tolong awasi, bergerak dan membantu pengembangan sorgum, agar sesuai dengan harapan. Kalau tidak sesuai dengan harapan bapak ibu, silakan laporkan kepada bupati ataupun saya,” sebut Dahlan.

Mantan Dirut PLN itu menambahkan, pengembangan sorgum sangat penting untuk masa yang akan datang. Pasalnya, sorgum memiliki beberapa keunggulan, yakni dapat dijadikan tepung, dan batangnya dapat dijadikan bioetanol, serta sisa ampas batangnya dapat dijadikan pakan ternak yang menyerupai permen.

Dengan keunggulan itu, Dahkan meminta agar pengembangan sorgum dilakukan secara kontinyu sehingga berhasil baik. Ke depan, kata Dahlan, Kementerian BUMN akan memberikan bantuan mesin pembuat tepung, pembuat minyak bioetanol dan kompor berbahan bakar bioetanol.

“Bantuan itu akan kami berikan, kalau target 200 hektar sorgum berhasil. Semua mesin akan disiapkan PT. Batan Teknologi, dan kompor dibiayai oleh Pertamina. Karena itu, program ini tidak boleh gagal,” papar mantan wartawan itu.

Sementara itu, Bupati Joachim Lopez, dalam sekapur sirihnya menyambut baik program pengembangan sorgum di Kabupaten Belu, dari Kementrian BUMN. “Saya atas nama masyarakat Belu, mengucapkan terima kasih kepada Kementrian BUMN karena terobosan yang telah dibuat ini telah menyentuh langsung pada akar rumput,” kata Joachim.

Dia menjelaskan, program ini sangat baik dan memberikan nilai tambah yang besar bagi masyarakat. Pemerintah dan masyarakat kabupaten Belu mendukung program ini dan mendorong agar program sorgum dapat dilakukan di seluruh wilayah Belu, pada musim tanam ini, maupun musim tanam yang akan datang. (lok/rsy)

http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=53674

One Comment to “Kilasan MH81 – Sorgum di Atambua NTT”

  1. Salut buat Pak Menteri BUMN yg sukses mengembangkan sorgum di Belu. Sekilas info ttg sorgum.
    Bagi masyarakat yang mendiami pulau Rote (pulau terselatan pada jajaran kepulauan NKRI), Provinsi NTT, sorgum merupakan komoditas yang telah lama dikenal, bahkan sebelum istilah sorgum dikenal secara luas, orang Rote dan orang NTT pada umumnya menyebutnya dengan nama “jagung rote.” Penggunaan istilah “jagung rote” itu sendiri memang hanya bersifat lokalis dan cukup sulit untuk mencari sumber pustaka untuk menjelaskannya. Mungkin penggunaan istilah ‘jagung’ masih dapat dijelaskan secara rasional bahwa memang tampilan umum tanamannya mirip dengan jagung. Namun, tatkala namanya menjadi “jagung rote,” maka istilah ini cukup sulit dijelaskan dan belum ada jawaban yang pasti mengenainya. Masyarakat Rote sendiri juga tidak dapat menjelaskan secara akurat mengenai istilah ini, paling tidak sejauh pengetahuan penulis. Salah satu jawaban yang paling mungkin adalah karena orang Rote yang telah menggunakannya sebagai bagian integral dari pola konsumsinya, selain lontar atau siwalan yang merupakan komoditas utama dan strategis untuk berbagai aktivitas dan siklus hidup mereka. Orang Rote mengolah secara sederhana hasil panen biji sorgum menjadi sejenis penganan siap saji (second food), dimana biji tersebut disangrai lalu dicampur dengan gula lontar cair, yang di samping berfungsi sebagai pemanis alami, sekaligus sebagai perekat dari biji-biji sorgum tersebut. Pada waktu dulu, produk ini selain dapat dikonsumsi untuk anggota rumah tangga (nasi, lepa alias makanan ringan khas Rote, dll.), juga sering dijadikan sebagai oleh-oleh bagi para tamu yang mengunjungi pulau Rote dan/atau bagi anggota keluarga lain yang membutuhkan, dalam bentuk lepa. Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: