Kembalikan Idealisme Pers

“Untuk mengembalikan idealisme insan pers jangan hanya menjadi tukang kritik. Insan pers selayaknya menjadi bagian integral dari usaha dan kerja keras mengembalikan idealismenya,”

dahlan-iskan - kembalikan idealisme pers

Ketua Dewan Pers Bagir Manan membuka Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se-
Nusa Dua – Para pemilik media massa dan pemimpin redaksi diimbau mengembalikan idealisme pers demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Kebebasan pers yang besar harus digunakan dengan bertanggung jawab oleh para pekerja pers. Sedangkan pemilik media massa diharapkan mendukung independensi pers dalam menyuarakan kebenaran.

Demikian wacana yang mengemuka dalam pembukaan dan diskusi acara Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se-Indonesia 2013 bertema ”Peran Media Massa untuk Menciptakan Indonesia Perkasa” di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (13/6).

Pertemuan puncak para pemimpin redaksi media massa ini dibuka oleh ketua Dewan Pers Bagir Manan.

Mengawali rangkaian acara adalah sesi diskusi bertajuk “Peran Media Massa sebagai Pendorong Ekonomi dan Transformasi Politik”.

Hadir sebagai pembicara adalah Chairman Media Group Surya Paloh, Dahlan Iskan selaku pimpinan Surat Kabar Jawa Pos, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Direktur Utama PT Surya Citra Media dan PT Elang Mahkota Teknologi Sutanto Hartono.

Surya Paloh menegaskan, news room adalah wilayah pemimpin redaksi yang tidak boleh diintervensi pemilik media massa. Surya mendukung penuh independensi demi mewujudkan idealisme pers.

“Kita harus memberikan arti kebebasan pers untuk memproteksi kepentingan nasional. Ada kebanggaan kita atas kebebasan pers di negeri ini. Kembalikan idealisme pers,” kata Surya Paloh.

Surya Paloh menuturkan, bila selama ini ada banyak kritik yang menyebutkan bahwa TV yang dipimpinnya sering menampilkan sosoknya, itu semua demi idealisme.

Menurut pimpinan Partai Nasional Demokrat ini, apa yang ia bicarakan ketika tampil di staisun televisinuya adalah demi idealisme yakni mengenai Indonesia yang harus lebih baik dan dikelola dengan benar.

Dukungan terhadap idealisme itu diibaratkan seperti bila Surya Paloh harus memilih apakah menjadi pemilik media massa yang tidak boleh memperjuangkan idealisme atau bukan sebagai pemilik media massa namun mendapat kesempatan memperjuangkan idealisme.

”Saya memilih bukan sebagai pemilik media massa namun berkesempatan memperjuangkan idealisme,” katanya.

Sedangkan Agung Prasetyo mengungkapkan, pers adalah pilar keempat demokrasi. Kondisi saat ini, pemilik media massa tergoda masuk ke arena pilar demokrasi pertama, kedua, dan ketiga yakni kekuatan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

”Banyak pemilik media massa yang tergoda masuk ke sana, bahkan di level eksekutif ada yang ingin masuk ke posisi puncak yakni kursi presiden dan wapres,” katanya.

Agung lebih setuju para pemilik media massa indepnden. Artinya, secara profesional maju mengincar posisi di eksekutif atau legislatif namun berhenti dalam pengelolaan media massa.

Pada tema senada mengenai independensi, Dahlan Iskan mengungkapkan ia pernah mengkritik Persebaya dan akhirnya menjadi manajer klub sepakbola tersebut. Hal serupa terjadi manakala ia banyak mengkritik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kemudian terpilih menjadi menteri BUMN.

Hal ini diakui menjadi godaan yang besar sebagai pemilik media massa yakni terus menerus mengkritik, kata Dahlan, membuat capek sehingga akhirnya terjun langusng untuk membenahi.

Dahlan menambahkan, untuk mengembalikan idealisme insan pers jangan hanya menjadi tukang kritik. Insan pers selayaknya menjadi bagian integral dari usaha dan kerja keras mengembalikan idealismenya.

http://www.beritasatu.com/nusantara/119399-kembalikan-idealisme-pers.html

Iklan

3 Komentar to “Kembalikan Idealisme Pers”

  1. Ternyata insan pers menggugat sendiri idealisme dirinya untuk ikut membangun Indonesia yang lebih baik dan lebih bermartabat. Apakah semua itu karena pers sekarang sudah menjadi industri yang profit oriented? Tetapi saya pribadi yang selama ini hidup sebagai insan pers, idealisme itu ada, walau mungkin prosentasenya sudah menurun dibandingkan dengan era perjuangan dulu, cuma saya yakin nilainya masih tinggi

  2. ngritik persebaya -> jadi manajernya
    ngritik PLN -> jadi dirut
    ngritik BUMN -> jadi menteri BUMN
    berarti prospek pak dahlan jadi RI-1 tipis, kan gak pernah ngritik Indonesia dan presidennya.

  3. Klo untuk pemrintah, beliau gak keritik….tapi justru berbuat langsung…hampir ke semua sektor…dan itulah keritik dan sekaligus membenahi…bagaimana seharusnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: