Belajar Saja, Waktu Pikirkan Negara Akan Tiba

Dahlan Iskan dan Isran Noor Bicara di Depan Mahasiswa Indonesia di Beijing
Dahlan iskan - Belajar Saja

BELAJAR DARI TOKOH: Menteri BUMN Dahlan Iskan berbicara di Peking University, Beijing. Foto kanan, Ketua PPIT Metta Trisna menerima plakat Apkasi dari Isran Noor.(ist)

Dahlan Iskan dan Isran Noor menjadi pembicara kunci di Beijing, Tiongkok. Metta Trisna, alumnus SMA 1 Samarinda yang juga ketua Persatuan Pelajar Indonesia-Tiongkok, adalah penggagas acara. Berikut catatan mahasiswi S-2 Hubungan Internasional di Universitas Xiamen itu, yang dikirim khusus kepada Kaltim Post.

GAGASAN itu datang tak lama sebelum Imlek menjelang, Februari lalu. Saya yang baru saja dipilih menjadi ketua PPIT, bersiap mengadakan acara tahunan organisasi. Tahun lalu, kami mengadakan Dialog Kebangsaan di Beijing. Bondan Gunawan, sekretaris pengendali pemerintahan di era Presiden Gus Dur, menjadi pembicaranya.

Nah, kali ini PPIT yang memiliki 10 ribu anggota (yang tak lain pelajar Indonesia yang belajar di Tiongkok), menyuguhkan dialog serupa. Saya dan Sekretaris PPIT Wenny Fitrianingsih lantas memilih tajuk Jiayou Indonesia. Secara harfiah dapat diartikan ajang yang “penuh harapan dan motivasi”.

Tema Jiayou Indonesia adalah “Nasionalisme Pelajar dalam Pemahaman Ekonomi yang Berkelanjutan”. Kami mengundang seluruh mahasiswa Indonesia yang berdomisili di seluruh daratan Tiongkok. Termasuk mahasiswa Indonesia dari 40 negara berbeda.

Ya, sebagai bagian dari mahasiswa di luar negeri, kami di Tiongkok juga ingin membangun jaringan komunikasi dengan pelajar Indonesia di negara lain. Kami ingin sekali menunjukkan bahwa pelajar di luar negeri memiliki perhatian dan kepedulian, dalam hal ini, ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa.

Saya tak pernah membayangkan bisa mengumpulkan sedemikian banyak orang dari berbagai tempat di dunia. Ketika masih berupa rencana –wacana tepatnya– saya bahkan tak sanggup memikirkan dari mana kami memperoleh dana. Apalagi menghadirkan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang semakin digandrungi banyak orang di Tanah Air itu. Termasuk, tentu saja kami yang berdiam di Tiongkok.

Bahkan ketika saya pulang ke Samarinda, Imlek lalu, saya masih meraba-raba mewujudkan acara ini. Tetapi kepulangan itu memberikan banyak jalan. Saya mendapat bantuan dari banyak teman dan kolega. Ketika Pak Isran Noor sebagai ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) menyatakan bersedia, semangat kami makin meningkat.

Satu per satu panitia merapatkan barisan. Meskipun cuma dua kata; “merapatkan” dan “barisan”, nyatanya itu sangat sulit diterjemahkan dengan seribu kata. Di Tiongkok, pengurus PPIT tidak berdiam di kota yang sama. Saya belajar di Xiamen, Provinsi Fujian, teman-teman yang lain di Beijing atau Shanghai. Jarak Fujian-Beijing kira-kira seperti Samarinda-Jakarta. Sulit sekali berkoordinasi.

Belum lagi ketika acara semakin dekat. Mengumpulkan seratus mahasiswa Indonesia di Tiongkok yang luas bukan hal mudah. Apalagi seratus mahasiswa Indonesia dari seluruh dunia. Kami harus menyesuaikan dan memastikan jadwal pembicara kunci.

Melobi ke kedutaan besar, kementerian, para tokoh, dan tim kesenian harus secara intens. Kami harus memastikan benar kesiapan transportasi, akomodasi, logistik, dan tentu saja publikasi. Telepon genggam saya tak berhenti berdering atau memanggil, termasuk berkomunikasi dengan sahabat saya di Samarinda, Felanans Mustari, yang wartawan Kaltim Post itu.

Puji syukur keluar dari mulut saya ketika acara berlangsung, Sabtu, 25 Juni 2013 lalu. Pak Dahlan berbicara begitu luar biasa di depan 350 mahasiswa dalam seminar “On Sustainable Development and Indonesia Cultural Night” di Peking University, Beijing.

Para mahasiswa yang kuliah di Tiongkok itu seperti tak menyangka Pak Dahlan fasih berbahasa Mandarin walaupun tak begitu lama. Dalam pidatonya, Pak Menteri menjelaskan bahwa pada usia 53 tahun dia baru sempat belajar bahasa Mandarin. Saat itu dia menjalani operasi ganti hati di rumah sakit di Tiongkok.

Pak Dahlan belajar di Kota Nanchang, Beijing, dan Harbin, yang hanya efektif tiga bulan. Tentu saja, Pak Dahlan menjadikan pengalamannya motivasi bagi kami. Para pelajar diberi semangat agar terus semangat menimba ilmu.

“Anda di sini masih muda-muda, pergunakan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa dunia,” kata Pak Dahlan waktu itu. Saya tentu saja bangga karena Pak Dahlan dulu juga pernah kuliah di Samarinda, kota kelahiran saya.

Pak Dahlan juga berpesan agar kami fokus untuk belajar. “Sekarang adalah waktunya Anda belajar. Jangan sibukkan dengan hal-hal yang lain. Tidak usah pikirkan negara, belajar saja terus. Negara sudah ada yang memikirkan dan waktu bagi kalian memikirkan negara akan tiba,” begitu pesan Pak Dahlan.

Sementara Ketua Apkasi Isran Noor lebih menjelaskan tentang situasi di Tanah Air. Perkembangan Indonesia, kata Pak Isran, di tangan daerah. Sebagai ketua Apkasi, dia berjuang memeratakan setiap sektor pembangunan agar tidak selalu terfokus di Pulau Jawa.

Apkasi juga memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia untuk pelatihan akupunktur di Tiongkok pada musim panas ini. Sementara bila ada yang berminat mendalami teknik nuklir, Apkasi berjanji membiayai studi hingga tuntas.

Kepada kami, pelajar Indonesia di Tiongkok, Pak Isran yang Bupati Kutim berpesan agar kami terus belajar. Apa yang harus ditiru dari orang Tiongkok adalah etos kerja yang jauh lebih baik dari Indonesia. Lagipula, Indonesia menyimpan sumber daya alam yang luar biasa yang harus dikelola bangsa sendiri. Mereka yang belajar ke Tiongkok dapat menjadi bagian. “Maka tak salah Rasul mengatakan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China,” kata Pak Isran lagi.

Selain Pak Isran dan Pak Dahlan, hadir pula sebagai pembicara lain yakni Wakil Ketua DPR Sohibul Iman, dan Dubes RI untuk Tiongkok Imron Cotan.

Apa yang disampaikan para tokoh ini, bagi saya, menyadarkan kita untuk memiliki integritas menjadi bangsa mandiri dan berkepribadian. Indonesia pasti dapat diperhitungkan di mata dunia. Sebagai generasi muda harapan bangsa, barang tentu harus mencintai Indonesia dan menghindari disintegrasi bangsa.

Saat ini, anak muda cenderung berkiblat kepada dunia Barat ataupun Asia Timur. Bersikap apatis dan cuek dengan kultur Indonesia.

Tetapi tidak selamanya harus begitu, bukan? Bahkan saya yang belajar di timur Asia, serasa tetap bangga dengan budaya dan style Indonesia. Jauh lebih eksotik, unik, dan tentu saja cantik. (fel/zal/k1)

http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/21741/belajar-saja-waktu-pikirkan-negara-akan-tiba.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: