Dahlan Iskan yang Saya Kenal

ADE ASEP SYARIFUDDIN, 13 September 2012

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (1)

SAYA dengan Dahlan Iskan ibarat langit dengan bumi. Apalagi sekarang dia adalah seorang pejabat penting di negeri ini, Menteri Negara BUMN. Betul saya bekerja di tempat perusahaan di mana grup ini dinaungi dia, grup Jawa Pos. Tapi kalau untuk kenal atau merasa kenal sangat berbeda kasta. Dia adalah kasta Brahmana, saya adalah kasta sudra bahkan paria.

Perjumpaan pertama mengenal wajah langsung adalah ketika saya mengikuti pelatihan manajemen pemasaran di Graha Pena Jawa Pos Surabaya. Kalau tidak salah sekitar tahun 2004. Saya turun dari terminal Bungurasih Surabaya kemudian naik Angkot ke Jl Jenderal A Yani No 88 Surabaya. Turun dari Angkot Saya berhenti dulu menatap gedung Jawa Pos yang mentereng 21 lantai. Wah bagus sekali gedung ini, gumam saya sambil melihat dengan tatapan kagum.

Untuk masuk ke gedung perkantoran harus jalan kaki dulu sekitar 300 meter dan melewati parkir. Di parkir itulah orang-orang berkata… Itu Pak Dahlan…. Saya melihat dia di dalam mobil Mercy Kompressor, menyetir sendiri, mengenakan kacamata sambil tersenyum. Waktu itu jam 5.30 WIB. Ya betul, jam setengah enam pagi. Pertanyaan saya, kok Pak Dahlan jam segitu baru pulang? Sambil berjalan menuju Gedung Graha Pena pikiran saya terus diliputi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Baru setelah mengumpulkan informasi dan bertanya ke sana kemari ditemukanlah jawaban. Pak Dahlan itu datang ke kantor jam 7 pagi dan pulang kantor jam 3 pagi. Bahkan lebih dari itu. Gila……. kata-kata spontan itu yang keluar dari mulut saya. Orang Jepang juga nggak gitu-gitu amat. Yang saya tahu, orang Jepang pekerja keras dan bekerja sekitar 16 jam sehari semalam. Ini melebihi cara bekerja orang Jepang. Pantas saja Jawa Pos cepat maju dan tumbuh pesat seperti sekarang. Bekerja sudah tidak hitung-hitungan.

Saya juga mendengar dari senior-senior saya, bahwa Pak Dahlan sering mengatakan bahwa manusia ini seperti karet baik pikiran maupun fisiknya. Semakin ditarik, karet itu semakin melar dan semakin panjang. Tapi kalau didiamkan begitu saja, ya karet itu tetap saja pendek. Artinya, kalau pikiran dan tenaga digunakan secara maksimal, kita bisa melakukan banyak hal dan kita bisa melakukan itu. Tapi kalau pikiran didiamkan dan tenaga dimanja tidak melakukan apa-apa, lama kelamaan pikiran dan tenaga yang sangat luar biasa ini menjadi disfungsi, bahkan “impoten” alias tidak bisa melakukan apa-apa. Inilah kelompok orang-orang yang suka mengeluh dengan pekerjaan. Diberikan pekerjaan yang sederhana saja akan langsung terasa berat, apalagi pekerjaan yang berat.

Waktu-waktu berikutnya saya sangat jarang ketemu Pak Dahlan. Hanya cerita-cerita yang cukup seram (dalam pandangan saya saat itu). Konon Pak Dahlan sangat galak, anti rokok, dan ngomong blak-blakan di forum. Apalagi kalau forum evaluasi perusahaan. Pernah ada GM (General Manager) satu perusahaan koran dengan umur piutang tinggi (di luar batas toleransi) langsung disuruh pulang. Katanya, ngapain datang ke sini kalau tidak becus kerja. Pulang saja dulu, menagih utang. Kalau sudah tertagih baru datang ke sini untuk evaluasi.

Wah… wah… wah… semakin merinding dan takut. Tapi saya berpikir semua yang dilakukan Pak Dahlan adalah benar. Kalau perusahaan tidak dikelola secara tegas, karyawan akan semau gue, sekarep dewek, dan bahkan bermalas-malasan. Yang diterapkan disiplin saja belum tentu bisa disiplin semua. Apalagi kalau dibiarkan tidak disiplin. Pilihannya hanya dua, apakah menggunakan disiplin tinggi dengan balasan perusahaan maju pesat. Atau membiarkan karyawan dengan gaya masing-masing dengan konsekuensi satu ketika bisa saja perusahaan itu bangkrut.

Saya bisa membenarkan mengapa Pak Dahlan bersikap tegas seperti itu. Jawa Pos dengan oplah kecil saat ketika pertama kali dibeli dan hampir bangkrut, beberapa tahun kemudian maju pesat dan menjadi market leader.

Dulu di Surabaya koran itu koran sore, karena koran terbesar di surabaya era 80 an adalah koran sore. Untuk mengubah paradigma dari koran sore ke koran pagi saja setengah mati. Baru ketika Jawa Pos meningkatkan kualitas di berbagai sisi dengan penetrasi pasar yang kuat, masyarakat mulai melek bahwa koran itu ya terbit pagi, bukan sore.

Tapi cerita itu kebanyakan bersumber dari mulut orang lain. Untuk bertemu langsung, diskusi bahkan ngobrol terbuka sangat-sangat tidak mungkin. Siapa saya ini, dan siapa dia. Tembok besar saya sebagai karyawan kemarin sore dengan seorang bos yang sudah malang melintang menjadi pembatas yang luar biasa kuat. Walaupun saya pernah juga berpikir, kayanya Pak Dahlan orangnya enak diajak bicara, kalau nyelonong mendekat dan ngobrol pasti dia mau menjawab dengan senang hati.

Tapi rasa segan diliputi rasa takut salah bicara jauh lebih kuat ketimbang keputusan nekat tersebut. Kalau saya bicara langsung menemui dia kan bisa parah, resikonya bisa besar. Kalau kinerja perusahaan gak bagus-bagus amat gak usah dekat-dekat Pak Bos. Tar kalau ditanyain dan salah bisa-bisa diberhentikan dari posisi sekarang. Bisa berabe deh.

GANTI HATI

Kabar tentang sakit yang berkepenjangan Pak Dahlan cepat menyebar ke seluruh anak perusahaan, termasuk ke saya. Ketika ada pertemuan di Surabaya saya kedapatan mendengarkan cerita dari Pak Dahlan langsung. Dia berkata, “Hati saya diganti karena terkena virus hepatitis. Dulu waktu kecil saya tidak pernah imunisasi hepatitis. Karena kerja terlalu keras tidak mengenal waktu, hati saya yang terkena virus tadi teridap kanker dan dokter memvonis waktu hidup saya hanya 6 bulan dari saat itu,” ujarnya.

“Dengan keputusan yang nekat, saya memutuskan untuk ganti hati. Alhamdulillah berhasil walaupun harus disiplin minum obat setiap jam 5 pagi dan jam 5 sore. Dan tidak boleh terkena flu dan demam selama satu tahun. Bila kena maka alamat hati baru saya tidak berfungsi maksimal. Sekarang ini saya harus makan yang enak-enak dan tidak boleh bekerja keras dulu,” ujarnya.

Ganti hati Pak Dahlan yang berhasil menjadi bahan cerita yang tak kunjung usai. Apalagi sebelum itu Prof Dr Nurcholish Madjid gagal menjalani operasi ganti hati. Ganti hati termasuk operasi besar dan jarang dilakukan pada saat itu. Namun Pak Dahlan ternyata bisa. Dan usianya yang divonis hanya 6 bulan lagi pada saat diperiksa dokter, otomatis bisa bertambah. Entah berapa tahun bertambahnya, dokter tidak mengatakan secara tegas.

Setahun setelah ganti hati, saya diberikan kesempatan bertemu di Radar Cirebon. Saya diajak oleh Pak Yanto, CEO Radar Cirebon grup untuk bertemu Pak Dahlan bersama dengan teman-teman lainnya. Bahkan sempat mengantar ke Hotel Grage Sangkan di Kuningan dan makan malam di sana. Kemudian dia meminta untuk diajak ke Semarang dan menginap di Pekalongan di Hotel Nirwana. Sebelumnya teman-teman di Radar Pekalongan pernah juga bercerita, dulu sekali Pak Dahlan pernah ke sini. Dia minta keliling Pekalongan dengan naik becak. Ini berarti kali kedua dia ke Pekalongan.

Setelah itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Dahlan secara langsung. Hanya ceritanya yang terus datang mengalir silih berganti sebagai simbol success story Jawa Pos dan anak-anak perusahaannya.

Dalam hati kecil saya sebelum tidur saya sering bertanya, mungkinkah saya bisa bertemu lagi dengan Pak Dahlan dengan suasana dan cerita yang berbeda? Dan saya jauh lebih dekat mengenal watak, gagasan dan pikirannya? Jawabannya tidak kunjung muncul, karena memang tidak ada jalur yang menghubungkan dengan Pak Dahlan yang bisa langsung berkomunikasi. Saya hanya bisa bergumam, “Perhaps somedays I meet Mr Dahlan Iskan. Maybe yes, maybe no. Ah kaya iklan saja…… (Bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/427405457294540/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (2)

Oleh: ADE ASEP SYARIFUDDIN

KETIKA Pak Dahlan diangkat menjadi Dirut PLN saya setengah tidak percaya, untuk tidak mengatakan sangsi.

Ketidakpercayaan saya ada beberapa hal. Pertama Pak Dahlan tidak memiliki latar belakang listrik. Dia hanya lulusan Madrasah Aliyah yang belajar Tarikh Islam, Quran-Hadits, Fiqih dan Bahasa Arab. Sama sekali tidak mempelajari listrik.

Kalau belajar di SMK masih bisa nyambung karena jurusan listrik memang ada. Walaupun latar belakang pendidikan sama sekali tidak connect, saya mendengar Pak Dahlan memiliki pembangkit swasta di Kalimantan. Tepatnya saya tidak terlalu tahu di mana. Apakah itu yang menjadi pertimbangan negeri ini mengangkat Pak Dahlan jadi Dirut PLN?

Kesangsian kedua, Pak Dahlan bisa hebat di media, tapi apa dia juga bisa hebat di perusahaan setrum milik negara itu? Saya terus mengikuti berita-berita Pak Dahlan dengan perasaan cemas. Takut-takut kalau terjadi penolakan dari internal PLN.

Dan yang saya khawatirkan terjadi juga. Serikat kerja PLN menolak Pak Dahlan sebagai Direktur Utama PLN. Entah penolakan murni karena mereka sangsi atas kemampuan Pak Dahlan yang berasal dari luar PLN atau memang ada sponsor yang menggembosi. Saya tidak tahu persis mana yang benar. Tapi semua itu bisa diselesaikan secara smooth.

Sebagaimana diketahui juga PLN pada waktu-waktu sebelumnya sangat kental dengan aroma korupsi. Beberapa pejabat penting sebelumnya harus meringkuk di hotel prodeo karena terbukti menyalahgunakan uang PLN alias korupsi.

Belum lagi kinerja yang buruk dan kebiasaan byar-pet yang tak kunjung ditemukan solusinya. Benar-benar berat dan penuh resiko. Ibarat meluncur ke tengah-tengah pusaran neraka persoalan.

Beberapa kebijakan diterapkan terutama menyetop celah-celah yang memungkinkan korupsi bisa terjadi. Seperti memangkas jumlah rapat, menghilangkan uang-uang perjalanan, setahap demi setahap mengganti listrik pasca bayar ke pra bayar. Dan PR yang luar biasa besar adalah meminimalisir pemadaman bergilir. Dan kebijakan lain yang intinya efisiensi keuangan dan perbaikan kinerja PLN. Di daerah tidak ada lagi peluang untuk menerima, mengumpulkan dan memakai uang. Semuanya terpusat satu pintu.

Kebijakan tersebut berimbas pada semua karyawan. Salah satunya adalah teman saya (bukan orang Pekalongan). Jabatan dia saat itu hanya wakil pimpinan di sebuah kantor PLN kecamatan. Dengan kebijakan tersebut dia mengatakan, sejak bosnya diganti, PLN “kering”. Hanya mendapatkan gaji saja. Biasanya ada SPJ, ada belanja ini dan itu ketika ada pimpinan datang dari Jakarta atau dari wilayah. Pokoknya banyak uang luar di luar gaji menghilang bak awan disapu angin.

Karyawan boleh tidak puas karena tidak bisa lagi mengelola uang negara itu seenaknya. Tapi kinerja korporasi terus meroket dan PLN bisa juga menjadi baik kalau yang memimpin adalah orang baik dan terampil mengelola orang-orang hebat di dalam tubuh PLN.

Saya masih ingat kata-kata Pak Dahlan yang mengatakan bahwa PLN ini adalah kumpulan orang-orang hebat. PLN hanya butuh tambahan satu orang bodoh seperti saya supaya bisa membaik.

Motonya pun diubah menjadi Kerja… Kerja… Kerja…. Awalnya Pak Dahlan ingin menambah kalimat, Jauhi Politik…. Kerja…. Kerja… Kerja. Tapi ada yang mengingatkan bahwa kata-kata jauhi politik ini bisa ditafsirkan beragam dari kacamata politik. Akhirnya hanya tiga kata itu saja yang menjadi moto PLN.

DIANGKAT MENTERI

Tidak lama menjadi Dirut PLN Pak Dahlan ditawari jabatan baru menjadi Menteri Negara BUMN. Sebetulnya Pak Dahlan agak sungkan untuk menjadi Menteri. Dulu setelah sehat dari ganti hati pun cita-citanya hanya tiga: menjadi guru jurnalistik, menulis buku dan mengelola pesantren.

Tapi situasi berkata lain. Pak Mustofa Abubakar Meneg BUMN sebelumnya sakit dalam waktu berkepanjangan. Sehingga tidak bisa melanjutkan untuk mengemban amanahnya. Dan dilantiklah Pak Dahlan menjadi Meneg BUMN. Walaupun mengenakan jas, peci dan dasi, sepatu ketsnya tetap dipakai. Tapi karena sepatunya berwarna gelap, tidak terlalu kentara. Belakangan diketahui bahwa dasi waktu pelantikan Menteri adalah dasi pinjaman dari Satpam PLN.

Dalam kesempatan pertemuan Surat kabar se Asia Pasifik di Bali beberapa bulan yang lalu, Pak Dahlan yang merasa tidak di Jawa Pos lagi diundang oleh Forum tersebut. Dia pidato dalam Bahasa Inggris, yang intinya pemerintah telah salah memilih dirinya menjadi Dirut PLN dan Meneg BUMN. “Maybe because I am crazy, government choose me as a Minister state Entrepreneur….” Sambutan tersebut disambut applause dan ketawa lebar para audiens.

Di sela-sela rehat acara, saya dipanggil Pak Yanto, CEO Radar Cirebon grup dan diajak ngobrol dengan 2 orang tinggi besar yang berkemeja putih dan celana hitam. Belakangan saya mengetahui dua orang tersebut, yang pertama adalah Pak Aziz Humas Kementerian BUMN dan yang kedua adalah Pak Budi Rahman Hakim biasa dipanggil Pak BRH, CEO Rakyat Merdeka grup. “Pak Dahlan mau berkunjung ke Pekalongan,” tutur Pak Aziz.

Saya hanya manggut-manggut, tidak terlalu merespons. Saya berpikir Pak Dahlan bisa ke mana saja termasuk ke Pekalongan. Tapi apa urusan saya dengan beliau.

Namun sesampainya di Pekalongan kabar tentang rencana Pak Dahlan mau ke Pekalongan saya dengar dari banyak orang. Saya bergumam, serius juga Pak Dahlan mau ke Pekalongan. Kalau memang dia mau ke sini saya sangat senang dan saya siap melakukan apapun.

Apakah ini mimpi? Seumur-umur saya belum pernah merencanakan untuk mengundang menteri. Saya memang pernah bersalaman dengan Pak Harto, sekitar tahun 1994, bersalaman dengan Harmoko tahun 1997, bersalaman dengan Gus Dur, tapi sebelum jadi Presiden. Tapi kalau mengundang menteri, kayanya mission impossible. (bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/427405707294515/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dahlan Iskan yang Saya Kenal (3)

Oleh: Ade Asep Syarifuddin

SETELAH mengetahui ada rencana Pak Dahlan berkunjung ke Pekalongan, saya mencari informasi ke sana kemari, bagaimana caranya mengundang menteri.

Hampir semua koran di bawah CEO Pak Yanto, Radar Cirebon grup sudah mengundang Pak Dahlan. Yang jelas harus ada even yang cukup besar, kunjungan tidak hanya satu titik acara dan harus sesuai dengan selera Pak Dahlan. Yang terakhir ini saya agak bingung karena tafsir atas selera menjadi sangat subjektif.Saya buat proposal dengan teman-teman. Kalau acara yang mengundang masa cukup banyak, dari berbagai kalangan ya jalan sehat. Maka diputuskanlah mengundang Pak Dahlan untuk meresmikan gedung Graha Pena Radar Pekalongan dimeriahkan acara jalan sehat.Untuk mengetahui seleranya, beberapa acara Pak Dahlan yang diselenggarakan di Jawa Tengah saya ikuti semua. Mulai dari acara di Harian Magelang Ekspres, acara di Wonosobo dan terakhir di Ngawi, Jawa Timur.Di Magelang Ekspres inilah tanggal 8 Juli hari Minggu pertama kali saya berkenalan dengan staf-staf ahlinya Pak Dahlan. Dengan Pak Miratul Mukminin yang akrab dipanggil Gus Amik dan Pak Budi Rahman Hakim yang sering dipanggil Pak BRH. Tanggal yang ditetapkan adalah 8, 9 September 2012. Mengapa tanggal tersebut? Tidak ada pertimbangan khusus, selain melihat bahwa angka 8 dan 9 itu angka yang bagus.Yang penting saya sudah kenal Pak BRH. Dengan Gus Amik waktu di Magelang saya belum kenal dekat. Tapi gak pa pa lah. Sambil jalan tentu semuanya akan bertambah dekat. Beberapa minggu setelah proposal diberikan belum ada jawaban pasti bahwa Pak Dahlan bisa hadir. Ini tentu membingungkan.Pak Yanto menyarankan saya datang ke Wonosobo karena ada acara Pak Dahlan di sana shalat tarawih bersama warga Wonosobo dilanjutkan dengan acara salawat mengundang Habib Syekh.Saya semakin optimis Pak Dahlan bisa hadir. Walaupun saran Pak Yanto jangan dipublish dulu di koran. Kalau berubah waktu kan bisa repot. Urusannya dengan massa.Saya semakin semangat dan merasa wajah Pak Dahlan selalu hadir di depan mata. Dan tanpa terasa saya mulai ngefans. Buku-Bukunya mulai saya beli. Yang saya beli pertama kali adalah Dua Tangisan Ribuan Tawa. Isinya tentang pengalaman dan manajemen praktis ketika Pak Dahlan jadi Dirut PLN.Sementara yang satunya adalah Novel Sepatu Dahlan. Novel ini ditulis Krishna Pabichara, inspirasi tulisannya berasal dari cerita masa kecil Pak Dahlan. Saya bisa meneteskan air mata membaca novel ini. Betapa miskinnya masa kecil Pak Dahlan. (bersambung)*) Penulis adl GM Radar Pekalongan~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Dahlan Iskan yang Saya Kenal (4)Oleh Ade Asep Syarifuddin

SEORANG fans harus tahu betul idolanya. Baik biografinya, gagasan dan pemikirannya, kebiasaan-kebiasaannya. Sehingga akan semakin utuh ketika ingin menirunya. Untuk meniru secara 100% memang sangat tidak mungkin, tapi kalau setahap demi setahap meniru yang diidolakan, sangat mungkin bisa dilakukan.

Selain bertemu langsung, saya membeli buku-buku yang berkaitan dengan Pak Dahlan. Buku pertama yang saya beli adalah Dua Tangisan dan Ribuan Tawa. Isinya cerita-cerita inspirasi yang berkaitan dengan tugas Pak Dahlan ketika di PLN, buku kedua adalah novel Sepatu Dahlan karya Krishna Pabichara. Bahasanya ringan, mudah dipahami, apalagi ditulis oleh orang yang handal membuat fiksi.

Memang penulis novel Sepatu Dahlan tidak mengatakan itu biografi Pak Dahlan. Tapi novel yang diinspirasi oleh cerita masa kecil Dahlan Iskan. Tapi saya yakin sedikit banyak novel itu memang cerita Pak Dahlan yang hidup sangat miskin. Cita-citanya hanya 2, memiliki sepatu dan sepeda. Cita-cita pertama tercapai ketika kelas 2 Aliyah, itupun hanya dipakai seminggu sekali.

Mengapa demikian karena sepatu itu hanya dipakai hari Senin untuk upacara bendera. Itu pun bagian jempol sepatu itu sudah bolong-bolong. Dan kalau dipakai setiap hari, pasti sangat menyiksa. Karena tidak biasa pakai sepatu pasti kakinya sangat-sangat terganggu. Lagian kalau dipakai tiap hari, sepatu itu akan cepat rusak. Sementara untuk membeli lagi sepatu, harus menunggu dalam waktu cukup lama. Saya hanya berkaca-kaca membaca novel itu. Saya juga waktu kecil hidup miskin, tapi nggak gitu-gitu amat. masih bisa pakai sepatu walaupun sepatu pemberian.

Karena berbagai alasan, saya membeli lagi 10 buku. Judul-judulnya adalah, Tidak ada yang Tidak Bisa, Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang, Spirit Hidup Dahlan Iskan, Dahlan Juga Manusia, Pelajaran dari Tiongkok, Ganti Hati, Kentut Model Ekonomi, Dahlan Iskan Pemimpin yang Happy, Leadership ala Dahlan Iskan. Dan banyak lagi buku-buku yang berkenaan dengan beliau baik ditulis langsung maupun ditulis oleh orang lain.

Sebelum ini saya memang banyak membaca buku yang berkaitan dengan motivasi dan mindset. Hanya memang kelemahannya, kebanyakan penulis hanya mengemukakan teori-teori motivasi. Atau saya punya keraguan kepada penulis buku sebelumnya, apakah dia bisa mengaplikasikan semuanya yang dia tulis?

Sementara ketika membaca buku Dahlan Iskan saya benar-benar merasa menjadi Dahlan Iskan yang memiliki gaya kepemimpinan dan manajerial yang handal dan langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya kepemimpinannya sangat sederhana, tidak terlalu pusing untuk menerapkannya, karena memang yang dia tulis adalah yang pernah dia lakukan. Pak Dahlan selalu menulis cerita yang tengah terjadi.

Semuanya dibuat sederhana, semuanya dibuat masuk akal dan akar persoalan ditemukan dan jelas dengan jalan keluarnya. Alur berpikirnya kira-kira demikian, menemukan persoalan—- menemukan penyebabnya —- mencari jalan keluarnya. Persoalan penumpang kereta api sebagai contoh. Pertanyaannya adalah, mengapa penumpang kereta api selalu berdesak-desakan? Apakah tidak bisa naik kereta api dengan nyaman? Penyebabnya ternyata fungsi tiket kereta tidak sama dengan tiket pesawat, Mengapa di pesawat bisa tertib, sementara di kereta tidak.

Maka dibuatlah solusi, nama di tiket harus sama dengan kartu pengenal. Dan penumpang tidak bisa masuk kereta kalau tidak memiliki tiket. Tidak ada lagi istilah salam tempel di dalam kereta. Cara ini juga bisa menghindari percaloan, karena calo tidak bisa membeli tiket tanpa nama jelas sesuai dengan calon penumpang. Padahal mafia calo sudah mendarah daging sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Sekarang, penumpang kereta api bisa duduk dengan nyaman, tidak berdesak-desakan bahkan kelas ekonomi sudah ada yang ber-AC.

Tidak hanya saya yang ngefans dengan Pak Dahlan, istri saya juga jadi ikut-ikutan. Entah pengaruh apa sampai meraksuk ke dalam jiwanya. Dia menghabiskan Novel Sepatu Dahlan hanya 2 hari, walaupun sibuk ngurus rumah tangga. Sementara saya butuh beberapa minggu. Jadilah diskusi Pak Dahlan di sele-sela waktu senggang. Asyik juga sebenarnya ada teman diskusi, bisa mempertajam pemahaman.

Untuk persiapan menyambut Pak Dahlan ke Pekalongan, saya mengumpulkan teman-teman seluruhnya di Radar Pekalongan, tidak terkecuali office boy. Saya bilang ke teman-teman dalam acara pembentukan panitia. Kita mau mengundang orang hebat ke Pekalongan, Pak Dahlan. Insya Allah dia bisa hadir pada waktu yang sudah ditentukan. Pertanyaan saya ke teman-teman, apa latar belakang saya mengundang Pak Dahlan?

Sebelum mereka menjawab saya jawab dulu sendiri. Apakah ingin terlihat hebat karena bisa mengundang Menteri? Apakah supaya ngetop? Atau hanya untuk gagah-gagahan saja supaya orang bilang hebat? Saya bilang jawaban tadi memang diperlukan. Tapi bukan hanya itu motivasinya. Yang lebih penting adalah, bisakah kita meniru kebiasaan Pak Dahlan ke dalam pekerjaan yang kita lakukan tiap hari. Karena Pak Dahlan adalah wartawan, pengelola media. Untuk mencontek pekerjaannya sangat mudah karena sangat berhubungan dengan pekerjaan kita.

Coba kita mengundang Tukul. Bisa jadi kita senang, kita bahagia dan kita menjadi happy. Tapi ketika kebiasaan Tukul kita tiru dalam kehidupan sehari-hari, mana mungkin bisa diterapkan. Teman-taman saya yang wartawan dan penjual koran harus berubah profesi menjadi pelawak. Sangat jauh dengan pekerjaan yang kita lakukan. Tidak salah juga mengundang tokoh terkenal, tapi ini lebih pas dengan profesi kita.

Saya hanya memberitahu kepada teman-teman saat itu, Pak Dahlan hanyalah lulusan Aliyah (setingkat SMA), kuliah hanya satu tahun kemudian drop out karena aktif di pers kampus. Tapi bisa menjadi menteri. Menjadi menteri itu bukan karena pendidikan formalnya, tapi lebih dilatarbelakangi oleh kemampuan dan kinerjanya. Siapapun bisa belajar menjadi orang hebat dengan cara membaca, belajar pengalaman orang lain dan lebih penting lagi kita mulai melakukan sesuatu. Belajar dengan cara berbuat jauh lebih mengkristal ketimbang dengan cara belajar lainnya.

Jadi kalau mau bisa,lakukanlah sesuatu jangan terlalu banyak pertimbangan. Salah juga gak apa-apa. Kan kita bisa tahu salah dan benar setelah kita berbuat. Kita tahu yang cocok dan tidak setelah dilakukan dan dicoba. Pak Dahlan adalah orang yang banyak belajar dengan berbuat. Kutu buku dan aktifis, membaca buku, praktek dalam kehidupan, sehingga bisa memahami spirit untuk maju itu apa saja syarat yang harus dimilikinya.

Sampai saat ini saya belum tertarik dengan buku-buku motivasi lain. Paling tidak saya punya 12 buku Pak Dahlan yang belum dibaca semua. Semangat yang muncul luar biasa, seperti menemukan spirit hidup.

Dulu saya pernah heran kepada anak-anak remaja yang histeris ketika melihat idolanya. Sampai-sampai dibelain untuk melakukan apapun asalkan bertemu idola pujaannya. Sekarang saya baru memahami, memang mengidolakan seseorang itu penuh dengan spirit dan semangat. Hari-hari sangat termotivasi, capek dan lelah, kurang tidur dan perjalanan jauh sudah tidak dirasakan lagi sebagai beban. Bahagia aja gitu lho…..

Saya berharap, teman-teman di Radar Pekalongan pun memiliki spirit yang sama untuk meniru semangat Pak Dahlan secara totaly. Sehingga bisa bekerja dengan hati, bekerja dengan semangat dan bekerja tidak hitung-hitungan waktu maupun pendapatan. Tidak hanya di Radar Pekalongan, semoga spiritnya sampai juga ke masyarakat Pekalongan. Semoga. (bersambung)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlaniskangroup/permalink/481539101864503/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

‎24 Jam Bersama Dahlan Iskan (5)

Oleh Ade Asep Syarifuddin

INI cerita yang paling menegangkan. Mengapa? Karena saya mau bertemu langsung Pak Dahlan dan saya menjadi protokol selama sekitar 24 jam sejak turun dari Bandara A Yani Semarang sampai kembali terbang di A Yani Semarang.

Hari itu Jumat tanggal 7 September 2012. Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan mandi. Istri saya menawarkan sarapan apa adanya, nasi goreng. Tidak seperti biasanya, nasi itu tidak bisa masuk ke dalam mulut. Entah karena kurang tidur atau karena nervous mau ketemu idola. Saya ke Semarang sekitar jam 10 pagi, berangkat dari Pekalongan menuju Semarang bersama dengan Patwal dan mobil Alphard.

Saya satu mobil dengan Pak Yanto (CEO Radar Cirebon grup), Pak Sukron (Direktur Radar Pekalongan) dan Pak Arif Badi Karyawan (Direktur Wahana Semesta Merdeka). Memakai mobil Fortuner milik Pak Yanto. Saya duduk di depan sebelah kiri, sementara Pak Sukron yang memegang setir. Mobil ini matic dan lumayan besar bodynya. Mirip SUV. Saya tidak berani menyetir karena tidak biasa pegang matic. Takut-takut keliru, bisa malu-maluin deh. Kalau jalan sendiri sih gak pa pa. Ini kan kecepatan tinggi dikawal patwal.

Tiba di Semarang sekitar pukul 11.30. Kami masih sempat shalat Jumat sebelum masuk bandara. Usai shalat dilanjutkan makan siang di RM Suharti. Entah mengapa pagi tadi kurang nafsu makan, tapi kok di RM ini nafsu makan saya malah muncul. Sebelum selesai makan saya menyempatkan diri SMS ke staf Pak Dahlan Miratul Mukminin yang biasa dipanggil Gus Amik. Isinya kira-kira, “Gus, kami membungkus nasi ayam buat makan siang Pak Dahlan dan rombongan di jalan.” Dia hanya menjawab bagus, kamu memang cukup mengerti. Titik.

Tiba di Bandara kami berempat harus menunggu beberapa jam. Sempat terjadi perselisihan antara rencana awal kami yang akan menjemput Pak Dahlan di pintu umum, dengan orang-orang dari BUMN Jateng DIY yang akan mengarahkan Pak Dahlan ke pintu VIP. Biasanya memang Pak Dahlan tidak mau masuk ke pintu VIP. Alasan orang-orang BUMN karena saat itu ada menteri lain yang hadir dan disambut oleh Gubernur. Sekalian saja Gubernur menyambut. Pesawat Garuda yang mambawa Pak Dahlan mendarat di A Yani pukul 14.20. Sesuai jadwal.

Yang aneh adalah, karyawan Angkasa Pura Semarang yang berjumlah tidak kurang dari 10 orang yang dipimpin langsung oleh GM nya bergegas menuju ke arah pesawat yang sudah parkir, kemudian mereka berderet di bawah tangga. Otomatis diarahkan ke ruang VIP. “Siapa yang mengarahkan saya ke sini, saya biasa lewat pintu umum bukan VIP,” tanya pak Dahlan sambil agak marah. Dia sempat melongok ruang VIP, tapi di dalam sedang asyik berbincang. Pak Dahlan sebentar masuk toilet kemudian langsung keluar menuju mobil Alphard dengan nomor polisi P 15 MA, milik Pismatex.

Di dalam mobil tersebut duduk sebelah kiri depan Miratul Mukminin (Gus Amik), yang nyetir Pak Arif Badi Karyawan. Di tengah sebelah kiri staf khusus Pak Dahlan Budi Rahman Hakim (biasa dipanggil BRH), sebelah kanan tengah Pak Dahlan. Saya di belakang sebelah kanan bersama Ketua Komunikasi Forum BUMN Jateng-DIY Pak Adi Prasongko.

Suasana ketika naik mobil masih tegang. Pak Dahlan menelepon seseorang. Dia berkata, Kasih tau yang GM Angkasa Pura Semarang, jangan pernah mengarahkan saya ke pintu VIP. Saya perlu mengetahui kondisi fasilitas umum. Setelah itu tanpa dikomando, bungkusan dari RM Suharti satu per satu dibuka. Dan dengan santai Pak Dahlan bersama stafnya makan nasi kotak di dalam mobil. Begitu mudahnya Pak Dahlan untuk makan. Tidak mesti harus menu yang macam-macam.

Pak Yanto kirim BBM ke saya yang isinya, Pak bos kecewa karena masuk lewat pintu VIP, seharusnya lewat pintu umum. Tadi seharusnya mobil parkir di umum. “Saya sudah izin dan untuk parkir di umum, tapi kita kalah sama orang Angkasa Pura. Kita harus hati-hati, kalau sudah tidak enjoy, kita agak repot,” kata Pak Yanto.

Saya juga bingung, tapi tidak punya trik untuk melewati ketegangan tersebut. Hanya terdiam dan berdoa semoga keadaan cepat menjadi baik. Pak Dahlan cepat melupakan kejadian tadi. Paling tidak tidak terus memperpanjang dan mempermasalahkan.

Lepas Terminal Mangkang Pak Dahlan mulai lirik kanan lirik kiri melihat suasana. Di sebelah selatan awal masuk Kendal dia melihat pabrik. Spontan dia bertanya, pabrik apa itu? Saya hanya terdiam karena memang tidak tahu. Wartawan yang ada di Kendal saya coba hubungi pun tidak ada yang membalas sms dengan cepat. Baru setengah jam kemudian ada jawaban bahwa itu pabrik Texmaco. Tapi diskusi sudah berganti tema.

Pertanyaan kedua muncul. Waktu saya di pesawat, kata Pak Dahlan, saya melihat break water sebelah barat Bandara A Yani, itu apa ya? Lagi-lagi saya hanya terdiam. Saya tahu di Kendal ada Pelabuhan. Tapi pelabuhan apa, untuk apa, sekarang masih beroperasi atau tidak, sama sekali tidak ada referensi.

Untungnya Pak Adi Prasongko, yang juga wong Suroboyo, Dirut PTP IX cukup memahami dan mengenal Pak Dahlan. Diskusi pun bergeser membahas seputar PTP IX dari berbagai sisi. Saya hanya mendengarkan. Ada istilah-istilah yang saya pahami, ada juga istilah yang masih asing.

Pembicaraan terhenti ketika Pak Dahlan terlihat lelah dan kecapekan. Kalau tidak salah sampai di Gringsing jelang Subah, Kabupaten Batang. Saya coba membisiki Pak BRH. Bos, kalau Pak Dahlan saya pijat bagaimana? Tanpa basa-basi dia menjawab, aku pindah ke belakang, kamu pindah ke tengah. “Abah, Asep ini bisa pijat refleksi, bisa dicoba supaya bisa meringankan rasa sakit,” kata Pak BRH. “Oh ya, silakan,” kata Pak Dahlan.

Mulailah saya memijat kaki Pak Dahlan di beberapa titik refleksi. Punggung kaki dan telapak kaki. Baru disentuh sedikit saja sudah terlihat kesakitan. Saya mengurangi tekanan pijatan. Demikian berulang-ulang. Ketika hampir sampai di Gedung Telkom untuk pertemuan Forum BUMN, Pak Dahlan sempat bilang. “Bisa nggak kita putar-putar dulu 1 jam, pijatannya lumayan membuat badan saya agak ringan.” Saya langsung menimpali, gak usah muter-muter Abah, undangan di Telkom sudah menunggu. Kalau mau kita lanjutkan nanti malam kalau lagi senggang.” Pak Dahlan setuju dan menganggukan kepala.

Turun di gedung Telkom sudah ditunggu ratusan massa. Pak Dahlan menyempatkan melihat robot buatan anak-anak SDIT Ulul Albab. Saya melihat Kepala SDIT Ulul Albab Nonon Arif Rahman terlihat melempar senyum bangga karena karya anak didiknya bisa diperlihatkan ke seorang menteri. Di situ juga ada stan SMK Batang yang sudah membuat tablet. Pak Dahlan memborong 10 tab tersebut.

Sampai di ruang atas Telkom Pak Dahlan disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan acara Forum BUMN pun dimulai. Ketika sesi tanya jawab, General Manager PT Angkasa Pura Semarang, Priyo Jatmiko meminta maaf kepada Pak Dahlan yang sudah mengarahkan ke pintu VIP. Maksud dia baik, tapi tidak sesuai dengan protap Pak Dahlan.

Pak Dahlan memahami mengapa dia diarahkan ke pintu VIP. Tapi dia lebih suka kalau lewat pintu umum. Mengapa? Karena saya perlu tahu fasilitas di pintu umum itu seperti apa. Apakah sudah cukup memuaskan konsumen, atau ada hal-hal yang harus diperbaiki. “Kalau di VIP kan pasti bagusnya. Dan kalau saya bukan Menteri BUMN, saya juga pakai pintu VIP,” katanya.

Terlihat lega ketika melihat Pak Jatmiko. Bisa jadi dia juga merasa bersalah, tapi semua yang dia lakukan tidak lain hanya berniat untuk menghormati Pak Dahlan sebagai Menteri yang juga menaungi Angkasa Pura Semarang. Tapi situasi berkata lain, pasti dia akan semakin memahami karakter Pak Dahlan yang sangat populis tersebut.

Keluar dari gedung pertemuan atas Telkom, Pak Dahlan diserbu orang-orang yang memintanya menandatangani Novel Sepatu Dahlan. Jadi saja acara berikutnya agak bergeser. Dengan telaten Pak Dahlan meladeni tandatangan satu per satu, ada juga yang meminta foto bersama. Wah benar-benar selebritis ini. Agenda berikutnya adalah menuju Pesantren Syafii Akrom di Jenggot Pekalongan Selatan. Saya meminta Pak Dahlan untuk berwudlu dulu di Telkom, ketika sampai di Ponpes Syafii Akrom langsung shalat maghrib. (bersambung)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/428587117176374/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (6)

Oleh Ade Asep Syarifuddin

SUARA adzan magrib berkumandang tatkala rombongan Menteri BUMN tiba di Pondok Pesantren Syafii Akrom, Kelurahan Jenggot Kota Pekalongan. Pak Dahlan langsung menuju mushola untuk menunaikan shalat magrib berjamaah dengan santri-santri pondok tersebut.

Dalam perjalanan, Pak Dahlan sempat bertanya, apakah di Pondok tersebut saya harus pakai peci? Pak Dahlan merasa kalau pakai peci terlihat jelek. Walaupun demikian, Pak Dahlan berani teken NU. “Walaupun tidak pakai peci dan sarung saya berani teken bahwa saya NU,” katanya. Kontan saja seisi mobil tertawa tanpa dikomando. Untuk jaga-jaga, peci hitam dan sarung sudah dipersiapkan. Tapi Pak Dahlan hanya mengambil pecinya saja.

Usai shalat magrib rombongan berjalan menuju tempat pertemuan disambut oleh grup hadhroh yang melantunkan shalawat Nabi. Seorang santri mengalungkan bunga melati tanda selamat datang kepada Pak Dahlan. Malam itu Pondok Pesantren Syafii Akrom benar-benar terlihat ramai.

Pak Dahlan di pondok ini terlihat sangat senang bisa mengunjungi Pesantren di Pekalongan. Dia bercerita bahwa ketika dia kecil juga santri di Pondok Pesantren Sabilul Mutaqien Magetan. Dulu namanya Pesantren Takeran. Sambil sekolah dia mesantren juga.

Dia memohon maaf karena sedang flu dan batuk. “Waktu bulan Ramadhan saya umroh ke tanah suci dan jalan-jalan ke beberapa tempat. Shalat di Masjidil Aqsha, mengunjungi makam Nabi Adam dan Nabi Nuh, ziarah ke makam Abdul Qodir Jaelani dan Imam Abu Hanifah. Sampai mampir juga ke Najaf dan Karbala, tempat di mana Imam Husein menjadi korban,” katanya. Suhu di sana mencapai 48 derajat, sangat panas. Pulang dari sana batuk pilek tidak sembuh-sembuh.

Menurut keterangan pengasuh pondok H. Yasir Maqosid, LC, pondok tersebut memiliki beberapa ekor sapi perah dan pedaging. Santri-santri menjual susu tiap hari. Awalnya santri enggan untuk menjual. Entah karena gengsi atau tidak biasa. Tapi karena mendapatkan uang, akhirnya mereka semangat juga menjualnya. Tapi yang mengelola cuman 2 orang, akhirnya untuk menambah jumlah sapi, agak tersendat karena kurangnya tenaga. Pesantren ini juga baru-baru ini diliput Metro TV, entah karena pesantrennya atau karena sapinya, sehingga Metro TV mau menayangkan.

Mendengar ada peternakan sapi, Pak Dahlan langsung berdiri dan memanggil siapa-siapa saja yang mengelola dan yang menjual susunya. Satu per satu maju dan berdiri di depan. Yang pertama bertanya kepada santri yang menjual susu. Pertanyaan Pak Dahlan sangat sederhana, “Apa kesulitan Anda dalam menjual susu?” Dengan polos santri tersebut menjawab susah untuk mengikat plastiknya karena licin. Pertanyaan kedua, sudah berapa lama membungkus susu sapi? Jawab santri tadi, tiga tahun Pak. “Mestinya tiga tahun mengikat plastik yang berisi susu sapi sudah lancar dong. Ya nggak?

Pertanyaan berikutnya dialihkan ke pemerah susu. “Bapak memerah susu kapan?” “Malam hari pak, itu hambatan terbesar saya.” “Jam berapa” tanya Pak Dahlan lagi. “Jam 4 pak.” Pak Dahlan balik bertanya, “Jam 4 itu bukan malam tapi sudah pagi. Saya kira jam 12 malam bapak sudah ke kandang sapi. Kalau jam 4 sih sebentar lagi shalat shubuh. Niatin saja untuk qiyamullail ya Pak, supaya mendapatkan pahala juga.” Pak Dahlan berjanji mengirimkan tim persapian ke Syafii Akrom dalam waktu dekat.

Kebetulan saya kenal orang BUMN yang menggarap Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) atau yang lebih populer disebut CSR yaitu DR Agus Suherman. Dia dosen Undip Semarang tapi bekerja di Kementerian BUMN. Seminggu setelah Pak Dahlan mengunjungi pesantren, Agus Suherman pun mensurvei sapi-sapi yang ada di sana dan akan membuat pilot project pengembangan sapi. Bila SDM yang mengelola sapi cukup andal, tidak menutup kemungkinan bisa ditambah.

Perjalanan selanjutnya menuju Graha Pena Radar Pekalongan untuk meresmikan gedung barunya yang beralamat di Jl Binagriya Raya Blok B.1 No 9. Sampai di lokasi Pak Dahlan kaget, “Ada apa nih ramai-ramai?” Saya menjawab dengan spontan, lokasi peresmian gedung Radar Pekalongan di sini. Suasana cukup ramai, selain undangan dari pengusaha dan pemerintahan, juga banyak siswa-siswa SMA dan Aliyah. Turun dari mobil, Pak Dahlan masih memakai sandal jepit. Saya membawa Sepatu Pak Dahlan di belakangnya.

Jumlah undangan resmi sekitar 1.000 orang, anak-anak sekolah sekitar 550 orang dan undangan lainnya sekitar 450. Pak Dahlan datang disambut siswa dan siswi yang berderet di sebelah kiri dan kanan. Masing-masing deretan tidak kurang dari 200 orang. Ada juga yang meminta tanda tangan Novel Sepatu Dahlan. Belum mulai acara udah ada sesi pemotretan dan tanda tangan.

Pak Dahlan tidak langsung menuju kursi undangan atau ke ruang makan malam. Dia malah langsung ke lantai atas menuju ruangan saya. Di sana sudah tersedia kasur lipat. Pak Dahlan merebahkan badannya, tengkurep dan dimulailah profesi tambahan saya sebagai tukang pijat refleksi dadakan, melanjutkan pijat di mobil siang harinya karena belum tuntas. Saya coba pijat titik refleksi, benar-benar Pak Dahlan kesakitan. Saya tidak berani memijat dengan tekanan maksimal.

Mungkin ada yang bertanya, kok saya bisa pijat refleksi. Ya betul, saya memang pernah belajar beberapa tahun yang lalu kepada seorang ahli. Tujuannya sederhana, ketika ada yang membutuhkan pertolongan cepat saya bisa membantu. Tapi jelas saya tidak mungkin buka praktik dan membuka papan nama di rumah. Melanggar tupoksi dan bisa bersaing dengan tukang pijat yang asli.

Pukul 20.00 Pak Dahlan turun dari lantai atas menuju tempat peresmian. Di bawah tangga disambut Pak Alwi Hamu (Komisaris utama Radar Pekalongan), Bapak Suparno Wonokromo (Komisaris Radar Pekalongan), Bapak Sudirwan (Pendiri Radar Banyumas) dan teman-teman dari grup Jawa Pos lainnya. Sampai di bawah bukannya duduk di kursi VIP, tapi malah bergeser ke belakang menemui anak-anak SMA. Lagi-lagi sesi pemotretan dan tanda tangan Novel terjadi dengan spontan.

Dalam peresmian itu Pak Dahlan tidak diberikan waktu sambutan. Saya mengetahui hal itu dari beberapa orang yang saya kenal yang lumayan dekat dengan Pak Dahlan. “Jangan kasih waktu sambutan buat Pak Dahlan, pasti dia menolak,” katanya. Dia diberikan waktu untuk dialog dengan tamu undangan. Ada juga sesi penandatanganan prasasti. Yang ini harus mau, karena tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesi yang lain adalah pengguntingan pita. Ini pun Pak Dahlan pasti tidak mau. Akhirnya yang menggunting pita adalah pengecer koran didampingi Pak Dahlan dan Muspida.

Dalam sesi tanya jawab, 3 orang siswa SMA Negeri 2 yang diberi kesempatan bertanya langsung lari menuju ke depan. Pak Dahlan sangat senang dengan anak-anak muda yang berani dan kreatif. Penanya pertama bertanya tentang korupsi harus dihukum apa. Kebetulan waktu itu Pak Dahlan mengenakan kemeja putih dibalut kaos kuning muda bertuliskan, Buanglah Koruptor pada Tempatnya. Kalimat itu yang memancing pertanyaan siswa tadi. Penanya kedua menanyakan tips menjadi pemimpin yang sukses, sementara siswa ketiga, putri ketika dipersilakan untuk bertanya, dia menjawab dengan malu-malu. “Saya maju ke sini bukan untuk bertanya, tapi ingin mencium tangan Bapak.” Kontan saja Pak Dahlan dan undangan tersenyum. (bersambung)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlaniskangroup/permalink/482064728478607/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (7)
Oleh Ade Asep Syarifuddin

Murid Bertemu Mursyid

SELEPAS peresmian Gedung Graha Pena Radar Pekalongan, Pak Dahlan langsung menuju kediaman Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, tokoh ulama thariqot di Pekalongan. Rumahnya di Jl dr Wahidin, tepat di belakang Kanzus Shalawat (tempat pengajiannya).

Sudah sejak lama Pak Dahlan berniat untuk sowan ke Habib Lutfi. Dan malam itu terkabul sudah niatannya. Tiba di sana sudah disambut langsung oleh Habib Lutfi didampingi Kiai Zakaria dan beberapa orang di dalam yang belum saya kenal. Sementara rombongan Pak Dahlan diikuti oleh BUMN Jateng DIY, Dirut PTP IX Adi Prasongko, Dirut Kawasan Industri Wijayakusumah Djayadi dan GM Angkasa Pura Priyo Jatmiko. Sementara dari Grup Jawa Pos hadir Pak Suparno Wonokromo, Pak Yanto, Pak Sukron. Pak BRH dan Gus Amik mendampingi kemana pun Pak Dahlan pergi.

Pertemuan langsung diarahkan ke lantai atas sebelah timur. Habib Lutfi mengenakan busana santai putih-putih. Sementara Pak Dahlan duduk bersila di sebelah Habib Lutfi dan terlihat takzim, sedikit membungkukkan badan. Pak Dahlan juga pengikuti thoriqot Sathariyah di Pesantren Takeran Kab Magetan. Sekarang berubah nama menjadi Pesantren Sabilul Muttaqien. Namun sejak ayahnya dan tokoh-tokoh pesantren meninggal, tidak ada lagi guru thoriqot di sana.

“Saya ke sini seperti timba mencari sumur. Dan saya yakin saya akan menemukan sumur di sini,” tutur Pak Dahlan memulai pembicaraannya. “Pesantren kami kehilangan banyak tokoh, terutama Mursyid thoriqot Sathariyah. Otomatis kami kehilangan jejak dan tidak ada guru di sana. Apakah boleh memiliki mursyid lebih dari satu,” demikian pertanyaan Pak Dahlan.

Habib Lutfi dengan tenang memerangkan tentang hukum berthariqot. “Ada dua hukum thoriqot, sunnah dan wajib. Kalau yang sunah, berthariqot diniatkan untuk menambah pahala dengan menambah amalan-amalan yang sudah ditentukan. Namun ketika berthariqot niatnya untuk berzikir hanya kepada Allah dan menegasikan semua hal selain Allah, maka hukum thariqot menjadi wajib,” tutur Habib Lutfi.

Sementara pertanyaan apakah boleh memiliki mursyid lebih dari satu, analoginya adalah apakah boleh kita mengambil aliran listrik dari dua trafo? Habib Lutfi mengambil istilah PLN dalam menjawabnya. Kalau trafo tersebut dua-duanya memiliki tegangan yang sama, maka listrik yang dialirkan ke rumah kita akan mati karena tegangannya menjadi sangat tinggi alias tidak normal. Kalau memiliki dua mursyid langsung, sementara muryid itu masih hidup dua-duanya, maka hukumnya tidak boleh. Pilihkah satu mursyid saja yang jelas matannya (asal-usul historisnya).

Namun kalau memiliki mursyid ke-2 dengan tujuan melanjutkan keberlangsungan thoriqot yang ada karena mursyid pertama sudah meninggal maka hukumnya boleh asalkan mursyid kedua tersebut memiliki thoriqot yang sama. “Kalau mursyid yang meninggal Sathariyah, harus mencari mursyid Sathariyah lagi,” katanya. Habib Lutfi mengaku dia belajar thoriqot Sathariyah di Pesantren Benda Kerep Cirebon. Beberapa bulan ke belakang Pak Dahlan pun mengunjungi Pesantren yang sama di Cirebon.

Pembicaraan semakin hangat, Gus Amik dan BRH yang juga pengamal thoriqot semakin tertarik untuk mempertajam diskusi. Saya mengingatkan Pak Dahlan untuk makan malam dahulu, karena di beberapa titik kunjungan tidak sempat makan. Pak Dahlan mengambil bakso kambing dan makan lahap sekali. Ternyata bakso itu buatan istri Habib Lutfi. “Enak sekali baksonya,” tuturnya sambil minta tambah ke saya.

Selagi tamu-tamu makan malam, Habib Lutfi mendekat ke pianonya dan mulailah menyentuh tuts yang satu ke tuts yang lain dan muncullah irama musik yang syahdu. Dia sendiri yang menjadi vokalisnya, didampingi dua orang pengiring musik. Saya tidak hafal betul syair yang dilantunkan, tapi jelas isinya adalah nasihat-nasihat untuk anak-anak zaman sekarang agar selalu mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

Pak Suparno yang juga dalang tidak tahan untuk tidak menggerakkan tubuh dan tangannya. Sepanjang Habib Lutfi memainkan piano dan menyanyi, pak Suparno sangat gembira. Yang baru berkunjung ke Habib Lutfi untuk pertama kali terheran-heran. “Kok Habib Lutfi bisa main musik ya?” tutur Pak Yanto. Belajar dimana? Pertanyaan yang satu ini tidak sempat terkonfirmasi kepada Habib Lutfi.

Dari musik ini, menurut Habib Lutfi, kita bisa belajar demokrasi. Coba saja, jumlah nada itu ada 12, hanya naik dan turun yang menjadikan nada itu berubah-ubah. Bisa naik setengah, juga bisa naik satu oktaf, dua oktaf atau sampai 7 oktaf. Dengan kreatifitas yang tinggi, setiap orang bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

Namun di musik juga, lanjut Habib, tidak bisa egois. Masing-masing harus menghormati musik yang lain. Kapan saatnya piano dimainkan lebih dominan, kapan saatnya gitar dominan, drum dominan dan kapan saatnya semua bersuara kompak secara bersamaan. Dan alat musik yang satu dengan alat musik yang lain harus saling mendukung, menimpali, tidak main sendiri-sendiri. Dan harmoni itu sangat bergantung pada dirijen.

Di negara ini, kata Habib, mayarakat yang identik dengan musik, suaranya sangat banyak dan beragam. Bisa jadi bencana, tapi bisa juga menjadi potensi positif. Tergantung kepada dirigen negara ini. Kalau dirigennya terampil memainkan suara masyarakat yang beragam, maka keberagaman ini menjadi alat untuk memajukan negara.

Mendengar paparan Habib Lutfi yang gamblang, rasional, jelas dan argumentatif, Pak Dahlan terkagum-kagum. Sampai-sampai dia berkata, “Sekarang sumurnya sudah ditemukan. Saya tinggal menimba air sebanyak-banyaknya. Selama ini kita mencari-cari keterangan-keterangan tentang thoriqot dan penjelasannya, dan di sini kita menemukan jawabannya,” kata Pak Dahlan.

Tidak ada pembicaraan khusus untuk meminta ini dan itu. Juga tidak ada pembicaraan empat mata antara Pak Dahlan dengan Habib Lutfi. Semua pembicaraan disaksikan oleh banyak orang. Sementara orang di luaran mengira Pak Dahlan minta restu ke Habib Lutfi untuk ini dan itu. Saya yang mengikuti dari awal sampai akhir tidak menemukan pembicaraan privat atau kalimat-kalimat dari Pak Dahlan yang spesial. Semuanya tentang diskusi thoriqot dan keagamaan.

Malam semakin larut, Pak Dahlan pun terlihat kelelahan ingin istirahat. Saya menunjukkan kamarnya. Tapi karena utang pijat refleksi saya belum lunas, saya harus tidur satu kamar dengan Pak Dahlan. Jadilah tidur sekamar dengan Menteri BUMN. Awalnya Gus Amik dan Pak Arif ikut tiduran di bawah. Pak Dahlan sendiri sudah disediakan shofa, tapi dia memilih tidur di bawah menggunakan kasur lipat. Saya berpikir, apa Menteri yang lain mau tidur dengan kasur lipat di lantai ya?

Setelah terlihat rileks, saya menghentikan pijatan. Waktu sudah sangat larut malam, sekitar pukul 24.00. Besok masih ada rangkaian acara. kondisi badan yang capek mendorong saya merebahkan tubuh di atas karpet bersama dengan teman-teman yang lain. Saya hanya berdoa, agar besok tetap bisa bangun pagi dan tidak keduluan Pak Dahlan. Kalau keduluan kan bisa berabe. Masa sih protokol keduluan, bisa memalukan dunia ini.

Saya mencoba mengingat-ingat perjalanan sejak pagi, siang samai malam ini. Mungkin hanya sehari semalam, tapi kesan yang didapat sangat luar biasa. Banyak cerita dan pengalaman baru. Juga banyak belajar dari Pak Dahlan yang sangat bersahaja ini. Ah…. seandainya kenal lebih awal, bisa jadi semangat saya sudah membumbung dari dulu. Tak terasa saya terkapar di atas karpet dan tertidur pulas. (bersambung)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/429215937113492/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

‎*24 Jam Bersama Dahlan Iskan (8)
Oleh Ade Asep Syarifuddin

Sopiri Walikota dan Ketua KONI

ALHAMDULILLAH saya bisa bangun pagi tepat jam 4.30 saat adzan berkumandang. Ternyata Pak Dahlan sudah bangun lebih dulu, walapun masih terlihat duduk di atas kasur. Tidak lama kemudian sholat Subuh. Namun karena kondisi badannya agak kurang fit, Pak Dahlan memilih tiduran lagi usai shalat shubuh.

Yang saya ingat adalah, jam 5 pagi Pak Dahlan harus minum obat untuk mensinkronkan IP adress antara hati baru dengan organ tubuhnya, sehingga tetap bisa bekerjasama. Tapi di mana obat itu, bentuknya seperti apa, berapa jumlah yang diminum. Saya sama sekali tidak tahu. Saya cari informasi ke Gus Amik dan Pak Arif, ternyata mereka sudah menyiapkan segelas air berikut obat yang dimaksud. Lima menit menjelang jam 5 saya mengingatkan bahwa Pak Dahlan harus minum obat.

Agenda pagi itu adalah menengok asset BUMN di pelabuhan yang mangkrak bersama Walikota. Saya coba kontak protokol Pemkot Pekalongan Pak Nur, dia bilang jam 5.45 Pak Wali siap untuk berangkat. Jam 5.30 Pak Dahlan keluar dari kamar sudah siap dengan pakaian olahraga dan kaos kuning bertuliskan Buanglah Koruptor pada Tempatnya. Sebelum keluar pamitan dulu dengan Habib Lutfi sambil ngobrol-ngobrol di ruangan kerjanya.

Dari niat pamitan ke obrolan, ternyata ada hal yang belum tuntas yang harus dibahas. Tapi karena waktu sudah cukup siang, sekitar pukul 06.30, Pak Dahlan pamitan ke Habib Lutfi dan minta ijin nanti sekitar jam 9 mampir lagi. Walaupun tidak tepat waktu, bergeser sekitar 30 menit rombongan langsung menuju pelabuhan. Ketua KONI Ricsa Mangkulla menelepon saya mengingatkan bahwa waktu sudah siang dan posisi sampai di mana. Saya jawab, menuju pelabuhan, sekarang melewati Kospin Jasa.

Tiba di pelabuhan Walikota menjelaskan bahwa ada tanah sekitar 40 hektar semuanya adalah asset BUMN. Di sana sini terlihat bangunan, ada yang masih berdiri dan beroperasi, ada juga yang sudah mangkrak. Kondisinya tidak terawat. “Saya ucapkan terimakasih kepada Pak Wali yang sudah kasih tahu saya di sini ada asset BUMN. 40 hektar lumayan besar,” katanya.

Pak Dahlan memberi isyarat kepada sopir Alphard P 15 MA Arif Badi Karyawan untuk mundur dan duduk di belakang. Pak Dahlan take over menjadi sopir Alphard dan Pak Wali diminta bergeser duduk di depan. Terjadilah dialog yang seru antara Menteri BUMN dan Walikota Pekalongan.

Pertanyaan Pak Dahlan kepada Walikota Pekalongan adalah, “Punya ide apa, bapak untuk menggunakan tanah yang mangkrak ini?” Dengan cepat Walikota pekalongan dr Basyir Ahmad memaparkan rencananya untuk membentuk Kota Minapolitan, yaitu kota pelabuhan ikan. Dulu Pekalongan adalah lumbung ikan. “Mengapa sekarang tidak,” timpal Pak Dahlan.

“Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, pertama kapal penangkap ikan yang kecil, sehingga tidak bisa mencari ikan lebih jauh lagi ke tengah laut. Sementara di pinggir laut jumlah ikannya sudah berkurang. Kedua terjadi jual beli ikan di tengah laut. Otomatis ketika mereka pulang sudah membawa uang dan tidak ada lelang ikan lagi. Dan yang ketiga kapal-kapal besar yang memiliki alat pembekuan ikan masih jarang. Sehingga banyak ikan yang busuk ketika merapat ke pelabuhan,” katanya.

“Oke, saya akan kaji usulan tersebut. Ajukan saja surat secepatnya, sehingga kita bisa membahasnya,” kata Pak Dahlan.

Sampai di Stadion Keraton, Pak Dahlan sudah ditunggu oleh sekitar 5000 peserta senam. kebanyakan mereka adalah pelajar, ditambah oleh karyawan BUMN dan karyawan Pemkot. Ketua KONI menyambut di depan pintu gerbang Stadion Keraton yang juga Kantor KONI. “Saya Ricsa Pak Dahlan, saya Ketua KONI Kota Pekalongan,” tuturnya menyambut Menteri BUMN sambil menunjukkan tempat transit.

Sebelum senam Pak Dahlan menghampiri mikrofon dan berkata, “Saya mohon maaf kalau senamnya kurang maksimal, karena saya lagi flu yang belum sembuh-sembuh. Anda semua jangan terpengaruh dengan saya,” katanya. Usai senam dilanjutkan pembagian doorprize Motor Suzuki yang dimenangkan oleh salah seorang siswa SMP. Pak Dahlan dan Walikota didampingi ketua DPRD mendampingi penyerahan.

Setelah foto-foto bersama, perjalanan dilanjutkan menuju pabrik sarung Pismatex. Ricsa Mangkulla yang Ketua KONI dan merangkap direksi Pismatex mohon ijin duduk di kursi depan mendampingi Pak Dahlan. Di perjalanan Pak staf Pak Dahlan BRH sempat membisikkan sesuatu ke saya. “Sep, Novel Sepatu Dahlan kan sudah terbit dan akan dilanjutkan dengan Trilogi Novel lainnya. Penulisnya Krishna Pabichara. Coba kamu buat Novel yang judulnya Sarung Dahlan. Setelah novel itu launching, bisikkin pemilik Pismatex yang di depan itu untuk membuat Sarung Dahlan. Gak pa pa limited edition dulu,” tuturnya.

Ide itu langsung saya sampaikan kepada direksi Pismatex yang dipanggil pemilik Pismatex. “Sangat boleh-sangat boleh. Pak Dahlan kan punya branded. Kalau kita buat sarung dengan merek Sarung Dahlan sebagai bagian dari produk Gajah Duduk kayanya akan laris manis. Jadi namanya Gajah Duduk edisi Sarung Dahlan,” tutur Ricsa yang disambut gelak tawa seisi mobil.

Pak Dahlan dengan Ricsa Mangkulla sendiri di depan terlibat obrolan yang cukup serius. Saya tidak mengikuti secara detil apa yang mereka bicarakan. Sampai di pabrik Pismatex, mobil langsung menuju ke mesin yang terbaru. Pak Dahlan turun dari mobil, bersalaman dan berkeliling pabrik. Mulai dari pembuatan kain, penjahitan, penataan, packing sampai finishing. Widodo, direksi PT Pismatex dengan telaten mendampingi Pak Dahlan dan menjelaskan satu per satu proses pembuatan serung tersebut.

Menjelang berakhir, tiba-tiba Pak Dahlan dihadiahi sarung Gajah Duduk yang sudah dibuka. Tanpa ba-bi-bu, sarung tersebut warna krem kekuning-kuningan tersebut langsung dipakainya. Melihat pemandangan tersebut, fotografer langsung mengabadikan momen langka tadi. Pak Dahlan masih pegang setir dan Ricsa Mangkulla tetap di samping kiri menuju kediaman Habib Lutfi lagi. “Kalau sebelah kanan Menteri BUMN, sebelah kirinya itu Wamen,” canda Ricsa kepada direksi Pismatex yang lain.

Di Habib Lutfi tidak terlalu lama, hanya sarapan pagi kemudian mendapatkan cenderamata buku. Pak Dahlan sangat senang mendapatkan buku-buku tersebut. Pak Dahlan di Pekalongan hanya beberapa saat lagi. Tugas protokoler dadakan akan segera berakhir. Tapi saya tetap mendampingi beliau ke Semarang. Di jalan memang agak tersendat, terutama di daerah Brangsong, Kendal. Belum lagi lepas Terminal Mangkang, truk besar, kontainer dan kendaraan besar lainnya tidak bisa dipaksa-paksa untuk cepat.

Dari Undip sudah menelepon apakah Pak Dahlan jadi ke Undip. Pak Dahlan terlihat sangat kelelahan dan belum bisa diajak komunikasi, disamping memang waktunya sudah tidak nyandak lagi untuk ke Undip. Kalau memaksakan ke Undip, bisa ketinggalan pesawat. Gus Amik memutuskan untuk tidak bisa ke Undip dan hanya teleconference saja. Ketika Pak Dahlan terbangun proses teleconference pun berlangsung. Mungkin Undip kecewa, tapi gimana lagi. (Bersambung)

*) Penulis GM Radar Pekalongan

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/429561807078905/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

24 Jam Bersama Dahlan Iskan (9/habis)
Oleh Ade Asep Syarifuddin

SMS Subuh dari Singapore

TIBA di Bandara, Pak Dahlan turun dari mobil tanpa alas kaki menuju kantor GM Angkasa Pura Semarang. Sarung krem dari Pismatex menutup kepalanya. Dia mencari kursi yang agak panjang dan membaringkan tubuhnya untuk istirahat sejenak. Saya bawakan sepatu dan kaos kakinya kemudian ditaruh di samping sofa. Sepanjang perjalanan tubuhnya demam. Menjelang tiba di Mangkang, Semarang, Pak Dahlan menyandarkan kakinya di pangkuan saya. Saya memijat sebisanya, serasa kepada ayah sendiri.

Dulu waktu saya kecil saya sering disuruh ayah (saya memanggil bapak) untuk memijat tubuhnya kalau kecapekan. Hanya bentuk pijatannya bukan dengan tangan, tapi menginjak-injak seluruh tubuh turun naik-turun naik. Menarik jari-jari tangan dan jari kaki satu per satu sampai berbunyi klik…. Saya lakukan dengan senang karena seperti main-main saja.

GM Angkasa Pura, Priyo Jatmiko terlihat panik. Mondar-mandir ke sana kemari mencari informasi penerbangan yang lebih cepat. Air putih hangat sudah disediakan di atas meja di samping Pak Dahlan yang berselimutkan sarung. Satu…dua teguk air tersebut diminum. Terlihat nafas dan batuknya agak reda. Tapi beberapa saat kemudian batuknya kumat lagi.

“Ada obat batuk gak ya,” tanya Pak Dahlan kepada kami. Nampaknya kepala Pak Dahlan juga terasa sakit tak terkira. Padahal dia tidak bisa minum obat sembarangan. Apalagi obat warungan. Semuanya harus sepengetahuan dokter. Untungnya obat yang dipesan tidak sesuai dengan yang Pak Dahlan maksud. Gagallah obat tersebut dikonsumsi.

Melihat Pak Dahlan tergolek lemas di atas shofa, saya hanya bisa melihat dengan tatapan kosong. Saya sudah merasa bahwa saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk meringankan beban sakitnya. Untungnya pesawat yang ditunggu segera datang dan Pak Dahlan cek in dan boarding melalui pintu umum. Pesawat Garuda pun membawa terbang Pak Dahlan ke Jakarta, ditemani Pak BRH dan Arif Badi Karyawan.

SMS dan telepon datang dari sana sini. Kabar sakitnya Pak Dahlan dengan cepat menyebar ke mana-mana, dari ujung barat Republik ini sampai ke ujung timur. Saya dapat pesan dari Gus Amik supaya merahasiakan sakitnya Pak Dahlan. SMS, BBM dan telepon yang masuk yang menanyakan tentang kabar Pak Dahlan saya jawab datar-datar saja. “Pak Dahlan baik-baik saja, saya mengantar sampai Bandara A. Yani Semarang kemudian terbang ke Jakarta.”

Tapi running text di salah satu televisi swasta dan berita online yang cepat membuat saya tidak bisa lagi berbohong kepada yang menanyakan kesehatan Pak Dahlan. Sudah saya tutup-tutupi tetapi di media jebol juga. Orang yang tanya sekadar konfirmasi, benar atau tidak running rext di televisi yang dibaca bahwa Pak Dahlan sakit.

Ada yang mau besuk ke RS Kariyadi Semarang, karena mendengar kabar demikian. Bahkan GM Telkom Divre IV sudah siap-siap untuk membesuk. Yang tahu persis kondisi adalah Dirut Kawasan Industri Wijayakusumah (KIW) Semarang, Djayadi dan Dirut PTP IX Adi Prasongko. Mereka berdua mengantar sampai kantor GM Agkasa Pura Semarang.

Saya pulang ke Pekalongan dengan perasaan kurang tenang. Begitu gigih Pak Dahlan ke sana kemari bertemu dengan banyak orang untuk berbagi cerita, berbagi semangat, berbagi pengalaman dan berbagi segalanya. Bahkan sampai kurang istirahat, kurang makan. Dia lakukan dengan tulus dan ikhlas untuk kemajuan bangsa ini. Sebelum ke Pekalongan kabarnya Pak Dahlan ada kunjungan ke Aceh. Lumayan jauh dan menyita pikiran dan tenaga yang cukup besar.

Tiga hari kemudian, Selasa 11 September kawan saya GM Radar Tasikmalaya Dadan Ali Sundana telepon pukul 04.00. Saya kaget. “Tadi Pak Dahlan minta nomer Pak Asep. Barangkali ada perlu dan beliau telepon. Ini nomornya,” kata Dadan.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi sms pukul 04.50. Ternyata betul dari Pak Dahlan. Sewaktu saya diberi nomor tadi, langsung saya save dan beri nama Dahlan Iskan. Bunyi sms tersebut kira-kira, “Kang Ade, tolong diforward ke Pak Kyai Ponpes Syafii Akrom Pekalongan. Saya sudah bicara dengan Bapak Menteri Perumahan. Beliau tetap mau bangun rusun di Pesantren Syafii Akrom Pekalongan tahun ini juga. Tapi sampai saat ini secara administrasi belum pernah ada permohonan resmi dari Syafii Akrom. Tolong diajukan minggu ini lengkap dengan luas tanah dll dan sebutkan juga bahwa sudah ada jalan, listrik, air dan keunggulan-keunggulan pesantren lainnya. Saya lihat pesantren dengan luas tanah 3,5 Ha sangat memenuhi syarat dibantu rusun. Cc Bapak Menpera.”

Beberapa jam kemudian setelah saya menjawab, Pak Dahlan sms lagi. Isinya, “Ini sms Menpera: Untuk mempercepat, apa boleh saya di sms dulu nama kyai, no hp, alamat lengkap pesantren supaya bisa langsung disurvei minggu ini. Salam Faridz.” SMS tersebut saya langsung forward juga ke Pak KH Yasir Maqosid sebagai pengasuh Ponpes Syafii Akrom.

Saya termenung pagi itu. Saya masih berpikir Pak Dahlan masih sakit dan istirahat di Singapore. Tapi di sana malah tetap melakukan aktifitas dan bekerja, walaupun fisiknya bisa jadi diam. Tapi HP dan Blackberry yang dia pegang tidak mungkin nganggur begitu saja. Informasi tetap berseliweran ke sana kemari dan menyelesaikan PR-PR negeri ini yang begitu banyak.

Waktu 24 jam itu bisa terasa lama, bisa juga terasa sebentar. Tapi saya baru kali ini melakukan waktu 24 jam benar-benar efektif dilakukan untuk hal-hal yang bermanfaat saja. Tidak ada waktu santai, apalagi berleha-leha. Yang ada adalah pertanyaan, sekarang harus ke mana? Apakah sudah selesai acaranya? Ingatkan Pak Dahlan akan acara berikutnya.

CEO Radar Cirebon grup, Pak Yanto pun menceritakan pengalamannya di Singapore mengantar Pak Dahlan. “Pak Dahlan hanya butuh istirahat dan tidak diganggu oleh siapapun. Kalau dirawat di Indonesia, tamu yang datang ribuan jumlahnya untuk besuk. Bukannya istirahat, malah menjadi tuan rumah di rumah sakit. Pilihan berobat di Singapore bukan apa-apa, tapi memang di sanalah tempat yang pas untuk istirahat. Dan yang jelas tidak akan ada yang mengganggu, siapapun,” katanya.

Sehari kemudian tepatnya Rabu 12 September pukul 10.54, saya sms-an dengan Protokol BUMN, Samsu Widiarto mengabarkan bahwa Pak Dahlan hari itu sudah bisa pulang dari Singapore.

Saya sangat senang, sangat bahagia. Hari-hari yang mendebarkan sudah berlalu. Kini tinggal semangat yang tinggi untuk menjadi seperti beliau yang telah berbagi spirit dan fondasi hidup ini agar selalu kuat menghadapi kondisi apapun dengan keyakinan yang tinggi. Sukses selalu buat Pak Dahlan. You are my Inspiration. (Habis)

sumber : https://www.facebook.com/groups/dahlanis/permalink/429861660382253/

About these ads

11 Komentar to “Dahlan Iskan yang Saya Kenal”

  1. #6 kok ga ada? terlewatkah

  2. benar2 dech!ikut terinspirasi…trimakasih!

  3. ada 10 Dahlan Iskan di negri ini ,, kemiskinan minggat,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 232 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: