Archive for ‘01. Manufacturing Hope’

18 Mei 2014

Mesin Harapan Petani Made In Mlilir

Manufacturing Hope 128

MH128 - Dari Mitsui Menjadi Milik Anak NegeriMesin Harapan Petani Made In Mlilir

Saya sampai harus belajar dari buaya. Itu kata Agus Zamroni, pengusaha kecil dari desa Mlilir, Madiun. Dia seorang sarjana hukum. Bukan sarjana teknik. Juga bukan sarjana pertanian. Tapi kegigihannya menciptakan mesin pemanen padi tidak ada duanya.

Sebagai orang desa Agus hidup dari pertanian. Khususnya padi. Sebagai petani besar Agus merasakan sulitnya mencari tenaga untuk panen. Kian tahun kian sangat sulitnya. Kesulitan yang sama sebenarnya juga dialami petani tebu: kian sulit cari tenaga penebang tebu.

Sebagai generasi muda, Agus terus mempelajari mesin-mesin panen buatan Jepang dan Tiongkok. “Masak bikin begini saja tidak bisa,” pikirnya. Agus terus mencoba dan mencoba. Saya menyemangatinya dengan iming-iming mesinnya itu, kalau sudah jadi, akan dibeli BUMN.

Saya yakin dia sangat serius. Usaha taninya serius. Usahanya sebagai penyalur pupuk juga serius. Orang yang sudah membuktikan bisa serius dalam menangani satu bidang juga akan serius di bidang berikutnya. Karena itu saya percaya dia tidak main-main.

Dan ternyata benar. Agus berhasil. Lahirlah mesin panen generasi pertama. Dia beri merk Zaaga (diambil dari namanya).

Mesin itu benar-benar bisa digunakan. Tentu masih banyak kekurangan. Masih banyak gabah yang berceceran di luar karung penampung.

Tapi Agus tidak menyerah. Penyempurnaan terus dilakukan. Saya terus menjanjikan BUMN akan membeli hasilnya. Lahirlah generasi kedua. Sudah bisa dibilang sangat baik. BUMN membelinya. Dihadiahkan kepada kelompok tani.

Hasilnya bagus. Banyak yang tertarik. Agus sendiri kian percaya diri. Agus berani mengundang saya untuk melihat penggunaan mesin Zaaga generasi kedua itu.

Maka pada musim panen yang lalu saya memenuhi permintaannya untuk ke Mlilir. Saya berdebar-debar. Ngeri-ngeri sedap, istilah politisinya. Benarkah mesin panen ciptaan anak bangsa ini bisa berfungsi di lapangan.

Ternyata benar-benar berhasil!

Tentu saya sangat senang. Kelompok-kelompok tani juga mulai percaya. Mesin ini terjual laris. Sehari Agus bisa memproduksi dua unit. Luar biasa. Pabriknya yang di Mlilir menjadi sangat sibuk.

Sampailah pada suatu pagi yang mengagetkan. Agus kedatangan tamu dengan membawa backing. Tamu itu marah-marah berat. Agus akan dihajar. Agus dianggap menipu. Mesin panen itu, katanya, tidak bisa digunakan.

Setelah terjadi dialog diketahuilah bahwa panen itu dilakukan di sawah yang berlumpur dalam. Mesinnya tidak bisa jalan. Rodanya ambles.

Agus merasa kiamat. Setiap menceritakan itu Agus berlinang air mata. Dia merasa terpukul. Dia sanggupi mengganti uang sang tamu.

Tapi kegalauannya bukan di soal ganti rugi. Melainkan di kegagalannya itu sendiri. Saat berlinang air mata itulah pikirannya tiba-tiba melayang ke buaya. Kok tangan buaya tidak tenggelam saat merayap di medan yang berlumpur.

Agus lantas pergi ke berbagai tempat yang ada buaya. Dia amati. Sebagai orang yang bukan berlatar teknik mesin (tapi dia pernah kursus teknik di bengkel Marcedez Benz), Agus mendapat ide dari buaya itu.

Maka dia rancang roda yang berbeda. Yang jarak antargigi lebih lebar. Berhasil. Inilah mesin panen generasi ketiga made in Mlilir.

Minggu lalu saya ke sana lagi. Melihat pabriknya. Juga melihat roda untuk Zaaga generasi baru itu. Teknologi panen sudah bisa dikuasai oleh anak negeri sendiri. Tentu saya juga berharap produsen lainnya, seperti Futata, juga terus mengembangkan diri.

Saya masih titip satu misi lagi untuk Agus: ciptakan mesin tanam padi. Pesan yang sama juga saya sampaikan saat berdialog dengan mahasiswa Fkultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang Sabtu lalu.

“Siapa yang berkeinginan menciptakan mesin tanam?” tanya saya di depan sekitar seribu mahasiswa.

Mesin tanam sangat penting karena saat ini mencari buruh tanam juga amat sulit. Jadwal tanam bisa mundur sampai satu minggu gara-gara belum mendapat buruh tanam. Ini sangat mengganggu produksi beras.

Lima orang mahasiswa angkat tangan. Cukup banyak. Satu per satu mereka saya minta menceritakan gagasan masing-masing.

Seorang mahasiswi menceritakannya sambil menahan tangis. “Saya sangat ingin menciptakannya demi bapak saya,” katanya.

“Bapak saya tiap hari dihina nenek saya karena bapak saya hanya bisa bertani,” katanya. Air matanya tak terbendung lagi. Satu ruangan besar ikut terharu.

Tentu mereka akan bisa. Agus yang pendidikan dasarnya madrasah ibtidaiyah dan pendidikan tingginya Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun saja bisa. Asal mau kita bisa!

10 November 2013

MH102 – Marathon Dua Perusahaan Ikan yang Baru Bangkit

Manufacturing Hope 102
MH102 - Marathon Dua Perusahaan Ikan yang Baru Bangkit

Satu lagi perusahaan BUMN yang selama ini “tidak hidup dan tidak mati” kini bergairah kembali: Perum Perikanan Indonesia (Perindo). Nasibnya pernah sama dengan PT Perikanan Nusantara (Perinus) yang mengalami semaput bertahun-tahun.

Kini dua-duanya hidup kembali. Kalau PT Perinus bergerak di bidang penangkapan ikan, Perum Perindo menekuni bidang pelabuhan khusus perikanan. Kalau kisah kebangkitan PT Perinus sudah saya uraikan pada Manufacturing Hope 96 lalu, giliran hari ini saya mengisahkan kebangkitan Perum Perindo.

3 November 2013

MH101 – Debaran-debaran Jantung di Sekitar Inalum

Manufacturing Hope 101

MH101 - Debaran-debaran Jantung di Sekitar Inalum

Ada dua debaran jantung pada hari-hari menjelang tanggal 31 Oktober 2013. Pertama ketika sidang Komisi XI DPR tidak korum pada 24 Oktober. Akibatnya hari itu tidak bisa diambil putusan untuk menyetujui pelaksanaan pengambilalihan PT Inalum yang tinggal tujuh hari lagi. Padahal DPR sudah mau reses. Untungnya pada 30 Oktober 2013 sidang diadakan lagi dan keputusan pun diambil: DPR setuju. Besoknya adalah hari terakhir kepemilikan Jepang di Inalum. Besoknya DPR memasuki masa reses.

Debaran jantung kedua adalah perubahan sikap pihak Jepang. Tanggal 30 Oktober itu tiba-tiba ada surat masuk yang isinya mengejutkan: penyerahan PT Inalum tidak jadi berdasarkan penyerahan saham, tapi penyerahan aset.

Bagi kita sebenarnya sama saja. PT Inalum punya dua aset yang utama: pembangkit listrik Sigura-gura (Asahan II) di hulu sungai Asahan dan pabrik alumunium di hilir sungai Asahan. Asal dua aset tersebut diserahkan ke Indonesia tidak ada bedanya dengan penyerahan saham. Hanya saja perubahan mendadak menjadi penyerahan aset itu memang lebih sesuai dengan bunyi perjanjian pokok (master agreement). Bahwa selama ini perundingannya berdasar pada penyerahan saham itu atas usul pihak Jepang juga.

Tag:
27 Oktober 2013

MH100 – Dua Tahun dengan Banyak Kejadian

Manufacturing Hope ke-100

MH100 - Dua Tahun dengan Banyak Kejadian

Minggu lalu bersejarah bagi saya: genap dua tahun jadi Menteri BUMN.

Minggu ini juga bersejarah bagi saya: menerima PT Inalum sebagai BUMN baru hasil penyerahan dari Jepang ke pangkuan Indonesia.

Selama dua tahun jadi menteri saya merasa baik-baik saja. Tidak gembira tapi juga tidak susah. Biasa-biasa saja. Dua kali saya masuk rumah sakit. Dua-duanya karena sakit perut. Kesukaan saya makan karedok dan ketoprak kadang memang berlebihan.

Selama dua tahun itu pula saya hampir tidak absen berolahraga: senam joget di Monas. Nyaris setiap hari: pukul 05.00 hingga 06.30. Kalau pagi-pagi hujan, senamnya pindah ke teras Kementerian BUMN yang di dekat Monas itu.

Meski hanya joget, ngurus senam ini ternyata seperti ngurus perusahaan juga: perlu fokus. Awal-awal gabung ke kelompok senam-dansa ini saya hampir putus asa. Mereka (mayoritas ibu-ibu lebih setengah baya) sudah menguasai gerakan kira-kira 100 lagu. Mereka juga sudah lebih 30 tahun berkelompok di situ.

20 Oktober 2013

MH99 – Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin

Manufacturing Hope 99

MH99 - Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin

Pagi ini di Sukabumi. Seluruh direktur utama BUMN berkumpul. Di Sukabumi mereka membubuhkan tanda tangan pertanda ikut gotong royong. Mengikutkan seluruh karyawan dan keluarga mereka ke program BPJS Kesehatan.

Bapak Presiden SBY hadir di acara ini. Beliau tidak hanya menyaksikan. Beliau ingin program bersejarah yang terjadi di era kepemimpinan beliau ini sukses.

BPJS memang akan mengubah sistem jaminan kesehatan nasional. Tahun pertama baru menyangkut 86,4 juta orang, tapi inilah dasar yang kokoh untuk sistem kesehatan negara modern ke depan.

13 Oktober 2013

MH98 – Mereka yang Tidak Basah di Kolam Oli

Manufacturing Hope 98

MH98 - Mereka yang Tidak Basah di Kolam Oli

Mungkinkah orang yang terjun ke kolam oli tidak terkena oli? Tidak mungkin. Itulah yang sering disangkakan oleh siapa pun terhadap siapa pun.

Kalau kolam oli itu diartikan secara harfiah, logikanya memang “hil yang mustahal” -untuk meminjam istilah lama almarhum Asmuni Srimulat.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih bisa menyaksikan yang disangka mustahil itu. Bahkan contohnya cukup banyak. Mahfud MD termasuk salah satunya.

6 Oktober 2013

Maju dan Bersih, No Salah Satunya

Manufacturing Hope 97

MH97

Ini salah satu upaya internal untuk membuat BUMN bersih dari korupsi. Mungkin masih kurang sempurna. Mungkin juga ada cara lain yang lebih baik. Tapi belum ketemu.

Intinya pembersihan itu harus dimulai dari atas. Prinsip ini yang kami anut. Karena itu jajaran direksi yang pertama-tama harus bersih. Direksi yang bersih yang akan membersihkan level di bawahnya. Direksi yang tidak bersih tidak mungkin bisa melakukan itu.

Upaya ini kami sebut dengan “road map menuju BUMN bersih”. Cara ini mungkin dianggap kurang radikal. Kurang dar-der-dor. Tapi mengelola perusahaan memang harus hati-hati. Pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan dengan cara menghancurkan perusahaannya. Pemberantasan korupsi harus dilakukan, tapi perusahaan juga harus tetap berkembang. Tetap naik omsetnya. Tetap naik labanya.

29 September 2013

MH96 – Sashimi Prinus setelah Lama Mupus

Manufacturing Hope 96

MH96

Inilah mayat hidup berikutnya di BUMN: PT Perikanan Nusantara (PT Prinus). Perusahaan ini sebenarnya praktis sudah mati. Tidak ada aktivitas berarti di dalamnya. Karyawannya pun sudah tiga tahun tidak bergaji.

Ini sangat ironis. Di negara yang luas lautnya 2/3 dan daratannya hanya 1/3, perusahaan negara yang bergerak di bidang kelautan malah tidak bisa berkembang.

Untuk membuatnya hidup kembali juga tidak mudah. Kepercayaan dari stakeholder sudah hilang. Bahkan kepercayaan pada diri sendiri pun sudah lenyap. Utangnya menumpuk. Sampai lebih Rp 50 miliar. Termasuk utang pajak Rp 12 miliar.

22 September 2013

MH95 – Tiba Begitu Ruwetnya, Pulang Begitu Indahnya

Manufacturing Hope 95

MH95

Hampir 3.000 pemain bridge dan keluarga mereka dari seluruh dunia berkumpul di Bali. Mereka lagi bertanding di kejuaraan dunia ke-43 yang berlangsung di Nusa Dua.

“Waktu tiba di Bali Anda mungkin mengeluh. Bandaranya ruwet dan jalan menuju Nusa Dua macetnya bukan main,” kata saya dalam pidato pembukaan Kamis lalu.

“Tapi waktu Anda-anda meninggalkan Bali minggu depan keadaan sudah berbeda. Anda kembali ke bandara akan melewati jalan baru di atas laut yang sangat indah. Dan Anda akan meninggalkan Bali melalui bandara baru yang juga sangat indah,” kata saya.

16 September 2013

MH94 – Yang Sulit-sulit Bisa, yang Mudah Sulit

Manufacturing Hope 94

MH94

Salah satu yang tersulit dalam memproduksi peralatan berat di bidang listrik adalah membuat trafo 500 kv. Bulan depan Indonesia sudah mampu memproduksinya. Belum banyak negara yang mampu membuat alat jenis itu. Di seluruh ASEAN baru Indonesia yang mampu.

Maka Indonesia bisa segera masuk peta dunia yang memiliki prestasi teknologi kelistrikan.

Memang bukan BUMN yang mengerjakannya, tapi BUMN yang merangsangnya. Tiga tahun lalu Indonesia baru bisa memproduksi trafo 20 kv. Saya, yang ketika itu mulai menjabat Dirut PLN segera minta agar pabrik trafo tersebut segera meningkatkan kemampuan untuk memproduksi trafo 150 kv.

9 September 2013

MH93 – Dengan ini Jumlah Pejabat Dikurangi

Manufacturing Hope 93

MH93

BUMN menyederhanakan organisasi. Mulai 1 September lalu satu kedeputian dihapus. Jabatan setingkat direktorat jenderal itu hilang satu. Berarti jabatan-jabatan di bawahnya otomatis banyak berkurang. Tiga Direktur (di Kementerian BUMN disebut Asisten Deputi) ikut hilang. Lebih banyak lagi hilangnya jabatan-jabatan di bawahnya.

Total ada 40 kotak jabatan yang terhapus. Maka, dengan ini, jumlah pejabat di Kementerian BUMN berkurang 20 persen. Selama ini banyak jabatan yang fungsinya tumpang tindih. Inilah yang dirasionalkan. Misalnya ada Deputi Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis. Tugasnya merumuskan konsep dan melaksanakan restrukturisasi perusahaan-perusahaan negara. Di lain pihak ada BUMN yang tugasnya melaksanakan restrukturisasi perusahaan negara. Yakni PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA).

2 September 2013

Dari The Tarix Jabrix ke Proses Stem Cell

Manufacturing Hope 92

SUTRADARA muda yang sukses dengan film trilogi The Tarix Jabrix, Iqbal Rais (29 tahun), sudah lebih setahun ini terbaring di rumah sakit. Iqbal menderita kanker leukemia yang sulit disembuhkan.

Semula dia hanya merasa lemas dan sering pusing. Lalu pergi ke dokter di Jakarta. Iqbal dicurigai terkena anemia akut. Dia pun dimasukkan ke rumah sakit. Berbagai obat pun sudah dia minum. Tapi tak kunjung sembuh.

Ketika ayahnya hendak check up ke Malaysia, Iqbal ditawari ikut serta. Sekalian diperiksa di sana. Hasilnya: Iqbal dinyatakan terkena kanker darah. Dan setelah pemeriksaan lebih detail, kankernya sudah menyebar ke sumsum.

25 Agustus 2013

MH91 – Sorgum, Sapi, dan Burung di Belu

Manufacturing Hope 91

MH091 - Sorgum, Sapi, dan Burung di Belu

Pesawat militer CN 295 TNI AU mendarat mulus di landasan yang hanya 1.200 meter yang masih berdebu di Atambua, Belu. Kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste. Itulah pertama kali saya naik pesawat yang sudah lama saya sebut-sebut namanya tapi belum pernah saya rasakan terbangnya.

Cuaca pagi Atambua sangat cerah. Meski sudah mulai menggersang tapi udaranya enak, tidak panas menyengat: 28 derajat. Ini berbeda dengan kedatangan saya ke Atambua lima bulan lalu. Saya harus jalan darat dari Dili, Timor Leste. Itu karena mendung tebal terus menggelayut di langit Atambua sepanjang hari. Itulah hari pencanangan gerakan sorgum dengan langkah awal uji coba penanaman pertama. Hujan terus mengguyur upacara. Wah ini pertanda akan tersendat atau justru sebaliknya akan berkah.

18 Agustus 2013

MH 90 – Pertamina yang Harus Lebih Merdeka

Manufacturing Hope 90
MH090 - Pertamina yang Harus Lebih Merdeka

Ucapan selamat itu mula-mula saya ragukan. Karena itu saya tidak segera menanggapi. Masak sih Pertamina sudah berkembang sehebat itu? Sudah bisa masuk Fortune Global 500? Maka SMS dari wartawan itu saya abaikan.

Tapi kian sore SMS sejenis terus berdatangan. Kepada salah seorang yang saya kenal tidak biasa guyon, saya balas SMS itu: benarkah Pertamina masuk Fortune Global 500? Beritanya dari mana? Sumbernya tepercaya?

Ternyata datang balasan: berita itu bersumber dari konferensi pers resmi Fortune, majalah ekonomi perusahaan terkemuka Amerika Serikat. Jadi berita itu bukan isapan jempol atau olok-olok.

12 Agustus 2013

MH89 – Malam ke-29 di 400 Meter Ketinggian

Manufacturing Hope 89

MH089 - Malam ke-29 di 400 Meter Ketinggian

Dari lantai atas hotel Fairmont Mekah ini saya bisa menatap Ka’bah yang agung di tengah-tengah pusaran manusia yang lagi tawaf di Masjidil Haram. Di lantai inilah saya siap-siap shalat tarawih malam itu, malam ke-29 bulan puasa. Di lantai ini pulalah saya diagendakan bertemu pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin.

Inilah lantai di mana Syekh Bakr tinggal. Salah satu ruangannya dijadikan tempat shalat. Yakni ruang yang persis menghadap Masjidil Haram. Dari kaca ruang ini, lautan manusia di bawah sana terlihat menyemut. Masjid yang terang lampunya bak siang itu, dengan menara-menara yang gemerlap bercahaya. Manusia di dalamnya terlihat tidak henti-hentinya memutari Ka’bah.

Dari sini pula terlihat bangunan baru yang arsitekturnya mirip Masjidil Haram. Inilah bangunan tambahan yang besarnya melebihi Masjidil Haram itu sendiri. Bangunan ini hampir jadi. Letaknya persis di sebelahnya dalam posisi menonjol karena bertumpu di bukit yang lebih tinggi. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai Hotel Mekah dan sekitarnya. Bulan puasa tahun depan bangunan ini jadi 100 persen.

4 Agustus 2013

MH88 – Agar Digendong Binladin ke Mana-mana

Manufacturing Hope 88

MH088 - Agar Digendong Binladin ke Mana-mana

Dua tahun lalu perusahaan ini masih sakit. Masih tergolek di ruang perawatan ICU. Tahun lalu tiba-tiba sehat. Dan kini bisa lari kencang. Larinya sampai ke luar negeri pula: PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Bendera Waskita pun kini mulai berkibar di Mekah. Di Masjidil Haram. Waskitalah yang mendapat kepercayaan mengerjakan pengembangan dan pembangunan kembali masjid suci itu. Tentu bersama beberapa perusahaan lain di bawah bendera grup besar Binladin.

Maka, berbeda dengan tahun-tahun lalu, perjalanan umrah saya bersama istri kali ini terselip urusan Waskita. Meski biaya sendiri tapi urusan Waskita ikut memenuhi pikiran. Sepanjang perjalanan 400 km dari Jeddah ke Madinah dan 450 km dari Madinah ke Mekah, kata Waskita saya ucapkan hampir sama banyak dengan kalimat talbiah “labbaika Allahumma labbaik…”.

28 Juli 2013

MH87 – Tikus Gigi Jelek dan Bandara Ungguli Penang

Manufacturing Hope 87

MH087 – Tikus Gigi Jelek dan Bandara Ungguli Penang

Sehari kemarin, hari Minggu pagi, 5.000 lebih tikus berhasil di-gropyok petani di Karawang, Sleman, dan Klaten. Musim hujan yang panjang tahun lalu, juga tahun ini, membuat petani sangat bernafsu tanam padi tiga kali setahun. Hasilnya memang baik, tapi beberapa kabupaten yang epidemi tikus harus menderita karena dihancurkan binatang pengerat itu.

Di Sleman, Yogyakarta, seperti dilaporkan Bupati Sri Purnomo kepada saya, 500 hektar sawah sampai puso. Yang 1.500 hektar lagi tidak bisa panen normal.

Di Klaten, seperti dilaporkan Wakil Bupati Hj Hartini, lebih parah lagi. Lebih 1.500 hektar yang puso. Bahkan saat saya berdialog dengan petani, tiga petani menyatakan sudah empat kali tanam gagal total. Petani yang menanam, tikus yang memanen.

21 Juli 2013

MH86 – Karpet Tak Oneng Hujan Tak Henti

Manufacturing Hope 86

MH086 – Karpet Tak Oneng Hujan Tak Henti

Hujan masih terus turun hingga hari ini. Padahal ini sudah bulan Juli. Padahal ini sudah tanggal 22. Sudah hampir Agustus. Ada yang senang dengan anomali cuaca ini. Misalnya petani padi. Bisa panen tiga kali setahun.

Bisa jadi tahun ini produksi beras kita benar-benar melimpah sehingga tidak perlu lagi impor. Asal tidak ada hama yang tiba-tiba mewabah di sawah-sawah kita.

Hama memang sulit diduga. Minggu lalu seorang petani di Kulon Progo, yang saya pernah bermalam di rumahnya, mengirim SMS: ada serangan hama tikus di Yogya. Hari itu juga saya minta Brigade Pemberantasan Hama BUMN di bawah kendali PT Pupuk Indonesia bergerak. Ternyata benar. Serangan hama tikus itu menyerbu Godean, Yogya, kampung asal Almarhum Pak Harto itu.

14 Juli 2013

MH85 – Telah Lahir: Lithium Made In Indonesia

Manufacturing Hope 85

 

Satu lagi langkah maju untuk bisa segera merealisasikan mobil listrik nasional: sejak Sabtu, 13 Juli 2013, Indonesia telah mampu memproduksi baterai lithium. Memang bukan BUMN yang memproduksinya tapi BUMN ikut menjadi pendorongnya.

Tahun lalu ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan oleh Tim Putra Petir BUMN, memang masih menyisakan satu kegundahan ini: baterai (accu) mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai made in Indonesia.

Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal untuk mobil listrik tidak mungkin menggunakan accu biasa, karena ukurannya menjadi begitu besar dan beratnya begitu ampun-ampun.

Maka tidak lama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi itu, saya mencari-cari siapa gerangan yang punya potensi mampu memproduksi baterai lithium di dalam negeri. Tentu saya mengincar pabrik-pabrik baterai yang sudah ada. Lantas saya tawari siapa yang berminat memproduksi baterai lithium.

7 Juli 2013

MH84 – Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru

Manufacturing Hope 84
MH084 - Keroyokan Infrastruktur Lagi untuk Peluang Baru
Membangun infrastruktur secara keroyokan kembali dilakukan. Kali ini di Medan. Tepatnya di Pelabuhan Belawan milik PT Pelindo I (Persero).Selasa pagi (2/7) lalu, di langit terbuka yang cerah di dermaga yang sudah sangat rapi, Direktur Utama Pelindo I Alfred Natsir bersama Dirut PT Hutama Karya (Persero) Tri Widjajanto Joedosastro dan Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Bintang Perbowo, menandatangani perjanjian kerjasama pembangunan dermaga baru senilai Rp 1,9 triliun.Tiga ribu orang yang baru saja senam bersama saya di dermaga itu ikut bertepuk tangan menyaksikannya.Itulah dermaga baru yang akan jadi unggulan Pelabuhan Belawan. Itulah dermaga baru yang kedalamannya mencapai 14 meter.

Itulah dermaga baru yang dibangun setelah 27 tahun lamanya tidak pernah ada pembangunan di Belawan.Tahun ini juga keroyokan itu dimulai. Tidak banyak prosedur dan lika-liku. Semuanya BUMN: dananya, desainnya, kontraktornya, dan operatornya. Saya memang terus mendorong sistem keroyokan seperti ini agar berbagai infrastruktur segera terwujud.

Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 239 pengikut lainnya.