Dahlan Iskan, “Sang Pendobrak” dan “Bombastis”? (bag. 1)

manjadawajada

“DAHLAN Iskan Sang Pendobrak”. Sepintas, judul buku ini, barangkali menggagapkan. Bombastis. Terlampau subyektif sebagai karya jurnalistik. Buku setebal 299 halaman diterbitkan PT Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia) ini,memang, seperti lebih berorientasi sebagai karya kreatifitas  jurnalistik ketimbang karya penulisan sejarah yang harus dibingkai ketat kaidah-kaidah historiografi.

Baca juga: Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI dan Dahlan “dakhilun” Iskan, Gus Dur dan KH Ahmad Dahlan (bag. 2)

Filsafat Hegel memaknai sejarah bukanlah sembarangan deretan peristiwa, tapi suatu proses yang dapat dimengerti, dikuasai oleh hukum-hukum obyektif, yang hanya terpahami dengan memandang sejarah secara keseluruhan.

Mungkin, karena buku berhalaman relatif tebal ini ditulis mantan Pemred Jawa Pos, Sholihin Hidayat, yang  pernah menjadi ‘anak buah’ Dahlan Iskan di surat kabar Jawa Pos. Atau, obyek penulisan buku, merupakan figur yangpernah menjadi ‘guru’ jurnalistik sang penulis. Sehingga,tidak dijamin bisa membebaskan emosi subyektifitaspenulis –jika dimaksudkan– sebagai karya penulisan bernuansa kesejarahan.

Walau begitu, tajuk “Dahlan Iskan sang Pendobrak” yang diangkat dalam judul buku ini, sebuah konklusi  tidak berlebihan. Sebaliknya, menjadifakta kejelian si penulis –-mantan anak buah yang memiliki kompetensi– memotret angle “unik” dan “eksklusif” dari perjalanan sejarah sosok  Dahlan Iskan wartawan “Raja” 205 media Jawa Pos Grup, yang kini menjadi Menteri BUMN. Pastinya, figur Dahlan dalam kapasitasnyasebagai wartawan Indonesia dekade akhir 70-an hingga sekarang.

Sebutan Dahlan Iskan  “sang pendobrak”,terjawab “gamblang” setelah mengikuti cermat isi buku yang dipetakan  dalam 4 bagian. Pendeskripsian sosok Dahlan, lebih merujuk pada pengalaman empirik Sholihin Hidayat selama bekerja bersama Dahlan Iskan dalam membangun kerajaan surat kabar Jawa Pos.

Penyajiannya dikemas dalam gaya jurnalisme testimoni, diwarnai metafora yang sarat nuansa “uzlah” (kontemplasi),  diperkaya tamsil kesufian, alurnya cair, meski cenderung berselancar.

Buku ini juga mencoba mengapresiasi ke-”unik”-an sosok Dahlan Iskansebagai “wartawan sejati” dalam terminologi spiritual. Sebuah figur berkarakter langka di panggung birokrasi, namunmultitalenta, super kreatif melakukan terobosan, berani mendobrak ‘kebuntuan’ selama menjabatDirut PLN. Begitu pula setelah diangkat Presiden SBY, jadi Menteri BUMN, dan belakangan masuk bursa spekulasi kandidat RI-1 atau RI-2.

Memang, bukan sesuatu yang genuine bila dikomparasikan dengan kesejarahan para pemimpin besar di negeri ini, yang dalam perjalanan karierpolitik mereka jugapernah menjadi wartawan, mengasuh dan menerbitkan surat kabar sendiri. Kendati pun alur kesejarahan profesi wartawan para figur itu beda.

Misal, di era Pergerakan Indonesia,sebut nama HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno (era revolusi menjadi Presiden RI ke-1), Hatta (Wapres RI ke-1), Ignatius Joseph Kasimo Endrawahjono, Ki Hajar Dewantara, Sam Ratulangi.  Kemudian, era Orde lama dan Orde Baru di antaranya ada nama menonjol sepertiWapres  Adam Malik dan Menteri Penerangan Harmoko.,

Penulis buku ini jeli dan cermat memotret sosok Dahlan Iskan. Ini tercermin pada fokus pengungkapan sisi spriritualataureligiusitas Dahlan Iskan, yang lahir dan dibesarkan dari keluarga santri, pengamal tarekat Syatariyah.

Apalagi, penulis -–dibantu pemerhati Sejarah Kebudayaan Islam, Abdul Ghohar Mistar– memperkaya dengan ilustrasi beragam tambo islami atau riwayat sahabat Rasul, para aulia maupun ulama-ulama besar, seperti Syekh Abdul Qodir  Aljilani, Hadratus Syekh KHHasyim As’ary, KH Ahmad Dahlan, termasuk Gus Dur sampai Sunan Kalijogo.

Karena Dahlan Iskan dilahirkan dan masa kecilnya tumbuh dalam kultur tradisi Jawa di sebuah desa layaknya desa-desa di Pulau Jawa –misal, ada tradisi setiap musim panen, keluargamengumpulkan tumpeng—karenanya, penulis cukup relevan juga memperkaya dengan ilustrasi tokoh-tokoh kerajaaan Jawa seperti Ken Arok, Gajah mada, bahkan Jaka Tingkir (hal. 272). Kendati pun plot di beberapa bagian, terutama bagian awal, alurnya melebar.

Rupanya, fokus spiritual itulah yang membedakan buku karya Sholihin Hidayat–diperkaya Abdul Gofar Mistar–  ini dengan sederet buku tentang Dahlan Iskan yang belakangan ditulis  beberapa wartawan anak buah Dahlan, baik yang masih aktif maupun non aktif di grup Jawa Pos. Termasuk, yang ditulis wartawan para sahabat Dahlan, maupun buku-buku karya Dahlan Iskan sendiri.*** (bersambung)

http://www.lensaindonesia.com/2013/05/02/dahlan-iskan-sang-pendobrak-dan-bombastis-bag-1.html#r=bacajuga

***

Dahlan “dakhilun” Iskan, Gus Dur dan KH Ahmad Dahlan (bag. 2)

Resensi: Joko Irianto hamid (jurnalis Lensaindonesia.com)

Buku berjudul “Dahlan Iskan Sang Pendobrak” ini, penulis –Sholihin Hidayat dan Abdul Ghofar Mistar–mengidentifikasi wartawan sejati Dahlan Iskan sebagai sosok pembaharu. Atau, ‘pendobrak’, seperti namanya yang merupakan etimologi dari bahasa Arab; “dakholan”, yang berarti terobosan. Alias “dakhilun” (subyek) artinya, pembuat terobosan, pendobrak, pembuka jalan pencerahan.

Dahlan dideskripsikan sebagai wartawan ber-multitalenta. Gaya jurnalisme-nya berhasil mengubah mindset jutaan masyarakat Indonesia –pengonsumsi surat kabar grup Jawa Pos— seakan menjadi “Jawa Pos-isme”.Atau, pembaca mediaGrup Jawa Pos “minded”.

Sebagai jurnalis “anak didik” Pemred Majalah Tempo, Gunawan Muhammad –Dahlanmengawali karier sebagai reporter koran lokal di Samarinda (1975), kemudian menjadi wartawan Majalah Tempo (1976-1981)–, talentanya sebagai wartawan kreator –salah satu karya besarnya — dibuktikan dengan berani memelopori mendobrak –budaya– format lembaran koran konvensional di Indonesia dirombak berukuran jumbo. Ini cuma salah satu dari sederet karya kepeloporan Dahlan Iskan di dunia jurnalistikdi tanah air.

Ada satu lagi yang paling mencengangkan, yang sepertikurang diungkap mendalam di buku ini. Dahlan berani mendobrak kesejarahan profesi jurnalis di tanah air. Konsep “gila”-nya mempertaruhkan nasib Jawa Pos sebagai media besar nasional dengan mengangkat tenaga “lay out” menjadi pemimpin redaksi. Tentu, bukan cuma mendobrak paradigma profesi kewartawan, tapi sekaligus menabrak AD/ARTapa pun nama lembaga organisasi profesi kewartawanan di Indonesia.

Faktanya, sang “layouter” Leak Kustiya,meski tidak pernah punya pengalaman empiris sebagai wartawan pencari berita, apalagi redaktur pengelola berita, toh mampu mengendalikan keredaksian Jawa Pos tertap harmoni di eranya.

Pendalilan Dahlan memproporsionalkan profesi “lay out” di surat kabar identik dengan jurnalis visual koran yang memiliki kesetaraan peran dengan jurnalis berita atau jurnalis foto, tidak meleset. Terbukti lagi, Leak yang berbekal pengalaman berkinerja dengan awak Jawa Pos, dan skill sebagai jurnalis visual koran, serta knowledge mendampingi enam Pemred Jawa Pos (Margiono, Sholihin Hidayat, Dhimam Abror, Arif Afandi, Azrul Ananda, Rohman), menjadikannya sadar karakter dan sistemmanajemen ala Jawa Pos, serta punya kearifan leadership mengendalikan awak media besar. Alhasil, Pemred ‘terobosan’ ini terbilang pemecah rekor terlama dibanding Pemred konvensional di Jawa Pos yang lain.

Penulis juga membeberkan kebeningan Dahlan sebagai pebisnis, dibuktikan dari kepiawaian mengawali mengelola koran Jawa Pos (dibeli PT Grafiti Pers, penerbit Majalah Tempo dari pebisnis The Chung Sen),yang semula hanya beroplah satu becak (1982), kemudian melesat menjadi ratusan ribu eksemplar atau diangkut puluhan truk.

Dari koran yang semula satu becak itu–berkat tangan dingin Dahlan– kini beranak pinak menjadi 205-an anak perusahaan surat kabar (lengkap dengan usaha percetakan), tabloid, dan majalah di seluruh Indonesia. Ini masih ditambah lagi 42 stasiun televisi lokal di tanah air, bisnis gedung perkantoran Graha Pena tersebar di banyak kota provinsi, pabrik kertas, bahkan perusahaan pembangkit listrik, dan masih banyak lagi.(hal. 90)

Sebagai wartawan pendobrak, Dahlan Iskan dalam buku ini tidak diidentikkan simbol perlawanan ideologi. Sebaliknya, Sholihin ingin menyampaikan bahwa Dahlan Iskan figur inspirator, inovator, motivator, sekaligus konseptor yang dapat memberikan ketauladanan perlawanan terhadap kebekuan, ketidakberdayaan, ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, bahkan simbol wartawan progresif.

Semua itu dibuktikan dari ketangguhan Dahlan ‘start’ dari masa kecilyang hidup di tengah keluarga miskin di Dukuh Kebondalem, Desa Tagalarum, Kec Bendo, Magetan. Dahlan kecil biasa ikut rebutan nasi kenduri di acara tradisi “nyadran” di kuburan, maupun di langgar. (kata pengantar Dahlan Iskan).

Ketauladanan terobosan Dahlan lainnya, yang kurang disinggung mendalam oleh penulis, bahwa Dahlan tidak cuma teruji melahirkan wartawan-wartawan andal di negeri ini, yang salah satunya, Margiono CEO Rakyat Merdeka Group dan Ketua Umum PWI Pusat. Dahlan juga piawai jadi ‘guru’ mendidik karyawannya dari seorang pesuruh atau sopir pengangkut koran, misalnya, hingga nasibnya berubah jadi Dirut yang berhasil mengelolah media anak perusahaan Jawa Pos, juga ada yang sukses jadi pengelola perusahaan percetakan media.

Banyak pengusaha yang gagal mengembangkan bisnisnya, disebabkan karakter pribadinyalebih menyerupai penjudi daripada pengusaha. Banyak ilmuwan yang ilmunya tidak menyerdaskan siapa pun, malah menyesesatkan masyarakat, karena sejak di bangku sekolah dia hanya memimpikan jabatan dan kekayaaan. Ilmunya tidak bermanfaat, karena tertutup oleh keserakahan hawa nafsunya. Dia ibarat tawon gung yang ke mana-mana cuma menebar ancaman bagi siapa saja. (hal 136)

Dan celakalah bila ada pengusaha, pejabat, atau politisi yang kesenangannya hanya singing, eating, dan touring. Pasti pikiran-pikiran korup akan selalu mengendap dalam benak mereka. (hal. 62)

Rupanya, inilah kelebihan penulis, melengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi “uzlah” (kontemplatif). Gaya penyajian yang mengingatkan jurnalisme testimoni, menjadi cair, tidak mengencangkan kening, meski alurnya di bagian-bagian tertentu mengembang.

Pendobrakan Dahlan, diungkap pula, bukan cuma bisa membuat Jawa Pos beranak pinak menjadi lebih seratus surat kabar di seluruh Indonesia. Namun, Dahlan juga mampu mencerahkan atau menghidupkan industri pers di seluruh provinsi, kota-kota besar dan kota terpencil di negeri ini, yang sempat mengalami stagnasi dalam perjalanan paruh Orde Baru. Kehidupan pers daerah bernasib “hidup segan mati tak mau”.

Berkat terobosan Dahlan Iskan membangkitkan industri pers daerah, alhasil, lahir pula ribuan wartawan andal menyebar di seluruh tanah air, dan kini menjadi pelaku salah satu pilar demokrasi di negeri ini.

Begitulah sebagian dari sederet potret ‘sang pendobrak” Dahlan Iskan yang ingin disampaikan Sholihin Hidayat.Dipaparkan dengan model jurnalismetestimoni yang dilengkapi metafora sarat kontempasi, komunikatif, ‘gayeng’.

Mafhum, kalau di bagian 1 buku ini, Sholihin Hidayat membingkai Dahlan Iskan sebagai sang pendobrak di dunianya, lantas ia tarik benang merah dengan kesejarahan Gus Dur yang diberi gelar oleh sejarahwan dengan sebutan Abdurrahman “Ad-dakhil”. Atau, Abdurrahman sang pendobrak, sang pembuka jalan baru sejarah Islam di benua Eropa.

Tidak cuma itu. Sholihin juga mengapresiasi figur wartawan Dahlan Iskan –dalam kapasitasnya– dengan sebutan “sang pendobrak” yang pernah melekat pada KH Ahmad Dahlan, pendiri perserikatan Muhammadiyah, yang juga pemimpin gerakan pembaharu Islam dan oleh Belanda dijuluki “Harimau Jawa”.

Penulis buku ini tidak bermaksud menyetarakan Sosok Dahlan Iskan, Gus Dur, dan KH Ahmad Dahlan. Masing-masing adalah keniscayaan ‘hidayah”. *** (bersambung)

***

Dahlan Iskan, “Man jadda wajada” antara Wapres dan Presiden RI

Dahlan Iskan; “Sang Pendobrak”, buku karya Sholihin Hidayat ini akan dikupas Najwa Shihab di acara lauching yang dihadiri Dahlan Iskan dan sang penulis Sholihin Hidayat, Rabu siang (8/5/2013) di Kantor Bulog Jakarta.(Foto: dok. licom)

SEBAGAI“Presiden”, barangkali, lebih seratus ribu karyawan dari semua anak perusahaan Grup Jawa Pos, kursi kepemimpinan sang “wartawan sejati” Dahlan Iskan, bukan hadiah dari laku “political will”.

“Kursi” supremasi daya hidup sosok “wartawan” ini dibeberkan di buku karya Sholihin Hidayat: “Dahlan Iskan Sang Pendobrak” (penerbit grup Kompas Gamedia), dan bukan pula diraih dari hasil kerja instan seperti fakta banyak politisi terkini. Juga bukan warisan dinasti kerajaan bisnis, atau warisan politik dinasti, termasuk fasilitas dari pemerintah.

Baca juga: Dahlan “dakhilun” Iskan, Gus Dur dan KH Ahmad Dahlan (bag. 2) dan Dahlan Iskan, “Sang Pendobrak” dan “Bombastis”? (bag. 1)

Sebaliknya, Dahlan mengawali dari ‘training’ memimpin hanya belasan orang yang bergabung di awal koran Jawa Pos bergerak (1982). Tentu, karunia itu berkat terobosan wartawan Dahlan Iskan mendasarkan kesadaran “good will”; semangat “kerja, kerja, kerja”, yang kemudian dijadikan motto saat awal dipercaya negara, mengelola PLN.

Virus optimisme “kerja, kerja, kerja” itu pun,akhirnya disebarkan ke 144 perusahaan di bawah kementerian BUMN, yang ia kendalikan saat ini. Contoh, Dahlan datang ke kantor Kementerian BUMN pukul 06.45, atau saat karyawan masih berkemas-kemas di rumah, maupun dalam perjalanan. Ini kebiasaan lama Dahlan, tentu naïf bila dikaitkan tujuan sederhana pencitraan. Malahan, bila tak ada tugas luar, Dahlan juga tak jarang pulang saat kantor Kementerian BUMN sudah sepi.

Sholihin Hidayat mempertegas dalam bukunya ini, bahwa Dahlan Iskan selain simbol “kerja, kerja, dan kerja“, juga secara ekstrim menganalogikan bahwa ‘agama’ Dahlan adalah kerja. Etos kerja Dahlan digambarkan di atas rata-rata standar manusia Indonesia.

Itu dibuktikan Sholihin, sejak Dahlan merintis “kerajaan bisnis’ Jawa Pos, 30 tahun silam;

Ada kenangan lucu, saya (Sholihin Hidayat) dan Margiono (CEO Grup Rakyat Merdeka dan Ketua PWI Pusat) sepakat mengungguli kinerja Pak Dahlan (1982). Caranya, datang ke kantor mendahului Pak Dahlan, pulang lebih belakang.Waktu jam kantor pukul 07.00, saya dan Margiono datang pukul 06.00, ternyata Pak Dahlan sudah ada. Esoknya, saya dan Margiono datang jam 05.00, Pak Dahlan juga lebih dulu ada. (hal. 84)

Saking keselnya, Solihin dan Margiono kapok. Termasuk, tak mampu mengalahkan pulang kantor paling akhir. Karena ditunggu sampai Subuh, ternyata Dahlan cetak-cetik di depan mesin ketik (belum ada komputer).

RAPAT PARA BOS USAI SUBUH

‘Kegilaan’ kerja wartawan muda Dahlan yang 30 tahun silam masih tinggal di rumah kontrakan, faktanya sampai sekarang –meski posisinya sudah ‘big boss’ “kerajaan besar Jawa Pos” dan usia hampir berkepala 6– tetap tak berubah. Malahan, dipercaya Negara, mengelola PLN atau pun sekarang jadi Menteri BUMN, terkesan lebih “gila” lagi. Nyaris tidak mudah dikalahkan ‘kegilaan’ kerja anak-anak muda model apa pun. Termasuk, naïf bisa ditandingi standar kerja orang-orang yang pernah menjalani operasi organ tubuh, misalnya, apalagi operasi ganti hati seperti yang pernah dijalani Dahlan sewindu lalu.

Sholihin menyoba mengapresiasi lebih jauh etos kerja paling takjub dari seorang pejabat Negara, yang wartawan ini. Misal, Dahlan pernah mengadakan rapat BUMN dengan 1000 bos pabrik gula se Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta, dimulai pukul 05.00 (usai salat Subuh) dan selesai pukul 08.00 (jam masuk kantor). Rapat membahas rencana target kerja lebih keras lagi di tahun 2013. (hal. 122)

Terbersit, Dahlan bukan sekadar menguji kesunggguhan bos-bos pabrik gula seluruh Indonesia. Barangkali, target Dahlan yang begini, beda dengan kebiasaannya mengajak –rapat usai Subuh– para direksi di grup Jawa Pos. Di balik itu, mungkin, para bos gula kumpul di Jakarta, nginap di hotel bintang lima, dan dipaksa rapat subuh, selain bermakna jadi ‘suplemen’ mult spirit fokus kerja, sekaligus agar ‘terjaga’ dari udara “malam” hedonis Jakarta.

Itulah salah satu contoh ‘kegilaan’ Dahlan yang tak sekadar ‘bergila-gilaan’, apalagi dikaitkan dengan tujuan ‘sepele’ pencitraan. Kelebihan Dahlan, adalah menularkan kerja harus tepat, cepat, tangkas, dan benar. Mafhum, Sholihin Hidayat lagi-lagi menarik benang merah pada sosok Presiden RI ke-4 Gus Dur yang statement dan gagasannya senantiasa membuat orang tergagap-gagap dan “uzlah”. Sebaliknya, Dahlan “dakhilun” Iskan digambarkan berdaya hidup “pendobrak” kebuntuan yang senantiasa mencengangkan standar orang Indonesia.

Banyak orang yang cerdas, kreatif, dan konsisten, tapi tidak banyak orang yang bersabar mengawal dan menjaga konsistensinya hingga mencapai tujuan. (hal 44)

MAN JADDA WAJADA

Penulis buku ini juga melengkapi dengan ilustrasi yang cukup kontemplatif tentang Dahlan dalam persepsi seorang guru Madrasah Aliyah. Penulis seperti sengaja merekam ketika Dahlan Iskan –yang juga jebolan Madrasah Aliyah– berkunjung ke sekolah Madrasah Aliyah, di mana sang guru tadi mengajar. Begini;

“Kalian harus bangga sebagai murid Madrasah. Harus berani bercita-cita seperti Pak Dahlan. Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib kalian, sebelum kalian bertekad merubah nasib sendiri… Saya berdoa selalu, dari Madrasah Aliyah ini, akan ada yang menjadi Gubernur, bahkan Presiden RI”, kata si guru Aliyah di depan kelas.

“Bukan gaya berpakaian kalian, bukan penampilan fisik kalian yang bisa mengantarkan menuju kesuksesan. Tapi, kesungguhan dan keseriusan kalian dalam belajar yang akan menentukan nasib di kemudian hari. Pegangilah ucapan Nabi Khidir ini; “Man jadda wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan. (sopo sing temen bakal tinemu). (hal 81)

Penulis seperti sangat antusias ingin mengungkap jauh, daya dobrak Dahlan bukan cuma dibuktikan pada ide atau gagasan –gagasan ‘gila’ atau genuine, maupun pola pengaplikasian yang tidak standar umum. Gaya hidup maupun penampilan keseharian Dahlan pun diungkap cenderung ‘mendobrak’ pola-pola konvensional yang lebih berorientasi simbolik ketimbang berkaitan dengan produktifias. Misal, ikut sidang kabinet di Istana, contohnya, maupun saat memimpin rapat para Dirut perusahaan BUMN. Dia tetap konsisten dengan kebiasaannya bersepatu kets dan kemeja lengan pendek, atau kemeja lengan panjang yang digulung.

Satu lagi. Adagium yang tidak berhenti sekadar wacana, senantiasa disebarkan Dahlan Iskan, bukan cuma di jajaran kementerian BUMN yang membawahi 144 perusahaan milik rakyat Indonesia. Penulis buku ini, juga menyoba menguak bahwa Dahlan amat memahami komitmen memajukan bangsa ini. Karenanya, virus optimisme kerja, kerja, dan kerja harus ditularkan pada generasi terkini, khususnya anak-anak muda di kampus-kampus.

Dahlan pun digambarkan rajin mendatangi puluhan kampus dan pondok pesantren. Seperti ceramah di Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, Universitas Beuren Lhoksemawe, Universitas Sumatera Utara Medan, Universitas Airlangaa, Universias Brawijaya, universitas Diponegoro Semarang, Universitas Gjahma da Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, Universitas Pertanian Bogor, Universtas Negeri Jakarta, Universitas Indoensia, Intitut Teknologi Bandung, Institut 10 Nopemer Surabaya (ITS), dan masih banyak lagi.

“Mengajarkan optimisme melihat masa depan, baik masa depan sendiri maupun masa depan bangsa, harus dilatih sejak mahasiswa. Lulus, terjun di dunia usaha tidak gagap dan terbiasa menghadapi tantangan. Usia 30-35, menempati posisi manajer madya (Indonesia punya satu juta manager madya tangguh). Ini sekaligus modal bangsa ini untuk jadi negara maju,” kata Dahlan, menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Universitas Banda Aceh..

“Kegilaannya” mengabdikan hidup untuk kemaslahatan kerja sebagai “wartawan sejati” sekaligus pelaku wirausaha yang “Man jadda wajada” –sayang, tanpa diimbangi menjaga stamina tubuh– karenanya, Dahlan harus ikhlas menerima realitas takdir operasi ganti hati di China.

Buku ini juga mengupas, toh Dahlan tetap konsisten sebagai ”wartawan sejati”. Selama menjalani operasi ganti hati –sebelum jadi Dirut PLN—termasuk pemulihannya di sebuah rumah sakit China, misalnya, dia tetap bersemangat menulis laporan peristiwa medis yang dialami dan dimuat Koran grup Jawa Pos. Tulisan-tulisannya yang tergolong reportase super eksklusif itu kemudian dibukukan. Bahkan, buku itu penjualannya tergolong “box office”.

Tekad Dahlan berhenti berbisnis setelah operasi hati, ternyata dijawab Allah supaya mengabdikan ilmu dan pengalamannya kepada nusa dan bangsa. (281)

Begitulah Dahlan, dalam kondisi kesehatan yang cukup ‘mengkhawatirkan’ keluarga dan kerabat besarnya, toh dia malah bersemangat menerima amanah negara –diminta Presiden SBY untuk menjadi Dirut PLN– dengan penuh keikhlasan untuk mengabdi.

KONSISTEN MENULIS

Selama menjabat Dirut PLN pun, dia juga tetap konsisten dengan jati dirinya sebagai “wartawan sejati”. Dahlan rajin menulis laporan kepada pembaca media terkait persoalan-persoalan PLN, misal, layaknya reportase wartawan senior yang menguasai betul obyek-obyek persoalan yang ditulis. Praktis, masyarakat menjadi paham kenapa Indonesia di abad global masih “byar pet”, masih ada masyarajakat Indonesia, yang belum menikmati energy PLN.

Bahkan, sejak mendapat amanah baru sebagai Menteri BUMN, Dahlan masih terus menulis. Paling tidak seminggu sekali, dia menulis “Manufacturing Hope” di media grup Jawa Pos.

Saya ini sanga kenal dengn Aristoteles, Einstein, Imam Al Ghozali, Imam Syafii, Ibnu Sina, Al Farabi, Al Khuwairizmi, dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Walau pun tidak pernah, bahkan tidak akan pernah bertemu mereka, tapi saya memahami pikiran-pikiran kearifan mereka.

Barangkali, seperti itulah yang ingin diwujudkan Dahlan Iskan dengan tetap konsisten “Man jadda wa jada” dalam mempraktikkan daya hidupnya; sebagai pebisnis, pejabat publik, termasuk jati dirinya sebagai wartawan yang oleh penulis disebut sebagai “wartawan sejati”.

Gebrakan dan terobosan Dahlan selama menjadi pejabat publik, bukan berarti berhenti membuat orang tecengang seperti ketika memimpin “kerajaan Jawa Pos”. Pro kontra terus mengalir keras. Proyek besarnya menjadikan Indonesia bebas dari lampu ‘byar pet’, misalnya. Pasca menjadi Dirut PLN pun, dia masih terus di-“kejar-kejar” para politisi di Senayan, dengan dalih minta pertanggungjawaban akuntanbilitas penggunaan anggaran APBN.

Dahlan toh, bergeming. Dahlan tak gentar. Penulis menyitir ungkapan Presiden AS John F Kennedy: “Jangan kamu bertanya apa yang diberikan Negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu. (hal 277)

Lebih heboh lagi ketika Dahlan larut “perang” terbuka dengan para politisi di Senayan. Ada anggota DPR yang mengusulkan agar Dahlan Iskan dibawa ke dokter atau psikiater. Hal itu dikarenakan Dahlan menuduh beberapa anggota dewan memeras BUMN tanpa memberikan bukti hukum. (hal 250) .

…Orang harus berani mencoba dengan cara “setengah gila” untuk menghadang laju korupsi di negeri ini. Orang harus berani mendobrak tembok raksasa dengan cara “setengah gila’. Sebab, cara-cara normal sudah tidak mempan lagi. Demikian kesimpulan penulis seraya memberi ilustrasi; Sejarah bangsa kita mencatat “orang-orang setengah gila” seperti peristiwa besar 10 November 1945, rakyat jelata hanya bersenjata bamboo runcing, linggis, ketapel mampu mengusir dan mengalahkan sekutu yang bersenjata modern.

Akankah gerak laku Dahlan yang dikesankan seorang guru Madrasah Aliyah; “Man jadda wajada”, kelak bisa seperti harapan dan doa si guru Aliyah itu; bisa menjadi Presiden RI atau Wapres RI?

Membangun jati diri bangsa harus dimulai dari peneladanan oleh para pemimpin. Bilamana para pemimpin sudah bertindak jujur, mau kerja keras, dan hidup sederhana, maka dengan sendirinya rakyat akan berbaris di belakanganya. (293)

Begitu konklusi penulis, yang bukunya akan dikupas Host popular di program talk show “Mata Najwa” Metro teve, si Najwa Shihab pada Rabu siang (8 Mei 2013) di Kantor Bulog Jakarta. Buku yang kabarnya cukup laris sebelum di-launching Rabu lusa itu, selama pembahasan juga akan menghadirkan si penulis buku dan “Sang Pendobrak” Dahlan Iskan. @resensi bag.3-tamat

Editor: Joko Irianto | Senin, 06 Mei 2013 06:59 WIB, 3 jam yang lalu

http://www.lensaindonesia.com/2013/05/02/dahlan-iskan-sang-pendobrak-dan-bombastis-bag-1.html#r=bacajuga

http://www.lensaindonesia.com/2013/05/02/dahlan-dakhilun-iskan-gus-dur-dan-kh-ahmad-dahlan-bag-2.html#r=bacajuga

http://www.lensaindonesia.com/2013/05/06/dahlan-iskan-man-jadda-wajada-antara-wapres-dan-presiden-ri.html#r=bacajuga

About these ads

2 Komentar to “Dahlan Iskan, “Sang Pendobrak” dan “Bombastis”? (bag. 1)”

  1. Seminggu yang lalu, saya ketemu Sholihin Hidayat, penulis buku ”Dahlan Iskan, Sang Pendobrak” di kediaman Ferry Is Mirza, Ketua Panitia Bedah Buku Dahlan Iskan Sang Pendobrak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu saya hanya lihat sepintas buku yang khusus dikasih ke Ferry dengan tulisan tangan penulis dan tandatangannya sekaligus.
    Dalam benak fikiran saya saat itu, penulis akan menggambarkan, bagaimana sepakterjang mantan Dirut PLN dan Menteri BUMN itu mendobrak birokrasi yang sering menjadi penghambat kerja cepat dan kerja cerdas Dahlan Iskan untuk melakukan langkah-langkah cepat dalam usaha memajukan dan mengembangkan perusahaan plat merah khususnya dan dunia usaha pada umumnya. Rupanya, masalah ini sama sekali tidak disinggung dalam buku tersebut.
    Padahal, masalah ini sangat penting, karena birokrasi yang berbelit-belit telah menjadikan investor asing atau lokal, kurang tertarik menanamkan investasinya di Indonesia. Dahlan sendiri berusaha mengobrak abrik birakrasi yang berbelit-belit tersebut.
    Contoh nyata seperti yang sedang dia usahakan untuk menerobos birokrasi yang berbelit-belit itu adalah ketika dirinya berusaha menggerakkan BUMN-BUMN binaannya untuk membangun monorel antar provinsi (DKI Jakarta) dan kebupaten/kota (Bupati dan Walikota Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang), yang seharusnya payung hukumnya adalah Peraturan Presiden (Perpres). Dahlan berusaha mengadakan pendekatan kepada mereka, karena kalau menunggu Perpres, jelas sangat lama, sehingga keinginan untuk segera membangun monorel itu, bisa jadi akan berlarut-larut.
    Demikian juga ketika akan membangun jalan tol trans Sumatera hingga Banten dengan jarak hingga lebih 2.700 Km dari Aceh hingga Banten. Dahlan pun semula berusaha mengadakan pendekatan kepada para gubernur sepanjang Sumatera hingga Banten, mereka pun setuju. Ternyata, ada tembok raksasa yang sulit diterobos yang bernama UU Jalan Tol, hingga akhirnya dia harus bersabar menunggu keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) untuk pembangunan jalan tol lintas provinsi tersebut.
    Jika buku itu dicetak ulang, semoga dobrakan Dahlan Iskan atas birokrasi yang berbelit-belit itu akan melengkapi buku yang konon langsung dicetak dalam cetakan pertama hingga 20.000 eksemplar tersebut. Semoga Koh Hin, demikian panggilan akrab teman-temannya pada teman dekat Dahlan Iskan itu memanggilnya, akan mengkritisinya lebih mendalam atas sepakterjang Dahlan Iskan yang tidak suka pada birkrasi yang berbelit-belit. Monggo Koh Hin……

  2. Ndere’aken kang bahar maksum…sebagai pelengkap siapa sesungguhnya presiden qta ini. (insyaalloh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 238 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: