Gaji Kecil, Gaji Besar

Terkaget-Kaget dengan Jurus Bisnis Dahlan Iskan (0)
Gaji Kecil, Gaji Besar

mendapatkan-gaji-besar

jokointartoEntah bagaimana mulainya, siapa yang memulainya, faktanya kabar gaji kecil di Jawa Pos (group) selalu bermunculan. Waktu Jawa Pos masih koran kecil yang sekarat, sampai Jawa Pos yang sudah beranak-pinak menjadi 207 koran, tabloid, majalah, 37 stasiun tv lokal, 30 lebih percetakan, kabar miring itu masih sering ditanyakan.

Benarkah gaji karyawan Jawa Pos (group) kecil? Jawabnya bisa ya, bisa tidak.

Ya, kalau dihitung secara akuntansi, kira-kira 8 – 14 persen dari rata-rata omset penjualan bersih setahun.

Tidak, kalau yang disebut “gaji” adalah total pendapatan yang dibawa pulang alias take home pay.

Gaji yang diperhitungkan dari persentase penjualan, awalnya membikin saya bingung. Aneh saja. Gaji kok dihubungkan dengan berapa penjualan setahun.

Pada tahun 1993, saya diberi amanat Dahlan Iskan memimpin koran harian di Palu. Sebelum berangkat, saya diminta Dahlan untuk belajar membaca cashflow, rugi laba dan neraca.

Tak mudah awalnya bagi saya memahami kolom-kolom dan angka-angka itu. Latar belakang saya yang kuliah di fakultas hukum, menambah kelemotan saya menerjemahkan arti angka-angka itu.

Dari tabel, kolom dan angka-angka itu, akunting meminta saya mencermati hasil penjualan tiap bulan, tiap tiga bulan, tiap enam bulan, tiap sembilan bulan dan tiap setahun.

Rupanya, hasil penjualan ini menjadi patokan untuk menghitung biaya apa saja yang ada di perusahaan.

Setelah mencermati hasil penjualan, mulailah saya memelototi biaya produksi. Dalam biaya produksi, ternyata ada biaya gaji. “Ini gaji semua yang terlibat dalam produksi,” jelas akunting.

Setelah itu, saya perhatikan biaya operasi. Di situ ada gaji juga. “Ini gaji bagian umum, bagian keuangan, bagian administrasi, bagian pemasaran dan bagian ekspedisi,” lanjut akunting.

Gaji produksi dan gaji operasi, rupanya dipisah. Gaji produksi masuk dalam komponen produksi koran. Sedang gaji operasi masuk dalam komponen pelaksanaan usaha sehari-hari.

“Yang ideal, gaji produksi dan operasi itu tidak lebih dari 8 persen omset penjualan bersih,” kata akunting.

Saya lihat angka persentase haji dibanding hasil penjualan. Tertulis 10 persen. “Wah ini salah dong. Boros,” komentar saya.

“Bukan boros itu. Sebuah perusahaan baru, umumnya begitu. Omsetnya masih kecil, karyawannya sekecil-kecilnya juga banyak. Untuk yang baru, toleransinya sampai 14 persen,” kata akunting.

Kenapa gaji harus dibandingkan penjualan? Ternyata, pengaitan itu disengaja oleh manajemen Jawa Pos, agar pimpinan perusahaan tidak tergelincir atau salah langkah, merekrut karyawan melebihi kemampuan anggaran gaji..

Implementasinya begini: kalau penjualan Anda setahun Rp 10 miliar, idealnya jumlah gaji setahun adalah Rp 800 juta. Sebanyak-banyak Rp 1,4 miliar.

Pertanyaannya, berapa jumlah karyawan idealnya? “Terserah pimpinan perusahaan, mau berapa orang karyawannya. Kuenya hanya 1 piring. Mau dimakan berlima atau berlimapuluh, silakan saja,” jawab Dahlan.

Kalau mau bagian besar, karyawannya jangan banyak-banyak. Konsekuensinya, kerja mesti keras. Demikian pula sebaliknya.

Jadi, di sinilah sumber asal-muasalnya istilah “gaji kecil” di Jawa Pos (group). Besar atau kecil, dasarnya adalah penjualan. Kalau penjualan digenjot, maka nomimal atas gaji produksi akan naik juga. Sebaliknya, kalau penjualan rendah, nominal dari persen juga akan mengecil.

Gaji karyawan Jawa Pos relatif kecil, kalau yang disebut gaji tidak termasuk tunjangan2. Di Jawa Pos, ada banyak komponen gaji dan tunjangan.

Karyawan Jawa Pos (group) umumnya menerima uang 6 x sebulan. Gaji diterima tiap akhir bulan. Tunjangan profesi tiap tengah bulan. Tunjangan profesi nilainya bisa 2 x gaji.

Pada tahun 1991, gaji saya sebagai reporter percobaan Rp 200.000. Uang ini yang separoh cukup untuk kos dan makan plus cuci baju. Separoh sisanya untuk kebutuhan sekunder.

Setelah lolos percobaan 3 bulan, gaji saya naik menjadi Rp 450.000. Saat inilah mulai ada tunjangan profesi. Kalau rajin dan sering pun ya berita eksklusif, tunjangan ini bisa 2 x lipat.

Kemudian tiap Sabtu mendapat uang makan seminggu berjalan.

Ada juga pemberian perusahaan pada bulan Mei atau Juni. Namanya togel, Nilainya 20 persen keuntungan bersih, yang dikembalikan kepada karyawan.

Suatu ketika, keuntungan Jawa Pos luar biasa besar. Saking besarnya, togel dibayarkan setiap bulan sampai seluruhnya lunas. Jadi, saya pernah menerima uang dari perusahaan berkali-kali dalam sebulan.

Gaji akhir bulan. Tunjangan prestasi tengah bulan. Togel bulan ketiga. Uang makan tiap Sabtu.

Kecil? Tentu saja tidak. Bagi perusahaan yang sudah sukses, gajinya pasti besar-besar. Bagaimana di perusahaan yang kecil? Perusahaan yang kecil, memang gajinya akan kecil juga. Kecuali, perusahaan itu berhasil dibesarkan.

Gaji besar, gaji kecil, bukanlah policy Jawa Pos. Terlebih keinginan Dahlan. Gaji kecil atau besar, ditentukan oleh sistem, dan menjadi pilihan bagi pimpinan perusahaan untuk menetapkannya.

Hari ini, di sejumlah anak perusahaan Jawa Pos yang sudah sukses, gaji, fasilitas dan tunjangan karyawannya bahkan lebih baik dari Jawa Pos.

Tapi, bagi perusahaan dhuafa, gajinya tentu saja masih belum menggembirakan. Bukan dibanding UMR, tapi dibanding kawan-kawannya yang sukses.

Walau gaji saya di Jawa Pos cukup baik, dua tahun lalu saya memutuskan pensiun dini, setelah bekerja 20 tahun.

“Saya ingin memulai sebuah pekerjaan yang tidak kenal pensiun,” kata saya saat meminta pertimbangan Dahlan.

“Bagus. Jadi karyawan sudah pernah. Jadi direktur juga sudah pernah. Yang belum jadi direktur di perusahaan sendiri. Semangat,” kata Dahlan.

“Tapi ingat, menjadi pengusaha bisa lebih sengsara. Sudah gajinya belum tentu tepat waktu, nilainya juga belum tentu lebih banyak dari UMR,” canda Dahlan mengingatkan risiko menjadi pengusaha.

Ternyata, candaan Dahlan benar adanya. Sudah saya alami semua dalam 2 tahun ini.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi.

Follow me @intartojoko

About these ads

One Comment to “Gaji Kecil, Gaji Besar”

  1. Rata rata tamatan SMA dan sederajat cuma di gaji 700ribu-900ribu/bulan. Apalagi yang cuma tamatan SD. padahal baik sarjana maupun orang rendahan itu sama sama makan nasi dan punya kebutuhan dasar yang sama. Bayangkan bagaimana bisa hidup dengan gaji cuma 700 ribu perbulan,belum makan,sewa kost,listrik,isi bensin,beli sandal,baju,biaya perawatan kendara’an,dan segala kebutuhan dasar. Ini bukan masalah kufur nikmat. Untuk makan saja dengan gaji segitu aja udah habis tu gaji,belum sewa rumah. Dan aneh nya para pengusaha kalo membuka lowongan,pasti tidak mencantumkan upah gaji di lowongannya,ini sangat menjengkelkan dan menzalimi pencari kerja,belum lagi para wirausahawan tersebut dalam lowongannya tidak melayani SMS.bayangkan saja betapa zalimnya itu. Pencari kerja sudah habis pulsa,buat CV,antar lamaran,di panggil interview,gak tahunya cuma di gaji 700-900ribu. Apa yang terjadi? Yang pencari kerja menolak lah,terpaksa pulang dengan raut kesedihan. Ini kezaliman.saya sarankan untuk para usahawan,kalo mau cari karyawan itu,cantumkan nominal gaji nya di brosur lowongan,jadi kami sebagai pencari kerja,tak membuang buang waktu dengan tawaran gaji anda yang kecil itu. Anda harusnya tahu dengan gaji segitu anda hanya akan mendapatkan tenaga muda yang cengeng.Saya sarankan buat yang mau cari karyawan.kalo anda tak sanggup menggaji karyawan dengan standart yang layak.jangan bikin lowongan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 242 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: