Ulasan MH65 – Pengalaman di Ruang Operasi Dr. Terawan

PERNAH dengar operasi kepala? Pada tahun 1970-an, ada beberapa tokoh orang Indonesia pernah dioperasi di Swiss. Baru-baru ini penulis mengalami penyempitan di kepala, setelah di ”MRI” hasilnya cukup mengejutkan. Kalau tidak cepat di adakan penanganan, saya akan diserang stroke berat.

Itulah sebabnya saya segera mencari ahli dalam bidang itu. Saya pernah dengar mengenai seorang ahli penyempitan di kepala, yakni Dr. Terawan di RSPAD yang merupakan tim dokter kepresidenan. Atas jasa Brigjen Dr. J. Kiki Kilapong, MSc., dibantu oleh Drs. Budi Ruslin saya bisa diterima Dr. Terawan, tapi tidak di RSPAD, namun di RD Gading Pluit, Kelapa Gading. Karena di RSPAD sudah penuh.

Karena menyangkut masalah jaringan di otak kepala, saya membawa istri, anak-anak dan menantu. Setelah diberi penjelasan seperlunya saya harus ditangani tanggal 7 Maret Jam 19:00 akan diadakan operasi untuk membersihkan jaringan-jaringan  tersumbat di kepala. Seluruh keluarga setuju.

Tanggal 7 Maret Jam 13:00 saya sudah di RS dan di masukkan ke IGD. Diterima Dr. Heru, Dr. David, Dr. Jaya dan Dr. Budi, untuk diinfus, diperiksa semua di Lab, foto maupun darah dan EKG. Setelah selesai kira-kira 2 jam, saya diminta untuk ke lantai 8. Menunggu sampai jam 19:00. Pada jam 19:00 saya dibawa ke lantai 3 Ruang Operasi. Para perawat sudah menunggu, kemudian datang ahli anastesi Dr. Irwan, Dr. Eko, Brigjen Dr. J. Kiki Kilapong, MSc., sambil menunggu Dr. Terawan. Beliau baru datang dari mensyukuri penganugerahan dari Universitas Gajah Mada.

Sekitar jam 19:30 Dr. Terawan masuk, saya mengucapkan selamat. ”Tenang Pak Harmoko, kita mulai ya?” kata Dr. Terawan dengan senyum khasnya. Istri dan anak, saya suruh melihat di balik kaca, cuma boleh dua orang. Langkah pertama Dr. Terawan adalah melakukan bius lokal, saya bisa melihat di kaca monitor apa yang dilakukan Dr. Terawan.

Sambil ”menyanyi” Dr. Terawan memasukkan alat-alat ke pangkal paha, dalam tempo 10 menit sudah masuk semua, kemudian saat itu juga terlihat di kaca monitor Dr. Terawan  melakukan pembersihan penyempitan di kepala di kanan maupun di kiri. Di mulut saya terasa seperti mentos, sampai di telinga rasanya plong. Saya terus berdzikir, ini masalah penyempitan di kepala, saya selalu memohon kepada Allah SWT untuk diberi kelancaran, keselamatan dan lindungan-Nya.

Sebelumnya, istri saya menanyakan kepada Dr. Terawan tentang bagaimana kemungkinan sembuhnya?. Dr. Terawan dengan rendah diri menyatakan bahwa semua itu ada pada Allah SWT. ”Bu saya akan berusaha semaksimal mungkin, sesuai ilmu kedokteran,” kata Dr. Terawan.

Setelah selesai operasi saya dikembalikan lagi di lantai 8, dua jam untuk tidak bergerak dari jam 21:00 sampai jam 23:00. Jam 23:10 saya bisa buang angin (kentut) dan selesailah. Pagi-pagi sudah di suruh pulang ke rumah. Rasanya terang, biasanya saya sholat pakai kursi sekarang tidak. Hanya, oleh Dr. Terawan, saya diminta untuk terus terapy, karena jalan saya masih ”timik-timik”.

Itulah pengalaman bersama Dr. Terawan di ruang operasi dalam waktu 30 menit sudah selesai, rampung. Saya bersyukur kepada Allah SWT. Kalau di RSPAD menurut Dr. Terawan baru September bisa dilayani, karena memang ratusan orang antri, sangat banyak. Alhamdulillah untuk di RS Gading Pluit saya diprioritaskan.

Dr. Terawan adalah satu-satunya ahli yang saat ini bisa menangani operasi di kepala. Dr. Terawan sering mengadakan kuliah di RRC dan beliau memang sering mengajar dan ceramah di Beijing tentang keahliannya. Oleh karena itu tidak mustahil sebagian orang mengatakan kalau Dr. Terawan adalah turunan dari RRC, Tiongkok. Karena sering di RRC itu maka dikatakan keturunan dari Cungkok, namun kenyataannya tidak. Nama lengkap adalah Dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Pad (K) RI, orang Jogja asli, masih ada keturunan dari H.B. ke III.

Sebelumnya saya pernah mengadakan konsultasi dengan dokter Singapore, katanya belum ada obatnya. Rupanya dokter di Singapore tidak memahami cara-cara yang dilakukan Dr. Terawan dari Indonesia. Itulah profil Dr. Terawan yang memiliki keahlian khusus, pemerintah dan bangsa Indonesia harus bangga memiliki dokter seperti Dr. Terawan. Beliau baru umur 48 tahun, tapi sudah melakukan regenerasi untuk menggantikan beliau nantinya.

Cucu saya yang masih kecil, Ganesa Maulana (7) ikut juga mengantarkan operasi, setelah selesai operasi saya tanya, ”Kalau besar nanti mau jadi apa?” Jawabnya, ”Bung akung, kalau besar nanti saya ingin jadi dokter seperti Dr. Terawan.” Dan ternyata Dr. Terawan juga pernah menangani tokoh-tokoh pemimpin kita, termasuk para Jenderal.

Namun Dr. Terawan dewasa ini menjadi top pembicaraan khususnya bagi yang mengalami gejala dan kena stroke. Untuk itu semoga pengabdian dan pengalamannya di beri rahmat dan ridho oleh Allah SWT. ”Selamat bertugas dok.” Karena saking sibuknya Dr. Terawan, begitu tanggal 7 Maret silam operasi saya, tanggal 10 Maret harus ke Beijing lagi.

http://www.poskotanews.com/2012/03/15/pengalaman-di-ruang-operasi-dr-terawan/

.

Pernahkah membaca BBM seperti ini….

Ada info dr teman….Jika ada keluarga yg kena stroke, segera berobat ke Dr. Terawan. Dia praktek di RSPAD pagi hari dan sorenya di RS Gading Pluit. Ada beritanya di majalah Tempo, dimana penyanyi Benny. Panjaitan berhasil sembuh dr strokenya. Barusan tadi jam 8 malam, om teman sy yg kena stroke juga berhasil sembuh dr strokenya.

Pengobatannya dikenal dgn nama BRAIN WASH.

Nama pengobatannya adalah cuci otak yg berbasis radiologi intervensi. Pengerjaannya menggunakan mesin canggih namanya digital traction angiogram.

Penyumbatan yg terjadi dipembuluh darah bisa di hilangkan shg pembuluh darah menjadi baik. Om teman sy tadi diambil tindakan hanya 20 menit, dia skrg bisa bicara dgn baik, tangannya sdh tdk kaku dan bsk sdh keluar RS dgn berjalan spt biasa. Nama dktrnya adalah Dr. Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Subroto. Ybs adalah dktr subspesialis radiologi intervensi. Info di Majalah Tempo edisi No. 4017, tgl 27 Juni – 3 Juli 2011, halaman 86. – mudah2n bermanfaat.

Ini bukanlah Hoax.. tetapi memang benar adanya. Karena Yo, suamiku sudah terjadwal untuk DSA Trombolisis pada akhir bulan nanti. Apakah aku tidak mau membagi informasi, tentu saja bukan..karena aku sendiri masih mencari dan mencari apa yang dimaksud dengan DSA trombolisis yang akan dijalani oleh YO diakhir bulan nanti.

Saat kemarin mondar-mandir di RSPAD untuk menemui dokter Terawan, menjalani MRI, mengecek jadwal dimana Yo bisa melakukan DSA yang seharusnya tanggal 22 besok, mundur seminggu karena kamar penuh. Saat aku menunggu surat untuk asuransi disiapakan oleh pak Wawan, dokter Terawan dan dr. Daniel masuk ke ruangan staff intervensi dan kami terlibat dalam obrolan yang menarik. Ada yang unik dari dokter ini. Selalu memotivasi dan selalu mengatakan tidak pernah ada kata terlambat. Berusaha dan berdoa, itu intinya. Dan dia mempercayai betul jika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai yang kita inginkan pasti ada sesuatu yang sedang disiapkan untuk kita. Jadi kita tak perlu marah atau menyesali.

Dokter Terawan juga dokter yang aneh. Dia mudah ditemui, tidak sombong dan penuh guyon. Untuk konsultasi saja kita tak pernah dikenakan biaya. Langsung saja ke ruangannya. Aku dulu bingung dengan kondisi seperti ini, kenapa pula dokter ini tidak mewajibkan kami daftar dulu dibawah sehingga kami tertib. Tapi kami dibebaskan masuk ke ruangannya. Kami memang harus sabar menungggu jika beliau sedang melakukan tindakan DSA ataupun taci.

Saat disana aku menyaksikan proses DSA (tace) seorang pasien yang menderita tumor dipipi. Ini adalah DSA yang ke enam. Dulu saat suaminya menjalani kemoterapi, badannya kurus dan tak bisa bekerja. Tapi setelah mengikuti DSA tumor tertangani, badan sudah tak kurus lagi dan sudah mampu bekerja bahkan menyetir mobil. Ada seorang ibu yang hampir lewat namun tertolong oleh proses DSA ini. Yang berhasil membawa temannya untuk mencoba intervensi radiologi. Ada yang berasal dari luar daerah, bahkan yang sudah berobat bolak balik di singapura malah mendapatkan kesembuhan dengan melakukan DSA. Pasien yang ada disini rata-rata adalah penderita stroke, jantung, kanker, tumor dan vertigo yang sudah parah. Aku juga mengetahuinya dari sahabatku dari Jogja yang ibunya telah melakukan DSA disini, dan sekarang kondisinya sudah banyak kemanjuannya.

Antar pasien yang satu dan yang lain juga terjalin ke akraban. Saling menceritakan pengalamannya sehingga saling menguatkan. Saling memberikan informasi. Tak ada yang kelihatan sombong, tak lagi melihat orang kaya dan bukan kaya. Sebuah pemandangan yang jarang dijumpai. Ada beberapa orang yang membawa kue, dan dinikmati oleh pasien lain yang sedang menunggu dokter Terawan selesai melakukan tindakan. Kita harus menjadi berkat untuk orang lain, begitu selalu dokter ini berkata.

Kami tertawa-tawa di ruang staff intervensi, mendengarkan cerita dan banyolannya. Saat aku kecewa mendengar penjelasan mengenai hasil MRI dia menguatkan, bahwa tak pernah ada kata terlambat. Ketika kutanya mengenai efek samping dengan santai dokter Daniel asistennya mengatakan..ada barang bapak yang ibu kasih ke orang lain tidak, kalau ada nanti jika ingat kembali bisa ditanya oleh bapak.. itulah efek sampingnya.. ahhhh.. jadi bingung aku jadinya… Disini isinya orang gemblung mbak.. pasti sebentar lagi ketularan.. begitu mereka berkata.

Dari sebuah bloga aku mendapatkan tulisan mengenai dokter Terawan..inilah pendapat orang mengenai dokter Terawan,

Minggu, 22 November 2009

http://astitbercerita.blogspot.com/2011/09/dr-terawan-rising-star-radiologi.html

About these ads

2 Trackbacks to “Ulasan MH65 – Pengalaman di Ruang Operasi Dr. Terawan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 237 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: