Dr-Eng Eniya Listiani Dewi, Mengubah Hidrogen Menjadi Listrik

“Fuel cell di perumahan bisa menghemat penggunaan energi sampai 80 persen,”

Jakarta - Listrik yang dihasilkan dengan tenaga uap, air dan bahan bakar minyak itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika energi untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan dari gas hidrogen?

Adalah Dr-Eng Eniya Listiani Dewi (36) yang mewujudkan rekayasa teknologi sel bahan
bakar (fuel cell), yakni sumber energi alternatif penghasil listrik yang ramah lingkungan, dengan hanya mereaksikan gas hidrogen dengan oksigen secara elektrokimia.

“Dari proses itu maka diperoleh listrik, panas dan air murni, tanpa suara, tanpa emisi dan fleksibel dengan berbagai macam ukuran sesuai kebutuhan,” kata Eniya, peraih Penghargaan Habibie Award 2010 di bidang Ilmu Rekayasa. 

Hal itu disampaikannya usai acara penyerahan Habibie Award di Hotel Sultan, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (30/11/2010).

Eni, sapaan akrabnya, awalnya tidak menyangka akan mendapatkan Habibie Award. Sebab, katanya, persyaratan untuk meraih penghargaan itu cukup sulit, disamping tentunya komitmen, dedikasi dan pencapaian.

“Habibie Award ini terkenal sulit ditembus,” kata ibu tiga anak itu.

Setelah mendapat penghargaan prestisius itu, Eni berharap bisa mengembangkan penemuannya itu hingga kemanfaatannya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebagai cita-cita awal, ia ingin sekali ilmunya mengubah hidrogen menjadi listrik diterapkan dalam sebuah perumahan.

“Fuel cell di perumahan bisa menghemat penggunaan energi sampai 80 persen,” kata peraih gelar doktor dari Universitas Waseda di Jepang ini.

Mengenai pengalaman terjun ke dunia sains, Eni mengaku karena ketidaksengajaan. Awalnya, saat mendapat beasiswa di Jepang, ia justru mengambil jurusan teknik informatika. Tapi melihat prestasi akademiknya, Eni justru diarahkan dosennya ke bidang kimia terapan, dan berlanjut hingga ia mendapat sejumlah penghargaan.

“Padahal saya dulu pernah membayangkan tidak mau pakai jas putih-putih di lab,” kata
peraih Mizuno Award dan Koukenkai Award di Jepang ini.

(lrn/vit)

.

Eniya Listiani, Ibu Tiga Anak yang Penelitian Langkanya Berbuah Habibie Award 2010

Sepanjang sejarah pemberian Habibie Award sejak 1999, perempuan ini adalah penerima termuda penghargaan bergengsi itu. Dia adalah Dr Eng Eniya Listiani Dewi. Karyanya pun tergolong langka, tentang fuel cell (sel bahan bakar) berbasis hidrogen untuk sumber energi baru yang ramah lingkungan.

=====================
SOFYAN HENDRA, Jakarta
=====================

DI Puri Ratna, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Eniya tak henti menebar senyum. Sejumlah kolega memberikan selamat. Para kerabat meminta dia berfoto bersama. Pose bersama mantan Presiden B.J. Habibie serta Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan A. Iskandar melengkapi kegembiraan Eniya sore itu (30/11).

Dia memang patut berbangga. Ibu kelahiran Magelang, 14 Juni 1974, tersebut baru saja menerima anugerah Habibie Award 2010 untuk bidang ilmu rekayasa. Itu sekaligus menjadikan dia sebagai peraih Habibie Award termuda sejak anugerah tahunan tersebut dihelat pada 1999.

Keesokan harinya (1/12), Jawa Pos menemui Eniya di tempat kerjanya, Kantor BPPT. “Itu menggembirakan sekali. Saya tak menyangka. Apalagi, penghargaan itu dulu diberikan kepada banyak profesor,” ungkap Eniya.

Tim juri Habibie Award memuji inovasi Eniya tentang fuel cell berbasis hidrogen untuk sumber energi baru yang ramah lingkungan. Dengan tangkas, Eniya mempresentasikan temuan-temuannya di depan undangan Habibie Award.

Riset Eniya dimulai dengan “ketidaksengajaan” eksperimen yang akhirnya malah menemukan katalis baru untuk sel bahan bakar. “Saat eksperimen, saya sering meninggalkannya waktu makan siang. Saya pikir tidak masalah. Ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda. Ternyata, perbedaan itu malah menjadi inovasi,” tutur istri Wahyu Widada tersebut.

Katalis baru temuan Eniya itu telah membuat terobosan zinc-air fuel cell (ZAFC). Yakni, suatu generator penghasil listrik berbahan bakar logam dan oksigen.

Hasil risetnya dipublikasikan di delapan jurnal internasional dalam waktu tiga tahun. Temuan tersebut lantas diakui dunia. Eniya mendapatkan penghargaan Mizuno Award dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada 2003.

Teknologi sel bahan bakar merupakan sumber energi alternatif penghasil listrik yang ramah lingkungan. Cara kerjanya, mereaksikan gas hidrogen dengan oksigen berdasar prinsip elektrokimia. “Hasilnya adalah listrik, panas, dan air murni. Tanpa suara, tanpa emisi, layaknya baterai atau aki,” tutur ibu Ibrahim Muhammad, Nashita Saaliha, dan Nashira Saaliha tersebut.
Fuel cell memang tidak meninggalkan emisi. Hasil buangnya hanya berupa air murni. Prinsip fuel cell mirip dengan baterai atau aki. Bedanya, energi baterai dan aki bisa “habis”, sedangkan energi fuel cell tidak akan habis asal diisi dengan bahan bakar. Sebagai bahan bakar, diisikan hidrogen, alkohol (metanol, etanol), dan hidrokarbon lain.

Penelitiannya di bidang fuel cell telah dipublikasikan di jurnal dan makalah internasional serta dalam negeri. Jumlahnya lebih dari 160 judul. Dia juga telah mematenkan temuan tersebut di enam hak kekayaan intelektual. Empat paten miliknya juga masih diproses.

Karya teranyarnya adalah ThamriON, yang baru saja mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. ThamriON merupakan membran sel bahan bakar dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, plastik bisa menghantarkan listrik.

Nama paten ThamriON punya sejarah unik. “Saya bekerja di Jalan M.H. Thamrin (Kantor BPPT, Red). Jadi, nama itu saya ambil. Kalau ON berasal dari kata ion. Sebab, plastik bisa menghasilkan ion,” terang dia.

Eniya mengembangkan sel bahan bakar dengan material lokal hingga 80 persen. Karena itu, biaya untuk menghasilkan produk tersebut lebih murah. Upaya Eniya itu mendapatkan anugerah PII-Engineering Award pada 2006. Salah satu pengembangan sel bahan bakarnya dibuat di BPPT dalam berbagai ukuran daya, mulai 5 hingga 1.000 watt.

Dengan proses manufaktur secara mandiri, sel tersebut bisa menyalakan perangkat elektronik, seperti televisi, laptop, lampu, dan radio. Ada pula yang dikembangkan untuk motor, yakni fuel cell berkapasitas 500 watt. Untuk lebih menghemat biaya produksi energi terbarukan, Eniya pun mengembangkan gas hidrogen dari limbah biomassa.

Dia punya impian bahwa setiap rumah bisa memiliki energi mandiri dari fuel cell. Selain lebih ramah lingkungan karena menggunakan energi terbarukan, fuel cell menghasilkan listrik yang lebih stabil. “Tidak akan ada lagi cerita pemadaman listrik,” ungkap Eniya.

Namun, dia mengakui bahwa mengembangkan energi terbarukan bukan persoalan gampang. Apalagi, selama ini memang acap terjadi kesenjangan antara temuan teknologi dan produksi masal perusahaan. “Ya, memang selama ini masih ada gap,” ucap dia. Apalagi, tambah dia, penggunaan energi seperti minyak bumi dan batu bara masih mendominasi.

Padahal, di negara-negara seperti Jepang dan kawasan Eropa, teknologi fuel cell terus dikembangkan. Di Jepang, kota hidrogen telah lama dirintis di Fukuoka. Meski demikian, teknologi fuel cell bukan berarti tanpa penerapan terkini. Eniya mengatakan, saat ini sejumlah menara telekomunikasi (BTS) sudah menggunakan teknologi fuel cell. Sebab, BTS harus menggunakan listrik berarus DC (searah).

“Listrik PLN kan AC (arus dua arah). Karena itu, harus digunakan inverter yang harganya malah lebih mahal,” lanjutnya. Dia menambahkan, setidaknya teknologi fuel cell bisa digunakan sebagai back up energi konvensional.

Lantas, mengapa tertarik mengembangkan fuel cell” Eniya menuturkan tertarik menggeluti hal yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan sejak duduk di bangku SMA. “Saya suka dengan kegiatan daur ulang. Membuat kompos dari sampah, misalnya,” ucap lulusan SMAN 1 Magelang pada 1992 tersebut.

Minat terhadap fuel cell lantas muncul setelah dia menempuh pendidikan program sarjana di Waseda University, Jepang. Dia mendapatkan beasiswa program sarjana science and technology advance industrial development (STAID) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Saat Habibie masih menjadi Menristek, beasiswa tersebut sangat bergengsi dan menjadi incaran banyak siswa SMA jurusan ilmu-ilmu eksakta.

Gelar S-1 dia raih pada 1998. Dia melanjutkan pendidikan ke jenjang master pada 2000 dengan beasiswa Iwaki Glass Industry. Selama program doktor, Eniya mendapatkan fellowship sebagai special researcher of young scientist for the promotion of science dari Japan Science Technology. “Itu fellowship terunggul. Dengan bimbingan profesor saya, saya makin tertarik untuk mengembangkan fuel cell,” tegas dia. (*)

sumber : http://www.jpnn.com/read/2010/12/03/78705/Eniya-Listiani,-Ibu-Tiga-Anak-yang-Penelitian-Langkanya-Berbuah-Habibie-Award-2010

.

Biografi Eniya Listiani Dewi

Dr Eng Eniya Listiani Dewi, B.Eng merupakan sosok rekayasawati muda Indonesia. Peneliti perempuan berkerudung dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 14 Juni 1974, sukses melakukan rekayasa teknologi sel bahan bakar (fuel cell) sebagai sumber energi alternatif masa depan yang bisa menghasilkan listrik. Karyanya yang telah mendapat pengakuan dunia, juga diganjar penghargaan ” Habibie Award 2010″ sebagai wanita termuda dalam sepanjang sejarah penerimaan Habibie Award sejak dilakukan tahun 1999.

Ketertarikan Eniya putri pertama dari pasangan Hariyono dan Sri Ningsih terhadap dunia teknologi dan lingkungan telah muncul saat ia masih mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan keinginanwanita yang hobi menulis tentang hal-hal yang berbau dunia sains dan lingkungan, ini untuk melanjutkan studi di luar negeri kian tertanam di dalam benaknya.

Hingga akhirnya, keberuntungan menghampiri dirinya, impiannya untuk sekolah di luar negeri akhirnya terwujud. Setelah lulus SMA I Negeri Magelang, ia memperoleh beasiswa yang kala itu sangat bergengsi, lewat program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) KeMenterian Negara Riset dan Teknologi, era 1990-an saat BJ Habibie menjabat sebagai Menristek.

Sebagai lulusan yang berprestasi di sekolahnya, istri dari Dr Wahyu Widada ini, akhirnya terpilih dan melanjutkan pendidikan S-1-nya di Universitas Waseda, Tokyo, Jepang. Pada awalnya ia mendaftar di jurusan teknik informatika. Melihat prestasi akademiknya, dosennya kemudian menyarankannya untuk mengambil bidang kimia terapan. Sejak saat itu, ia semakin bergelut dengan dunia sains.

Mulai dari S-1 hingga meraih gelar doktor, semuanya ditempuh di Fakultas Kimia Aplikasi Universitas Waseda dalam kurun waktu 10 tahun (1993-2003). Dan untuk mendukung biaya pendidikannya selama di negeri Sakura tersebut, ia juga memperoleh beasiswa dari Iwaki Glass Industry untuk meraih gelar masternya (S-2). Sedangkan untuk program doktor, Eniya mendapatkan fellowship sebagai special researcher of young scientist for the promotion of science dari Japan Science Technology.

Teknologi sel bahan bakar
Di tengah ke khawatiran dan ketergantungan dunia terhadap sumber energi fosil yang diperkirakan semakin menepis. Negara-negara di dunia berlomba melakukan inovasi untuk mengembangakan sumber energi sebagai alternatif pengganti energi di masa depan.

Tak terkecuali Indonesia, cadangan energi fosil juga diperkirakan semakin menipis.
Bila dibandingkan dengan cadangan energi perkapita dunia, cadangan energi Indonesia sangat kecil. Cadangan batubara per kapita hanya 43,3 ton per kapita, cadangan gas 11 ton per capital, dan untuk cadangan minyak hanya 2,7 ton dari cadangan energi dunia. Jika diserap sekaligus akan semakin lebih cepat habis.

Bahkan Bappenas dan Dana Moneter Internasional telah mengeluarkan peringatan bahwa minyak bumi Indonesia dalam waktu yang tidak lama lagi akan habis. Bappenas memperkirakan 14 tahun (2025), sementara IMF memperkirakan lebih cepat lagi menunjuk tahun 2020, sembilan tahun lagi. Sehingga pemanfaatan energi alternatif sudah menjadi prioritas.
Begitu juga dengan teknologi sel bahan bakar (fuel cell) berbasis hidrogen temuan ibu dari Ibrahim Muhammad, Nashita Saaliha, dan Nashira Saaliha yang mengaku menemukannya secara kebetulan.

“Saat eksperimen, saya sering meninggalkannya waktu makan siang. Saya pikir tidak masalah. Ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda. Ternyata, perbedaan itu malah menjadi inovasi,” katanya.

sumber : http://olalaolili.blogspot.com/2012/10/biografi-eniya-listiani-dewi.html

.

DR. Eniya Listiani Dewi dan Pak Dahlan

(Ahli Rekayasa Teknologi Sel Bahan Bakar & Hidrogen, peraih Habiebie Award dan peraih 18 penghargaan internasional)

“Saya kan kalau sedang eksperimen suka saya tinggal waktu makan siang. Saya pikir kan tidak masalah. Nah, waktu itu ketika saya melihat hasil eksperimen HP sy berbunyi. Sy angkat ternyata suara seorang Pria yang ngaku-ngaku Dahlan Iskan, sy kaget ternyata benar Pak Dahlan Iskan.

Singkat cerita obrolan menjadi panjang lebar, beliau Pak Dahlan Iskan sangat tertarik terhadap fuel cell yg sdg sy teliti, energi ramah lingkungan, energi terbarukan, batterai listrik, mobil listrik sampai listrik tenaga nuklir. Obrolan menjadi menarik karena seperti mengobrol dengan seorang professor yang mengerti tentang banyak hal. satu jam berlalu tidak terasa dan obrolanpun diakhiri dengan undangan beliau Pak Dahlan Iskan untuk membahas banyak hal di kantor kementrian BUMN.

Beberapa hari kemudian di Kementrian BUMN, sy semakin mengerti kapasitas dan kualitas seorang menteri yang sederhana ini. Beliau benar-benar mencurahkan seluruh pemikirannya untuk kemajuan Indonesia, beliau sungguh-sungguh ingin mengumpulkan semua potensi anaka bangsa yang berserak di negeri ini, beliau memiliki banyak rencana besar dan berhubungan dengan sy adalah tentang rencananya mendirikan pembangkit listrik tenaga nuklir reaksi fusi ramah lingkungan menggunakan reaktor tokamax berbahan deuterium garam laut dan litium, bukan menggunakan radio aktif lagi.

Termasuk sebuah tantangan yg diberikan kepada sy membuat fuel cell hydrogen untuk menjadi salah satu energi alternatif ramah lingkungan untuk mobil nasional.

Ketika obrolan selesai, sy melihat masih ada tamu lain dari kalangan peneliti yang menunggu giliran untuk berbincang dengan Pak Dahlan Iskan.
# Cerita ini dikutif langsung dari DR. Eniya Listiani Dewi dalam perjalan menuju UPN Jogja, kebetulan kami berdua menjadi pembicara dalam acara seminar tersebut.

sumber : https://www.facebook.com/groups/Demi.Indonesia/permalink/122090517951222/

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 232 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: