Setengah Jam Bersama Pak Dahlan Iskan

LUKITO EDI NUGROHO, 2 Maret  2012

Saya banyak membaca cerita tentang pak Dahlan Iskan. Tentang penampilannya, tentang gaya memimpinnya, dan tentang sepak terjangnya. Dan saya beruntung pagi tadi bisa menyaksikan sendiri tiga ciri khas pak DIS (begitulah beliau sering dipanggil).

Ceritanya dua hari kemarin saya ikut rombongan Fakultas Teknik yang ke Jakarta untuk sounding tentang pemikiran-pemikiran dan karya-karya yang telah dihasilkan untuk menyelesaikan sebagian persoalan energi di negara kita yang sedang ruwet ini. Salah satu agendanya adalah beraudiensi dengan Menteri BUMN di kantornya.

Singkat kata, rombongan 12 orang yang dipimpin pak Dekan berkunjung ke Kantor Kementrian BUMN. Setelah menunggu beberapa waktu di ruang transit, muncullah sesosok pria setengah baya, memakai baju lengan panjang putih yang digulung tangannya, dan bersepatu kets. Oh, ini dia pak DIS, batin saya. Saya tidak kaget karena sudah sering membaca cerita tentang penampilan pak DIS, tapi bagi orang yang belum pernah melihat, mungkin tidak percaya bahwa seorang menteri berpakaian seperti halnya staf biasa, tanpa formalitas apapun.

Setelah dipersilakan duduk, kamipun mulai bertukar pembicaraan. Pak DIS mulai bercerita tentang ide-idenya yang terkait dengan penghematan energi dan pemanfaatan energi terbarukan, khususnya energi surya. Pak Dekanpun membalas dengan bercerita tentang apa yang sudah dikerjakan oleh Fakultas Teknik UGM.

Banyak yang saling diceritakan, sampai pada topik tentang konverter BBM ke BBG. Kebetulan Fakultas Teknik telah melakukan pengembangan konverter semacam itu, dan pak Jayan (dosen Jurusan Teknik Mesin & Industri) langsung bercerita panjang lebar tentang isu-isu penting dari konverter semacam itu. Pak DIS tertarik, lalu langsung menantang pak Jayan, beranikah mencoba mengembangkan konverter itu sampai pada skala industri. Kebetulan pak Jayan ini orangnya suka tantangan dan suka spontanitas. Dia menjawab,”Sanggup pak, asal didukung oleh fasilitas injection mold”.

Nah di sini saya mulai memahami kenapa banyak orang kagum dengan pak DIS: kecepatannya bereaksi dan menanggapi secara nyata. Beliau langsung tanya ke Sekprinya: siapa BUMN yang kira-kira bisa diassign tugas untuk bikin injection mold. Dijawab: PT INTI. Langsung saat itu pula pak DIS menelpon Dirut PT INTI dan menyampaikan keinginannya. Saat ditanya oleh Dirut PT INTI tentang detilnya, pak DIS agak bingung, lalu langsung bilang,”Ini ada dosen UGM yang ngerti detilnya, silakan ngomong langsung dengan dia..”, lalu hp beliau langsung diberikan ke pak Jayan.

Kami semua tertawa melihat situasi itu…mana pernah ada menteri berkomunikasi dengan dosen muda dengan gaya seperti itu… Dan diakhir pembicaraan antara pak DIS dan Dirut PT INTI, pak DIS bilang,”Tolong segera disiapkan. Kalau misalkan pak Irfan kesulitan, tolong kabari saya secepatnya. Saya akan cari orang lain kalau anda tidak bisa.” Jelas sekali messagenya: PT INTI harus bisa, dan ini perintah menteri, bukan permintaan dosen UGM.

Sebuah keputusan penting telah dibuat hanya dalam waktu kira-kira 5 menit saja.

Lalu pembicaraanpun berkembang ke penggunaan konverter untuk keperluan lain, misalnya untuk kapal. Waktu ditanya kemungkinannya apakah bisa dipasang ke kapal, pak Jayan bilang, intinya bisa, tetapi harus dilihat spec mesinnya dulu. Saat itu juga pak DIS bilang,”Oke mas, anda pergi ke galangan kapal PT IKI di Makassar, lalu anda lihat sendiri di sana.” Lalu beliau bilang ke Sekprinya,”Tolong belikan tiket ke Makassar untuk mas dosen ini.”

Kami semua agak tergagap mengikuti proses yang begitu cepat ini. Belum pernah saya menjumpai proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara cepat tanpa basa-basi dan melalui proses berpikir yang berkepanjangan (apalagi berwacana).

Cepat dan tegas dalam memutuskan. Itu hal penting yang saya pelajari dari pak DIS tadi pagi. Banyak di antara kita yang dalam memutuskan sesuatu sering dihadapkan pada keraguan. Keraguan itu muncul utamanya karena kita takut salah. Memang resiko kesalahan itu selalu ada, dan itu akan membawa efek negatif. Tetapi menunda keputusan juga pasti ada efek negatifnya. Dan pak DIS lebih memilih untuk mengambil keputusan dengan cepat. Saya tidak tahu pertimbangannya, tetapi mungkin beliau berpikir, lebih baik cepat, karena kalaupun salah, masih ada waktu untuk mengoreksinya, dan jika benar, waktu yang tersedia bisa digunakan untuk mengerjakan hal-hal lain.

Hal lain yang saya temukan dari pak DIS adalah penguasaannya terhadap bidang kerja yang luar biasa. Pak DIS seolah tahu tiap detil dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi tiap BUMN yang dinaungi kementriannya. Meski demikian, saya tidak heran karena hobby beliau adalah turun langsung ke lapangan dan menginvestigasi kondisi riil yang ada.

Dengan pengetahuan lapangan yang sangat baik, maka beliau tidak mudah untuk dibodohi oleh siapapun. Yang lebih penting lagi, beliau bisa memainkan peran “synchronizer” dan “resource allocator” secara harmonis. Kelemahan di satu sektor bisa dilengkapi oleh sektor yang lain. Atau satu persoalan yang tidak mungkin diselesaikan oleh satu BUMN sendirian, menjadi mudah jika dikeroyok oleh 2-3 BUMN (baca tulisan beliau tentang strategi kaset seribu tiga). Pak DIS tadi mencontohkan, misalnya pembangunan jaringan pipa gas trans-Jawa yang bisa diakselerasi dengan memanfaatkan lahan PT KAI (jadi tidak perlu melakukan pembebasan tanah).

Yang terakhir ini yang menurut saya kurang dipraktekkan oleh banyak pemimpin kita. Seorang pemimpin punya kewenangan, termasuk untuk mengatur semua komponen yang dipimpinnya, agar secara harmonis bersinkronisasi mengatasi problem-problem yang ada.

Peran sebagai synchronizer ini memerlukan dua syarat penting:

1) pemahaman dan pengetahuan riil tentang kondisi dan problem, dan

2) kemampuan untuk mengkomposisi/mengorkestrasi potensi berbagai komponen tadi untuk menghasilkan sebuah solusi yang efektif. Butir pertama berguna membangun perspektif yang komprehensif terhadap situasi yang dihadapi, yang kemudian menjadi landasan untuk melakukan butir kedua. Intinya: sebuah solusi yang baik tidak akan muncul jika pemimpin hanya duduk menunggu di belakang meja.

Sebuah solusi tidak akan lengkap kalau pemimpin tidak bisa mengkonsolidasikan dan mengkoordinasikan segenap komponen yang dipimpinnya.

Terus terang saya belum melihat secara nyata hasil karya dari pak DIS. Mungkin memang perlu waktu yang cukup panjang untuk bisa menikmati hasilnya. Tapi saat ini pak DIS telah menunjukkan kepada kita semua, apa yang seharusnya dikerjakan. Kata kuncinya: pemahaman/pengetahuan riil yang lengkap, orkestrasi resource/potensi untuk membangun solusi, dan diakhiri dengan kecepatan dan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Sebagai catatan akhir, meskipun banyak orang mengharapkan pak DIS bisa jadi Presiden RI kelak, tapi secara pribadi saya kurang setuju. Untuk saat ini, dalam keadaan bangsa yang memerlukan kerja-kerja yang nyata, pak DIS masih sangat diperlukan pada level strategis-taktis, agar sektor-sektor riil benar-benar dapat bergerak. Presiden adalah posisi yang sangat politis. Belum tentu gaya pak DIS cocok. Politik itu kejam, dan saya tidak ingin pak DIS menjadi korban kekejamannya…

sumber : http://www.facebook.com/notes/lukito-edi-nugroho/setengah-jam-bersama-pak-dahlan-iskan/10150639837523934

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 233 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: