Kisah Dahlan Iskan, Cangkok Hati dan Taruhan Mati

“Jika kurun waktu tersebut terlewati maka Insya Allah saya selamat.” 

TEMPO.COJakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan ternyata sedang deg-degan jika diingatkan soal cangkok hati yang pernah dijalaninya. Soalnya, genap 6 Agustus 2012 mendatang, genap 5 tahun ia menjalani masa cangkok hati. Masa 5 tahun itu, adalah masa penentuan.
“Ini masa kritis.” kata Dahlan di Istora Senayan, Rabu 29 Februari 2012. ” Jika kurun waktu tersebut terlewati maka Insya Allah saya selamat.”

Dahlan ada di Istora Senayan untuk menghadiri peluncuran tiga bukunya. Salah satu yang diluncurkan adalah buku “Cangkok Hati: Tantangan Menjadi Menteri”.

Di buku itu, Dahlan mengisahkan soal operasi cangkok hati yang dijalaninya. Pun juga kisah Dahlan memberi pertolongan kepada seorang kenalan untuk menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Singapura.

“Saya memberi jaminan kepada pihak rumah sakit untuk operasi tersebut. Operasi berlangsung lancar, namun tidak lama kenalan saya itu akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.

Dahlan memberikan gambaran bahwa transplantasi hati bagi seseorang hanya sebuah jalan, namun tetap takdir yang menentukan.”Untuk itu saya bersyukur mendapatkan berkah dan bisa bertahan hingga saat ini,” ujarnya.

Menurut pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini, kunci dirinya bisa bertahan adalah disiplin.”Saya disiplin karena taruhannya mati. Sesuatu yang taruhannya mati akan membuat seseorang tingkat disiplinnya meningkat,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dahlan juga membuka rahasia bisa bertahan, yaitu tetap bekerja keras, berolahraga dan tidak lupa minum obat.

“Obat yang saya konsumsi tiga kali sehari bukanlah untuk menyembuhkan, tetapi hanya alat untuk mempertahankan agar hati yang dicangkok tetap terkoneksi dengan tubuh saya,” ujarnya.

Ia berseloroh, ibarat komputer, obat itu hanya semacam konektor dari komputer Apple ke Microsoft.

“Jika ada penolakan, maka bisa saja sewaktu-waktu terjadi diskoneksi. Ini yang harus tetap dijaga dengan konsumsi obat yang dosisnya makin lama sudah semakin kecil,” ujarnya.

WDA | ANT

 

sumber : tempo.co

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 232 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: